Siang itu, 4 – 5 tahun yg lalu, saya lupa tepatnya, didalam sebuah kamar yg gelap karna satu-satunya sumber cahaya tanpa lampu adalah sebuah jendela kaca kecil buram berukuran tidak lebih besar dari lebar badan anak kecil berusia 10 tahun, terjadi curhat antara seorang laki-laki dg sahabatnya.
Laki-laki itu berambut cepak, berperawakan seperti anggota satuan brimob berpangkat prajurit satu, yg karna seringnya berlatih dan dijemur akan sangat sulit dikenali (baca: dilihat) dalam ruangan gelap itu. Sedangkan sang sahabat, sebaliknya berperawakan kecil sedikit bungkuk karna kurus (maklum anak kost), dg rambut yg tipis-kriwil, kulitnya yg putih membuatnya tampak pucat.
Sahabat: Jo, mmmm kamu…emmm, (tampak ragu dia)
Jo: ada afa? Sambil ngelus2 jengot yg Cuma 11 gelintirs
Sahabat: mmmm, menurutmu jiwa itu berkelamin gak?
Jo: Waks, (setengah melompat)…maksutmu ada jiwa laki laki dan ada jiwa perempuan gitu? Ntar…ntar… maksut mu apa nanya gitu?
Sahabat: (tertunduk) aku masih ingat, waktu kecil, kira2 umur 5 – 6 tahun, aku selalu malu dan canggung saat mandi di sungai atau kolam bersama teman2ku. Entah…aku juga gak tau kenapa aku merasakan demikian, sebaliknya aku sama sekali ndak malu dan canggung klo disitu ada anak2 perempuan, bahkan kami sama2 telanjang bulat.
Saat SMA aku menyadari bahwa aku tertarik bukan pada lawan jenisku. Aku homo…Jo!
Aku sudah coba, coba untuk menyukai perempuan, bahkan yg paling cantik pun tidak membuatku bergeming.
Jo: …
Sahabat: Aku merasa terjebak dalam tubuh yg salah Jo! Jiwaku tidak seharusnya ada dalam tubuh ini!
Jo: …
Sahabat: Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kanapa kami dihukum, banyak ‘teman2’ ku yg berakhir di tiang gantungan (mengusap air mata). Kalian tidak mengerti kami!!!, kalian tidak tau yg kami rasakan!!!, Karna kalian BUKAN kami!!! Kenapa kami dihukum atas sesuatu yg tidak kami lakukan…?!!!
Tags: bertanya





April 4, 2008 pada 2:46 am
pertamaaaaaaaax…..!!!
*nah skarang baru mulai baca*
April 4, 2008 pada 2:49 am
Si Jo diem aja lagi. Temennya sampe histeris begitu..
Jiwa itu berkelamin, Bro. Kalo ga ya ga akan ada lelaki dan perempuan.
April 4, 2008 pada 2:57 am
keduaaaaax…..!!!
hmmm, kalo saya cenderung pengennya bertelanjang bareng bersama perempuan,mengumbar syahwat!!!
April 4, 2008 pada 2:58 am
entahlah…
saya merasa beruntung karena diberi kesempatan untuk menikmati perbedaan kelamin
April 4, 2008 pada 3:18 am
Di sebuah buku yg saya baca, dijelaskan bahwa umumnya homosexualitas disebabkan oleh faktor genetik, yg mana bagian otak yg menentukan orientasi seksual kekurangan hormon testosteron sehingga menyebabkannya menjadi gay (pada kasus lesbian, bagian otak ini terlalu banyak hormon testosteronnya)…
jadi semestinya kita jangan lantas menvonis mereka sebagai pendosa, melainkan sebagai orang yg kurang beruntung….
April 4, 2008 pada 3:35 am
tak ada seorang pun yang kepingin memiliki kelainan2 seksual, termasuk sahabat mas joyo itu. namun, agaknya perjalanan hidup setiap orang beda2 kok. oleh karena itu, saudara2 kita yang kebetulan memiliki kelainan semacam itu butuh kita dampingi dan berikan kekuatan moral. *halah sok tahu*
April 4, 2008 pada 4:04 am
Sepertinya Jiwa ndak ada klaminnya sih . Tapi entar saya cek dulu, biar pasti.
April 4, 2008 pada 4:05 am
tapi saya mo nanya dulu, ini jiwa samadengan roh nggak bro?
April 4, 2008 pada 4:16 am
assalamualaikum..
homo!?!
