Apa itu Kebenaran? Bagaimana kita tau bahwa Kebenaran itu Benar?
Wiki berbahasa Inggris menyatakan bahwa Truth (yg selanjutnya saya ganti dengan kata Kebenaran) secara umum digunakan untuk menyatakan kualitas kejujuran dan keyakinan, secara khusus digunakan untuk menyatakan kesesuaian antara pernyataan (keyakinan, pemikiran, ide, hukum, teori, berita, dll) dengan fakta/realitas.
Beberapa teori mengenai apa itu Kebenaran masih diperdebatkan hingga saat ini, mulai dari bagaimana mendefinisikan Kebenaran, mengidentifikasinya, hingga apakah Kebenaran itu bersifat subjektif, objektif, relative, atau absolute.
Beberapa teori mengenai Kebenaran (yg dipaparkan di Wiki) adalah sebagai berikut:
a. Correspondence Theory
Teori ini menghubungkan kesesuaian antara pernyataan/berita dengan benda/objek/kejadian. Teori ini mengasumsikan bahwa Kebenaran merupakan pembahasaan (menggunakan kata2 atau simbol2 lainnya) atas realitas objektif (realitas objektif adalah fakta/kenyataan an sich, yg berlaku/terjadi dan terbebas dari pikiran/persepsi/perasaan manusia).
Contoh:
Pernyataan -> Daun pohon beringin di depan rumah saya berwarna hijau
Kenyataan -> Daun pohon beringin di depan rumah saya memang berwarna hijau.
Namun beberapa pendapat menyatakan bahwa teori ini kurang tepat, sebab kata2 atau simbol2 yg digunakan untuk mereprentasikan kebenaran tidak selalu berlaku sama bagi semua manusia, misalnya suatu kata dalam bahasa A diterjemahkan dalam bahasa B maka artinya berubah atau maknanya bergeser, thus kata2 atau simbol2 tadi malah menjadi salah satu parameter yg harus didefinisikan tersendiri ketika handak menyatakan Kebenaran.
b. Coherence Theory
Teori ini berlaku pada satu set pernyataan, ketika Kebenaran disampaikan dalam beberapa kalimat, maka teori ini menyatakan bahwa satu set pernyataan Benar jika kalimat2 penyusunnya Benar (dalam arti logis dan konsisten).
Contoh: (masih menggunakan contoh kalimat diatas)
Pernyataan -> Daun pohon beringin di depan rumah saya berwarna hijau
Pernyataan yg diuraikan -> 1. Ada daun 2. Daun itu adalah daun pohon beringin, 3. Daun beringin berwarna hijau 4. Saya punya rumah, 5. Ada pohon beringin berdaun di depan rumah saya
Kenyataan -> apakah semua pernyataan yg diuraikan diatas, Benar? klo Benar maka pernyataan adalah Benar
Lha kan, ternyata pernyataan tadi memiliki 5 kalimat penyusun, nah menurut Coherence Theory, 5 kalimat penyusun tadi harus benar semua agar keseluruhan pernyataan Benar, apabila ternyata ada 1 saja kalimat yg tidak benar, misalnya ternyata saya tidak punya rumah, maka satu set pernyataan tadi menjadi Salah.
Ok cukup dulu pembahasan tentang Teori Kebenaran, yg sebenarnya masih panjang dan rumit, yg kalo dibahas masih menyisakan beberapa teori lagi, diantaranya: Constructivist Theory, Consensus Theory, Pragmatic Theory, Minimalist (Deflationary) Theory, Formal Theories dll. Belum lagi teori2 dari para filsuf seperti Immanuel Kant, Kiekegaard, Nietsche, Heidegger, Gandhi dll.
Nah sekarang balik ke diri masing2, sudahkah anda memverifikasi diri anda, apakah pernyataan2 yg anda (dan saya) ucapkan Benar? Apakah pernyataan2 dari luar diri anda dan anda terima sebagai Kebenaran sudah benar-benar Benar? Apakah keyakinan anda, yg menjadi landasan hidup anda sudah Benar? Apakah kitab2 acuan yg anda pakai sebagai penuntun hidup anda sudah Benar?
Ah saya terlalu banyak bertanya…maaf.
Bersambung…





Februari 22, 2008 pada 5:24 pm
wew… nice posting. menurut hemat saya mas joyo, kebenaran manusia itu sangat relatif. hal itu sangat tergatung dari cara pandang dan perspektif masing2. jangankan yang opini, fakta sejarah yang sudah jelas dan benar adanya pun bisa diputarbalikkan oleh rezim yang berkuasa. kalo kita kembali kepada dogma, *halah* kebenaran sejati itu hanya milik Tuhan semata. *hiks, nyambung ndak yak? hehehehe *
Februari 22, 2008 pada 10:30 pm
Sepertinya sekarang kebenaran telah bergeser dari realitas obyektif menuju realitas subyektif yang pada akhirnya kebenaran akan bersifat lokal dan juga relatif
Februari 23, 2008 pada 12:56 am
Seperti yang sering melintas dalam benak saya … adakah kebenaran mutlak itu dan (kalau ada) seperti apakah kebenaran mutlak itu?
Ketika nilai2 Tuhan yang dianggap sebagai suatu kebenaran mutlak ternyata disampaikan oleh mulut-mulut manusia yang merupakan sumber kebenaran relatif, apakah nilai2 Tuhan masih bisa bersifat mutlak juga?
Bagaimana kita tahu kalau suatu kebenaran itu adalah bersifat mutlak? Apakah ujung-ujungnya semua ini hanya bisa dijawab oleh hati?
Ah saya juga minta maaf kalau gitu bro hehehe …
BTW bagaimana pertemuan dengan Qzink?
Februari 23, 2008 pada 2:55 am
aah tak usahlah kau bertanya lagi. saat kau temukannya jawaban pasti kau akan bertanya lagi. jadi untuk apa kau bertanya? siapa yang hendak kau puaskan dengan jawaban-jawaban itu? orang kebanyakankah? akalmu> hatimu barangkali? atau ego saja? haruskah kau yang menjawab pertanyaan itu? atau biarkan saja orang lain yang menjawabnya?
pikirkan seberapa layak pertanyaan itu untuk dijawab. sedemikian layak hingga kamu rela mati untuk mendapatkan jawabannya?
sorry neh.. kok malah gw nyang banyak bertanya. hehehe
)D peace
Februari 24, 2008 pada 1:14 am
kebenaran, masih berada dalam rana wanaca, dan keberadaannyapun masih bisa dipertentangkan!
Februari 24, 2008 pada 3:12 am
@sawali tuhutsetya
Benar pak, dalam konteks kemanusiaan Kebenaran itu relative, dan mungkin ini disebabkan nilai2 yg dianut tiap manusia berbeda2, juga proses dan tata cara memperoleh Kebenaran itu sendiri berbeda2, entah lah.
Kebenaran Mutlak Tuhan, bagi saya tidak berguna, karna toh kita tidak mampu mengetahuinya
@Ariyadi
iya, pertanyaannya bisakah manusia menilai sesuatu (pernyataan/ide/kejadian) secara objektif? entahlah, tapi saya kira tidak.
@deking
entahlah, mungkin kita batasi ruang lingkupnya, kemudian kita tentukan aturan2nya…ah tapi itu akan menjadi Kebenaran lokal seperti kata mas Ariyadi, entahlah…
Qzink?
wah kacau tu anak, makannya buanyak
@norie
iya mungkin pertanyaan2 ini tak akan pernah habis, entah sampai kapan dan entah sampai dimana. mungkin sampai saya ndak bisa lagi menjawabnya.
dan bagi saya pertanyaan2 ini layak untuk memuaskan rasa ingin tau saya (ego, mungkin), walopun jawaban2 itu juga pendekatan2 ’saja’ dan subjektif.
yg terpenting ada kesepakatan (paling tidak dalam diri saya sendiri) bahwa sesuatu itu bener jika begini dan sesuatu itu salah jika begitu.
iya ni datang2 nanya2, bsk2 lagi klo nanya bayar!