*mrinding bulu kuduk saya*
eh iya yah..
jiwa berkelamin g yah?
*ngikut nyari*
April 4, 2008 pada 4:38 am
Kalo ama perempuan gak canggung berarti dia bisa suka ce juga kayaknya…… Teman gw tuh karena saking homonya kalo liat ce bugil jadi jijik katanya… apalagi sampe megang2… hahaha….
April 4, 2008 pada 4:41 am
Jadi siapa yang harusnya disalahkan? Tuhan?
Hhhh.. lagi-lagi Tuhan, kasihan Dia, disalahkan terus..
April 4, 2008 pada 5:14 am
::sepertinya tidak setiap lelaki homo, menjadi homo karena terlahir, demikian juga wanita lesbi, jadi…
terserah kamu, sekarang yg merasa laki, coba bangun image diri menjadi wanita secara total…lalu nikmati hubungan sejenis… akan langsung dirasakan efek yang luar biasa.. 
joyo.. homo…
hah…
April 4, 2008 pada 5:50 am
setuju ma Mas Tito..
kita sudah saatnya terbuka. tidak memvonis.
April 4, 2008 pada 5:52 am
KLASIFIKASI
——————————–
Co suka ce = co heterosex
{
maskulin-> co hetero
feminin -> banci heterosex
}
——————————
Co suka co = homosex
{
maskulin-> co homosex
feminin-> banci homosex
}
——————————
Co suka co & ce = bisex
{
maskulin-> co bisex
feminin-> banci bisex
}
——————————
Hayo pada setuju gak???
April 4, 2008 pada 6:44 am
idih… Mas Joyo Homo.

hus… hus… jauh2..
ga penting kelaminnya. Yang penting kasih sayang. wkwkekeke…
Tapi sejauh pengalaman saya berintraksi dengan mereka yang homoseksual. Mereka masih terjebak dalam kenikmatan materi, bahwa yang ‘gede’ itu lebih enak.
Soal jiwa kah itu?
April 4, 2008 pada 6:46 am
@viar
selamat anda dapat payung cantik
@calonorangtenarsedunia
weh yg bener sis?, sptnya topik ini banyak di bahas di psychology, coba dijelaskan
@ojie
wooo dasar pedophilia
@edy
syukur, ternyata ke’normal’an itu patut sekali di syukuri, kapan makan2 syukurannya?
@tito
hmmm sepertinya ada aturan di kitab suci agama yg tidak mengijinkan keberadaan mereka, jadi gimana ni? apa aturan kitab itu yg kita revisi aj?, wong kenyataannya homoseksualitas itu alami.
@sawali tuhusetya
betul pak, setelah saya coba pahami, bunyi ayat kitab suci yg menyatkan bahwa kita ini diciptakan berpasang2an itu ternyata bukan berpasangan dua2 beda jenis, tapi berpasangan batin, berpasangan dalam persahabatan, saling mengasihi dan menjaga. (tidak peduli jenis kelaminnya apa, atau bahkan jenis speciesnya apa)
@danalingga
roh dan jiwa?? apa bedanya?? entahlah bro ada yg bilang sama ada juga yg bilang beda, ada juga yg bilang keduanya gak ada.
@syahbal
cari di kitab gih
nanti klo dah ketemu saya dikasih tau
@hamuro
ada kadarnya juga ya…?
@nazieb
yaaaah…siapa lagi bro, Beliau kan yg diklaim menciptakan kita semua
@zal
weh bukan saya Pak De, saya laki tulen, dah terbukti lagi
@euji
ya seharusnya seperti itu
@hamuro
weh sintaks apa ini ?
@norie
jiwa dan fisik, dua2nya mungkin saling mempengaruhi, mana yg dulu saya juga ndak tau,
apakah rasa termasuk jiwa atau fisik?
April 4, 2008 pada 7:28 am
salam
Menarik nih …*senyam senyum” menurut gw, menjadi homo adalah pilihan, sama sekali bkn takdir so yang namanya pilihan kan terserah but resikonya tanggung sendiri, setiap orang nuraninya pasti faham kok mana bener mana salah *halah sok tahu gw*
lam kenal
( http://nenyok.wordpress.com )
April 4, 2008 pada 8:31 am
Jadi ingat serial postingan saya — http://erander.wordpress.com/2008/03/13/jiwa-kemana/ — tentang jiwa.