@tony
itulah mengapa ada banyak teori dan pendekatan untuk mencari (mendefinisikan dan mengidentifikasi) Kebenaran
Februari 24, 2008 pada 9:00 am
Kebenaran: menurutku, hal ini tidak berarti harus merupakan antitesis terhadap kesalahan, akan tetapi, didalam kasus2 yg fundamental, hanyalah gambaran dari berbagai kesalahan yg saling berhubungan satu sama lain..
Doh, ngomong apa saya ini..
*pergi melacur*
Februari 24, 2008 pada 9:45 pm
menurutku kebenaran itu tidak bisa terlepas dari kesalahan. Ibarat dua sisi mata uang. Satu diantara dua dan dua didalam satu. Disini acuan menjadi sebuah keniscayaan yang pastinya harus diketahui terlebih dulu. setelah itu baru identifikasi dan definisikan.
Jadi menurut saya seeh kebenaran itu hanya ada dua kemungkinan kalau tidak subjektif (perorangan) , ya relatif (Kelompok).
Adapun yang menganggap kebenaran itu objektif, bukankah objek itu ada karena ada subyek. Jadi objektifitas itu tiada lain adalah subyektifitas yang disepakati (relatif juga kan..)
dan bagi yang menganggap kebenaran itu mutlak/absolut, maka dengan acuan apa dan bagaimana..?
, lagian tuhan kan sesuatu yang sulit didefinisikan (itu pun kalau ada
) *
*jangan langsung ke loncat ke tuhan lho… ndak seru ah, basi…
*nawarin buah zaitun dan korma ke joyo
*
Februari 25, 2008 pada 5:47 am
no comment
Februari 25, 2008 pada 6:29 am
@Arwa
curang kau.. Ditempat saya kau membela Nietzsche, tapi disini malah mengajukan pandangan Descartes..
btw, Arab
gundulternyata tak membuat ketuhananmu membaik ya, bro??Salut.. Air laut ternyata tak membuatmu jadi asin..
Februari 25, 2008 pada 10:08 am
untuk semua pertanyaan, dodot jawab: “BLON”
Februari 25, 2008 pada 1:39 pm
benar=betul…
kebenaran=kebetulan…
eh bukan yah….gag tau ah….
eh tapi kebenaran harus dibuktikan kebenarannya kan???baru bisa dikatakan benar…gtu kan maksudnya….
so???
yasinan dulu ah…
mau ikut mas joyo…
Februari 25, 2008 pada 7:50 pm
@joyo
bro, diajak blogwalking ke dunia lain sama kang Syahbal tuh..
Februari 26, 2008 pada 3:17 am
Syahbal hobi amat yasinan ya?
Sesuatu menjadi benar bila ia tidak bertentangan dengan penilaian manusia mengenai sesuatu yang lebih baik. (Socrates)
Februari 26, 2008 pada 1:25 pm
@qzink
iya, ngomong apa to koe? yasinan sana
@arwa
begitu ya, sepertinya iya, lalu mereka yg mengagung2kan bahwa ideologi/keyakinan mereka itu benar sdk yg lain salah, statusnya gimana dung?
@verlita
no comment is comment too
@dodot
hmmm syukurlah
@syahbal
thanks, ada makanannya gak?
@zink
ikut yasinan gak?
@calonorangternarseduania
berarti relatif dan dinamis, juga subjektif, bahwa sesuatu lebih baik bagi A blm tentu lebih baik bagi B. bahwa saat ini sesuatu lebih baik belum tentu dimasa depan hal tersebut masih lebih baik.
entahlah…
Februari 27, 2008 pada 3:02 am
Benul, Bos.
Socrates memberi contoh begini, “Seorang pencuri pada dasarnya memiliki penilaian tentang tindakan mencurinya. Bila dia merasa bahwa mencuri itu salah dan ada perbuatan yang lebih baik, maka mencuri itu menjadi salah dan tidak mencuri menjadi benar. Seseorang yang mengetahui yang benar akan bertindak benar.”
IMHO, kebenaran memang sangat subyektif. Untuk saya, misalnya, membunuh atas nama agama itu benar, tapi untuk anda, misalnya, itu bisa saja salah. Atau sebaliknya.
*ga ngerasa nyindir siapa2*
Februari 27, 2008 pada 10:09 am
Kang bukankannya itu bergantung dari sudut pandang, situasi dan kondisi untuk menilai KEBENARAN itu..??. Jika kita duduknya dalam kapasitas pandangan Jasad badan kasar yg dah dilengkapi 5 Indira, kayaknya apa gak seperti kita mendaki sebuah Gunung. ada yg dari timur, barat, utara dan selatan, masing-masing akan melihat KEBENARAN berdasarkan penglihatan yg dilaluinya??.
Masing2 akan memiliki Interpretasi sendiri-sendiri kan..??.
Nah KEBENARAN adalah KEBENARAN..bisa dikatakan Relatif menurut kaca mata manusia dalam batasan pandangan fisik. Tetapi jika kita mo masuk lebih dalam…
KEBENARAN adalah MUTLAQ dan ABSOLUT menurut HUKUM Tuhan. Karena Sujatinya KEBENARAN adalah KEBERADAAN dan KENYATAAN sang KHALIQ itu sendiri…
Nek jarene teks book Kitab Suci QS. Al Israa’ 84 :
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
Halah..halah…nyambung gak seh ini..??
Nggelsod…kekeselen awak-e…menunggu pulih…
numpang rokok-an dhisik yo Kang Joyo?
Februari 27, 2008 pada 10:38 am
@joyo…
makanan???? ada-ada….tp buat kucing…heheheh…
@qzink
mau ikut tak???
@calonorangtenarsedunia
iya lagi hobi yasinan…
dari pada mabokan…
mau ikut mba???
Februari 27, 2008 pada 11:34 am
::he..he…koq kayak garvitasi vs relativitas… , yang kedua-duanya diakui, dan digunakan… akh entahlah..
Februari 27, 2008 pada 5:02 pm
@calonorangtenarsedunia
lha klo Kebenaran itu subjektif, jangan main bunuh dong, lha anda ni mo jadi rahmat bagi semesta alam kok malah main bunuh, bawa2 agama lagi
*melacur ktempat zink*
@santri gundhul
lha yg relatif dan subektif itu juga hukum Tuhan kan? jadi?
walah nanya lagi
@syahbal
wah klo gak ada makan2nya saya mending ngeblog
@zal
entah juga Pak
Februari 28, 2008 pada 9:36 am
Suka2 saya donk! Pokoknya™ saya ini yang paling benar! Anda itu salah! Agama itu ditegakkan dengan pedang tauukk..!!
*elus2 jenggot*
Februari 28, 2008 pada 12:03 pm
@calonarangtenarsedunia
satiiiiiirrr..
hati-hati lho, han.. Orang bisa nganggap itu beneran..
Maret 1, 2008 pada 10:11 am
@qzink666
Yang dianggap benar kan belum tentu benar..
*ngeles*
Maret 1, 2008 pada 3:43 pm
@mas joyo
kalo ceuk abah mah :
secangggih-canggihnya manusia / insan hanya akan terpahamkan dengan “kebenaran” yang relatif & subjektif.
Karena kalo “kebenaran yang haq / mutlak”, bukan urusan manusia…
Tebas dulu dengan “pedang” ke “manusian” an kita, baru akan terfahamkan dengan “kebenaran” yang HAQ / mutlak.
satuju teu…???