April 4, 2008 pada 9:42 am
ehmmmm……”didalam sebuah kamar yg gelap karna satu-satunya sumber cahaya tanpa lampu adalah sebuah jendela kaca kecil buram berukuran tidak lebih besar dari lebar badan anak kecil berusia 10 tahun, terjadi curhat antara seorang laki-laki dg sahabatnya.” kejadiannya bukan di kamar mandi kan
he..he..he..
April 4, 2008 pada 10:51 am
April 4, 2008 pada 1:16 pm
Jo, anakmu Gaia kok sama sekali gak ada mirip-miripnya sama kamu hahahaha….. Gw udah mikirin ini sejak lama…. tp baru kali ini dapat momen yang tepat buat ngungkapin…hahahaha…..
April 4, 2008 pada 1:45 pm
pilihan hidup memang terasa berat , namun bukan alasan untuk menyalahkan jiwa yang salah tempat . apapun yang dipilih komitmenlah . karena hidup adalah jiwa yang hidup , serahkan lah pada Tuhan , niscaya bertemu apa yang dicari
April 4, 2008 pada 4:29 pm
Lah..wis weruh nek Menunso diciptakan pasang-pasangan ngono kok Kang. Nek ono BARANG sing SUWEK mesti ono pasangane BARANG sing NYURUNG….
ONO SEWEK yoh mesti ono SARUNG.
Lah…saiki opo bedone SEWEK karo SARUNG Kang…??
Kabuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr….keburu disunat Kang Joyo
April 4, 2008 pada 6:47 pm
dalam mencari “kelaminnya” kadang manusia terlalu lemah untuk menemukannya.
tetaplah selalu dijalanNya, mudah-mudahan ini semakin menguatkan jati diri kelaminmu
April 4, 2008 pada 7:13 pm
Jadi homok beragama memang serba salah, bro..
Mo nggak nurutin nafsu takut masuk surga, kemudian di kerubutin 70ribu bidadari.. Ih, jijay nek..
Tapi mo nurutin nafsu juga takut masup neraka dan disiksa selama-lamanya..
kecuali kalo memang tuhan nyediain bidadagay.. Tp keknya tuhan ga mungkin secerdas itu deh..
*lari sebelum di halalkan darahnya*
April 5, 2008 pada 2:36 am
itu suatu penyakit dan perlu di obati…
April 5, 2008 pada 2:59 am
menurut saya, orang menjadi homo karena tidak mampu mengendalikan diri… tidak ada upaya untuk meluruskan kembali apa yang mulai bengkok..
April 7, 2008 pada 7:38 am
kalau nggak salah sih jiwa itu ditiupkan ketika kandungan berumur 4 bulan 10 hari, waktu itu tubuh bayi yang ada di kandungan sepertinya belum terbentuk dengan benar jadi belum ada jenis kelaminnya. jadi jiwa yang datang belakangan saya rasa tak punya jenis kelamin.
kalau soal homo dan gay saya nggak tau bro, karna nggak pernah ngerasaain dan nggak pengen.
apa enaknya adu pedang
huhuhuhu
April 7, 2008 pada 9:44 am
Sebagian keadaaan mental, normal atau tidak, telah lama dianggap sebagai gejala psikologis karena kita belum mampu memahami biologinya. Kita cuma tidak punya informasi atau kemampuan untuk turut campur dalam sebuah penyakit otak yang manisfestasi utamanya adalah gejala psikologis. Namun teknik riset neurologi semakin maju. Kini kita dapat mengetahui paling tidak sedikit mengenai mekanisme2 tertentu, hingga taraf molekul, yang memainkan peran dalam banyak keadaan yang sebelumnya di anggap murni psikologis. Walau riset2 seperti ini telah memberikan banyak manfaat, kita masih jauh dari memiliki cetak biru mengenai beragam penyebab dari keadaan psikologis tertentu.
Homoseksual adalah sesuatu yang multi faktor. Dengan demikian ada tiga kemungkinan:
1. Homoseksual murni genetik
2. Homoseksual murni psikologis
3. Campuran antara psikologis dan genetik
Saat ini sains mengambil posisi ketiga.
April 7, 2008 pada 12:18 pm
Pendidikan yang salah…..
Coba dia diarahkan atau dididik dengan “benar”.