kudu satuju…
Maret 2, 2008 pada 1:14 am
Maret 2, 2008 pada 3:47 am
Contoh: (masih menggunakan contoh kalimat diatas)
Pernyataan -> Daun pohon beringin di depan rumah saya berwarna hijau
Pernyataan yg diuraikan -> 1. Ada daun 2. Daun itu adalah daun pohon beringin, 3. Daun beringin berwarna hijau 4. Saya punya rumah, 5. Ada pohon beringin berdaun di depan rumah saya
Kenyataan -> apakah semua pernyataan yg diuraikan diatas, Benar? klo Benar maka pernyataan adalah Benar
>>>>>menurut penerawangan saya
kalau kelima pernyataan itu benarpun, belum tentu contoh pernyataan itu benar, kenapa ? suatu ketika ada yang bisa mengawinkan pohon beringin dengan pohon sirsak ….kemudian dihasilkan jenis baru…dan diberi nama BERISIK atau beringin sirsak dimana batangnya dan daunnya adalah beringin, lalu buahnya sirsak dan tumbuh didepan rumah saya tanpa saya tahu siapa yang menanamnnya, kebetulan saya nggak tahu namanya BERISIK.
kemudian coba anda tanya menggunakan dengan lima pertanyaan tersebut diatas?
1. Ada daun
Jawab ada
2. Daun itu adalah daun pohon beringin?
Jawabnya Ya
3. Daun beringin berwarna hijau ?
jawabnya Ya
4. Saya punya rumah?
Jawabnya Ya
5. Ada pohon beringin berdaun di depan rumah saya?
Jawabnya Ya
karena saya nggak tahu itu pohon BERISIK maka saya katakan oh…..ini adalah pohon beringin karena batang dan daunnya beringin tapi…kok berbuah sirsak ya?
lha apakah teori itu masih benar…..?
jadi menurut pemahaman saya yang cetek ini, kebenaran tidak dapat didefinisikan karena mendefinisikan kebenaran akhirnya akan menimbulkan monopoli kebenaran karena semua yang tidak sesuai dengan definisi itu dianggap salah (gugur).
—–salam—
Maret 2, 2008 pada 5:05 am
@calonorangtenarsedunia
ya sudah lah, yang waras ngalah, ngotot sambil bawa2 pedang lah sana…, awas klo masi pake internet, motor, mobil, pesawat!!
*ngeloyor*
@abah dedhot
) Bah
eh iya setuju (dibawah ancaman golok
@suluh
@daeng limpo
klo kata abah saya, definisi itu adalah upaya manusia mendekati fenomena/realiatas, jadi sifatnya ya ndak mutlak, lha wong manusia mendekatinya juga pake alat2 yg ndak standard, misalnya mata saya sama mata daeng belm tentu menghasilkan gambar yg sama, dsb.
tapi soal pohon beringin diatas, keadaan pohon beringin yg dimaksud adalah keadaan yg umum disepakati oleh khalayak,
jadi kalimat:
“Daun pohon beringin di depan rumah saya berwarna hijau”
tetap benar, lha wong dalam definisi saya pohon BERISIK juga termasuk beringin, yakni beringin yg berbuah sirsak
Maret 2, 2008 pada 5:46 am
@joyo
wakakakakak……**sambil guling-guling**
Maret 3, 2008 pada 1:48 am
Huaaa..ha…ABAH DHEDHOT..niru-niru gayanya Saidina Ali. Ingin berjumpa Tuhan…?? Tebas karo Pedang….
Cuman masalahnya Bah, banyak yang menjadi SALAH KAPRAH…gak mudheng, gak PAHAM. Bahwa semua itu hanyalah Simbol-simbol itu ketika tidak DIPAHAMI akan menjadi LAKU AGRESIF yang lekat dengan sosok Umat tertentu. Main GANYANG saja….
Pedahal yg di lakukan Ali adalah tak lebih daripada SIMBOL, bahwa klu ingin bertemu TUHAN ( sang KEBENARAN ) MATIKANLAH DIRIMU atau keluarkanlah DIRIMU dari dalam DIRIMU….halah…halah…sok weruh…
Kabuuuuuuuuuurrrrrrr….
Maret 3, 2008 pada 2:32 am
Jadi perangnya sudah selesai?
Ada pedang, ada golok. Sudah ada yang menang?
Maret 4, 2008 pada 6:59 am
@mas santri G
… jangan-jangan itu memang boss shayid, yang ngomong… si abah mah cuma bisa ngaku-ngaku…
Maret 5, 2008 pada 3:08 pm
@calonorangtenarsedunia
Kok perang sehhh ngabisin uang rakyat aja
Maret 13, 2008 pada 6:02 pm
al Haq min robbii (huwa Allah).
April 7, 2008 pada 1:43 pm
“Pernyataan -> Daun pohon beringin di depan rumah saya berwarna hijau
Kenyataan -> Daun pohon beringin di depan rumah saya memang berwarna hijau.”-Joyo-
Untuk yang buta warna, apakah juga berlaku demikian halnya?
Kalau hal ini “dipaksakan” menjadi suatu kebenaran, berarti kebenaran itu adalah “sesuatu yang dimiliki dan diyakini orang banyak”. Jadi kebenaran itu ditentukan oleh banyaknya orang yang meyakini…
Satu lagi, dan ini mungkin sudah saya pertanyakan sebelumnya: Layakkah kebenaran itu didasarkan pada hal yang bernama “Teori”?
April 7, 2008 pada 3:37 pm
@daeng limpo
awas kejedot guling2nya
@santri gundhul
ayo bunuh diri
@amaduq01
amin
@jems
jelas tidak, selalu ada pengecualian, makanya menurut saya tidak ada kebenaran mutlak.
pantas, tapi inggat semua ini hanya pendekatan2.
dan lebih tidak pantas lagi kebenaran yg didasarkan keyakinan.
April 9, 2008 pada 2:57 am
” kebenaran hanya ada di langit dan dunia adalah palsu “
April 10, 2008 pada 3:16 am
@kupluk
kok tau klo kbenaran itu ada di langit? lagian adakah langit ??
April 30, 2008 pada 6:10 pm
aaaarggghhhh…..!!!!
makin di baca makin bingung..
maksudnya opo to?? Gak jelas..!
kabuuuuuurrr…!!
Januari 22, 2009 pada 1:13 am
Yang bnr adalah Allah SWT, untk samapai ke Allah ya lewat Nabi Muhammad Saww untk kenal Nabi Muhammad Saww ya lewat keluarganya. Bukan lewat si Mursaldik pimpinan Al Qiadah Al Islamia. gitu lho….
Januari 22, 2009 pada 12:32 pm
gak jelas.
Maret 8, 2009 pada 7:15 am
Kebenaran demi kebenaran yang dilacak baik melalui kajian fenomena alam(sejak mbahe Socrates dulu), diri, otak(yang di otak atik dalam artikel’apa itu Tuhan’ dengan strum, cimeng, meditasi dll, maupun melalui buku peningggalan Buddha, Musa, Isa dan Muhammad, pada akhirnya tetap saja tak bakal ketemu apa itu Kebenaran Absolut dengan pas hingga masing-masing dari kita dut.
Namun demikian, kita patut bersyukur sudah menemukan pengetahuan tentang trend ke arah kebenaran itu melalui, setidaknya, melalui warna daun beringin itu, gravitasi, teori evolusine Darwin(walau belum kelar menemukan kakek moyang terdekat kita), teori relatife einstein(bagi yang gelut dengan itu) dan berbagai cara lain yang kadang dituduh irrasional, klenik dll.
Ada juga yang kebelet mengatakan bahwa hal-hal yang belum bisa dijelaskan(apa saja) kelak pasti bisa dijawab dengan sains.
Termasuk di antaranya, manusia berkawat Kalimantan itu dan yang terbaru Ponari Sweat ini.
Saya bukan termasuk yang’sedikit2 atau banyak2′ tertarik dengan yang berbau aneh, berobat alternatif etc, namun fenomena supra natural tetap saja ada di sekeliling kita(lebih dari sekedar dugaan Freud dkk hingga kini-maupun efek main2 dengan otak-atik otak).
Jangan-jangan itu sebagai pertanda adanya Kebenaran Mutlak, ya?!
Sapa tahu?
Aku sedikit merasakan adanya.
eska.