April 7, 2008 pada 2:47 pm
@nenyok
hmmm saya rasa manjadi homo/lesbi bukan pilihan, bisakah anda menjadi homo atau lesbi?
membayangkan pun saya ndak bisa
@erander
iya pak mirip2
@landy
sial, itukan cuma biar agak dramatis, jngan dipolitisir dong
@edy
arrrghhh, bukan saya
@hamuro
ben, sak karepe
@realylife
saya kira jadi homo/lesbi bukan pilihan, dan salahkan lah mereka yg mengucilkan mereka
@santri gundhul
ngejar pak De sambil nenteng2 bendho
@mybenjeng
ya ya, menguatkan kelamin
@zink
homok dilarang beragama
@dobelden
itu menurt mereka yg normal
@deteksi
klo secara alami memang bengkong, biarlah ia tetap bengkok, ‘meluruskan’nya malah bisa merusak
@bedh
ah itu salah
@daeng fattah
ya, tak kira masalah homo2an ini harus diliat kasus per kasus, ada yg genetik ada juga yg psikologis dan ada juga yg campuran keduanya. untuk kasus sahabat saya ini, sejak kecil dia sudah merasa canggung dg kawan yg sejenis, saya kira dia masuk pada kategori genetis.
@jems
tanyakan ibunya ivan gunawan, bagaimana ia mendidik anaknya
April 8, 2008 pada 9:32 am
saya homo tapi saya gak suka laki-laki
April 10, 2008 pada 4:39 pm
Duh saya agak tidak mengerti jika membicarakan soal jenis kelamin
April 11, 2008 pada 9:30 am
loh…loh…Kang Joyo,
Katanya neh…kelak di SURGA ada BIDADARI yang selalu PERAWAN. Jadi…..??? BERKELAMINKAH JIWA…..
Lah terus….nanti yg Ibu-Ibu…dijagongi sopo…?? wong gak ada BIDADARA jeh….
Saya khawatir saja jangan-jangan nanti Ibu-ibu ngadain DEMO di SURGA…..halah…
Nggelesod….NGELONI WIDODARI….
April 11, 2008 pada 6:03 pm
berjenis kelaminkah jiwa………….?
tunggu….semua pasien di Rumah Sakit Jiwa memiliki jenis kelamin. Semua yang berkelamin memiliki Jiwa….jika jiwa bisa berkelamin ….berarti jiwa juga bisa beranak pinak sebelum masuk kedalam tubuh.
Lalu apakah jiwa juga mengalami orgasme….?
wah…..kayaknya saya bakal korsluit kalau terlalu dalam.
April 12, 2008 pada 8:42 pm
Homoseks itu bukan penyakit. Tapi kalau soal apakah jiwa itu berjenis kelamin, saya malah nggak tau. Apakah itu sama dengan : apakah Tuhan berjenis kelamin ?
April 15, 2008 pada 8:30 pm
Kalau Saudara percaya bahwa manusia diturunkan ke bumi untuk menjalankan ujian Tuhan, bacalah penjelasan di bawah ini, kalau tidak janganlah dibaca.
Kenyataaan di dunia yang dihadapi manusia :
1. Tidak bisa pilih2 tubuh manakala turun ke bumi (lahir).
2. Di dalam tubuh ada jiwa yang memiliki 2 potensi yang bertolak belakang , masing2 berusaha saling mempengaruhi si kusir.
3. Kendala genetik yang diturunkan dari orang tua.
4. Ada tukang gosok 1 yang mengarahkan ke potensi yang buruk.
5. Ada tukang gosok 2 yang mengarahkan ke potensi yang baik.
6. Ada teman setia yang selalu mengarahkan jalan hidup kita sesuai dengan alur cerita Dalang.
Sekarang tinggal si kusir mau milih mau apa dengan kenyataan tersebut?
Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kebenaran yang lebih baik daripada hal tersebut di atas. Amin.
April 19, 2008 pada 2:13 am
Berat …memang berat…
sekuat apa pun tubuh kita, tetap tidak akan bisa menahan NAFSU yang besarnya melebihi jiwa raga kita.
Kecuali di laparin (puasa) baru tuh nafsu bisa tunduk
tulisannya menarik…slm knl^^
April 19, 2008 pada 4:14 am
@ Jomo
Joyo deng
Mau homo silahkan
Mau lesbi silahkan
Mau dobel silahkan
asal jangan ganggu ganggu saia …
April 20, 2008 pada 3:09 pm
@joyo
pertanyaannya tidak relevan mas joyo. implikasinya apa, kalo ternyata jiwa berkelamin atau tidak? apakah bila jiwa ternyata berkelamin, kita bisa memberi justifikasi/kompensasi bagi para homoseksual, untuk tetap menjadi homo dan beragama?
April 21, 2008 pada 6:01 pm
yah…begitulah hidup. Kalo cuma laki sama perempuan aja dunia ga akan jadi berpelangi. Ada gay, ada lesbian, ada pedo, ada sado, ada macem2….merasa dihukum atas sesuatu yang tidak kita lakukan? janganlah berpikir seperti itu. Merasa beruntunglah, dan tariklah segala keberuntungan untuk diri kita….
April 24, 2008 pada 12:43 pm
sepengetahuanku tentang jiwa itu adalah
ada jiwa pejuang
ada jiwa pancasilais sejati
ada jiwa patriot sejati
kalau teantang jenis kelamin itu yang ditanya adalah
orang itu perempuan atau laki-laki
Kalau dari biologis alat perkembangbiakan manusia itu awalnya sama, tapi karena pengaruh hormon, ada yang berkembang menjadi rahim, ada yang berkembang menjadi kantung pelir, sedangkan ‘burungnya’ ada yang jadi clitoris ada yang jadi penis. ada juga yang secara genetis terganggu perkembanganya sehingga menjadi samar.
kalau begitu boleh memlih antara wanita atau pria.
sedangkan tentang homo atau lesbian itu termasuk hasrat seksual.
Kalau mengikuti ajakan syaiton ya jadinya kayak kaummnya luth, jadi homo atau lesbi. meskipun itu dibilang ham ya tetap aja penyimpangan..
April 28, 2008 pada 2:09 pm
Homoseksualitas setahu saya bukanlah ‘penyimpangan’ yang terlalu ‘menyimpang’ seperti yang digadang-gadangkan orang. Di dunia binatang, ratusan spesies, termasuk lumba-lumba, kelelawar, kadal, penguin, dan lain-lain telah ditemukan elemen-elemen homoseksualitas.
Jadi retoris “homoseksualitas itu merupakan penyimpangan karena tidak alami” sebenarnya tidak tepat.
Soal jiwa… Saya tidak tahu. Apa jiwa itu ada?
April 29, 2008 pada 11:30 am
@Kopral Geddoe
“homoseksualitas itu merupakan penyimpangan karena tidak alami” sebenarnya tidak tepat.
Yang tepat apa?
homoseksualitas adalah perbuatan laknat yang berdosa besar, ganjarannya adalah masuk neraka jahanam.
Joyo jangan menjawab ” biarlah aku membusuk di neraka”
April 29, 2008 pada 1:20 pm
@ kenthir
Yang tepat, “penyimpangan yang alami”? Sebab seperti yang saya jabarkan, di dunia binatang pun hal ini terjadi.
Silakan mempercayai demikian.
Nah, justru karena ganjarannya sedemikian berat di alam sana, maka saya rasa sebaiknya anda biarkan saja mereka hidup dengan tenang di dunia ini.
April 29, 2008 pada 4:55 pm
dari dulu juga Jiwa itu laki-laki.
wong dulu aku sering mandi bareng koq sama dia di kali..
Mei 5, 2008 pada 4:31 pm
@Kopral Geddoe
Lho kapan saya “mengganggu” mereka. Nabi Luth sendiri “hanya” menyerukan untuk kembali beriman/normal. Masalah ketenangan hidup mereka itu sih bukan termasuk kapasitas saya. Mereka mungkin setres atau depresi sendiri. Mencari ketenangan lewat agama tentunya tidak ada pembenaran atas perbuatan homoseks tersebut. Yang jadi masalah mungkin kalau kaum homoseks mencari justifikasi agama untuk membenarkan perbuatan mereka, dan teriak-teriak agama xyz tidak sesuai ham karena tidak membenarkan perbuatan mereka. dan biasanya menyalahkan Tuhan.
Mei 14, 2008 pada 3:05 am
sebenarnyahmm.. Kok critanya ga dilanjutkan Oom?? Kemudian apa yg terjadi??ato sengaja ga ditulis krn Oom
takutga mau berbohong?soal jiwa..
hmm… menurutku kok sulit ya klo ditentukan “jenis kelamin” nya menurut aturan kita.. Secara kita cuma punya 2 jenis kelamin, jantan dan betina..
ya meski pada beberapa bokep ada juga yang berkelamin ganda sih..hehehe..klo boleh sharing pemahamanku yang “ngawur” dan ga mengikuti kaidah “budaya beragama”, saya deskripsikan si jiwa ini berjenis kelamin ‘XXX’
ngomong soal ginian sih.. Jadi hot dehsaja, jadi jiwa berjenis kelamin tunggal ato Eka ato Esayayangato tak ada duanya..sebentar… Saya ndak tertarik berdebat soal keyakinan, lha saya lho bisa jadi ga normal
jika menurut anda begitudan juga sebaliknya.“jiwa manusia” bukan apa yang kita kenal sebagai “manusia” seutuhnya.. Dimana ada komponen yang namanya jasad ini, yang katanya dan menurut isu-isu yang beredar merupakan tempat yang ‘disemayami’ oleh jiwa itu tadi.
nah.. Karena semua jiwa ini sejenis, jangan anggap mereka bakal ber-homo-sex ria.. Jiwa ga butuh itu kok kayaknya.. Secara yang butuh itu mungkin
sebenarnyajasad kita yang dikaruniai (maap) penis dan vagina.namun.. Menurut saya, jiwa ini juga punya pasangan kok, yaitu… (ah ga jadi tx sebutin ah).
sebenarnya yang benar itu yang ga memiliki nilai dualitas lagidooh.. Udah ah sampe sini aja komen nya, daripada ngelantur.. :p
maap ya Oom joyo..
Mei 14, 2008 pada 3:07 am
Aaaarggh… Gara2 komen dari ponsel jadi kecoret semua..
tx fix dulu dah..
Mei 14, 2008 pada 3:10 am
sebenarnyahmm.. Kok critanya ga dilanjutkan Oom?? Kemudian apa yg terjadi??ato sengaja ga ditulis krn Oom
takutga mau berbohong?soal jiwa..
hmm… menurutku kok sulit ya klo ditentukan “jenis kelamin” nya menurut aturan kita.. Secara kita cuma punya 2 jenis kelamin, jantan dan betina..
ya meski pada beberapa bokep ada juga yang berkelamin ganda sih..hehehe..klo boleh sharing pemahamanku yang “ngawur” dan ga mengikuti kaidah “budaya beragama”, saya deskripsikan si jiwa ini berjenis kelamin ‘XXX’
ngomong soal ginian sih.. Jadi hot dehsaja, jadi jiwa berjenis kelamin tunggal ato Eka ato Esayayangato tak ada duanya..sebentar… Saya ndak tertarik berdebat soal keyakinan, lha saya lho bisa jadi ga normal
jika menurut anda begitudan juga sebaliknya.“jiwa manusia” bukan apa yang kita kenal sebagai “manusia” seutuhnya.. Dimana ada komponen yang namanya jasad ini, yang katanya dan menurut isu-isu yang beredar merupakan tempat yang ‘disemayami’ oleh jiwa itu tadi.
nah.. Karena semua jiwa ini sejenis, jangan anggap mereka bakal ber-homo-sex ria.. Jiwa ga butuh itu kok kayaknya.. Secara yang butuh itu mungkin
sebenarnyajasad kita yang dikaruniai (maap) penis dan vagina.namun.. Menurut saya, jiwa ini juga punya pasangan kok, yaitu… (ah ga jadi tx sebutin ah).
sebenarnya yang benar itu yang ga memiliki nilai dualitas lagidooh.. Udah ah sampe sini aja komen nya, daripada ngelantur.. :p
maap ya Oom joyo..
Mei 16, 2008 pada 4:15 pm
terima kasih sudah komen, maaf saya ndak bisa nanggapi komeng nya satu2, lagi migren soalnya
Mei 17, 2008 pada 12:03 am
Selain blog retorika.wordpress.com ternyata masih ada lagi nih blog yang menyuarakan persamaan hak bagi seluruh WNI tanpa melihat SARA plus jenis kelamin. Cool!!! Salam kenal buat mas JOYO.
September 18, 2008 pada 1:56 pm
… disorientasi bukan kejahatan …
hetero dan homo hanya masalah mayoritas dan minoritas, bukan normal dan tidak
November 6, 2008 pada 1:48 pm
Homo dan tidak, tergantung waktu kecil sistem operasinya pake Windows XP atau linux. Homo bisa DISEMBUHKAN. Tanya rizal malarangeng if there is a will there is a way.
November 6, 2008 pada 10:11 pm
@gagah77
salam kenal mas, manusia harus berangkat lebih jauh lagi dari sekedar simbol2 material, kita harus bergerak ke arah kemanusaian itu sendiri…salam
@QueeNerva
setuju mba
@wawan setiawan
hehehe saya pake XP, kecenderungannya apa ya Pak?
November 7, 2008 pada 6:50 am
Kalo pake windows xp menurut eyang pohon beringin itu kecenderungannya kayak syech puji. Pedofilia
)
salam
wawan