Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Darwin Alam

Januari 20, 2008

Sebelumnya, artikel yg anda baca nanti bukan saya yg nulis, artikel tersebut ditulis oleh mas Luthfi Assyaukanie (halah sok akrab pake ‘mas’). Mengenai siapa beliau dapat anda baca disini. Ya, tulisan berikut memang mengulas mengenai ‘kabangkitan’ atheisme, yg ditandai dg peluncuran beberapa buku (antara 2005 – 2006) oleh beberapa ilmuan yg mempromosikan atheisme dan sebaliknya ‘menyerang’ theisme.

Maksut saya menulis ulang tulisan beliau dalam blog saya adalah karena menurut saya tulisan beliau pantas dijadikan wacana, bahwa kebangkitan ‘atheisme’ bukan tanpa sebab melainkan buah reaksi atas ‘kegagalan’ agama mendamaikan dan membebaskan manusia, agama tampil ‘garang’ dan sering manjadi alat pembenaran untuk melakukan pemusnahan, pembunuhan dan penindasan. Bahwa sedikit sekali bahkan bisa dibilang tidak ada orang yg membunuh atau membenarkan pembunuhan karena fanatisme mereka terhadap ilmu pengetahuan (baca Darwin :D ), sebaliknya seperti ditulis mas Luthfi, Osama bin Laden dan Imam Khomeini pernah menyuruh manusia membunuh manusia lain.

Satu yg saya amini bahwa hukum alam berlaku disini, ada aksi maka reaksi mengikuti dan semakin besar aksi maka semakin besar pula reaksi. IMO, hanya orang2 yg ber’iman’ yg mampu memutus rantai aksi reaksi tadi, mengutip ucapan Buddha (dalam bahasa saya),

Hanya kehidupan walas asih yg akan membawamu pada pencerahan

Satu lagi, mohon maaf pada mas Luthfi karena saya blm minta ijin untuk menampilkan artikel beliau di blog saya, tapi saya percaya beliau tidak keberatan wong saya juga dapat artikel tersebut dr hasil browsing.

Selamat menikmati :)

Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Darwin:
Serangan Balik Kaum Ateis*
Luthfi Assyaukanie

Christopher Hitchens. God is Not Great: How Religion Poisons Everything. New York: Twelve, 2007.
Daniel C. Dennett. Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon. New York: Viking, 2006.
Richard Dawkins. The God Delusion. London: Bantam, 2006.
Sam Harris. The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason. New York: Norton, 2005.

Para pendukung Ateisme mestinya berterimakasih kepada Osama bin Laden dan Jerry Falwell yang menjadikan agama begitu agresif dan garang. Aksi-aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan Tuhan sejak beberapa tahun terakhir adalah puncak dari kebangkitan agama dan sekaligus krisis bagi keberadaannya. Sejak awal tahun 1970an, kaum Ateis dan sekular meratapi mandeknya proses sekularisasi. Agama yang sejak abad ke-19 diramalkan bakal punah malah bangkit dan mengisi ruang-ruang publik umat manusia. Kecuali di Eropa Barat, hampir semua agama di dunia mengalami kebangkitannya. Jurnal-jurnal sosiologi selama dasawarsa 1980an dipenuhi dengan perdebatan matinya sekularisme (dan juga sekularisasi). August Comte, Charles Darwin, Sigmund Freud, Emile Durkheim, Karl Marx, dan para ilmuwan sosial besar lainnya dianggap keliru karena telah meramal bahwa masa depan umat manusia adalah masa depan sekular yang bersih dari mitos-mitos agama. Kenyataannya, sejak 1970an, agama bangkit dan tokoh-tokoh seperti Ayatullah Khomeini, Paus Yohannes Paulus, Desmond Tutu, dan Dalai Lama, menggantikan nama-nama sekular abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kebangkitan agama telah memasuki dekade keempatnya ketika pada tanggal 11 September 2001, sekelompok kaum beriman menabrakkan dua pesawat yang ditumpanginya ke gedung WTC di Amerika Serikat. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 9/11 itu menjadi kulminasi bagi kebangkitan agama di dunia modern dan sekaligus menjadi titik rawan keberadaannya. Kaum sekular dan pendukung Ateis yang selama ini tenggelam dalam kekecewaan seakan mendapatkan amunisi baru untuk menyerang agama. Sekularisme tidak mati. Ateisme bangkit lagi. Justru agamalah yang kini berada di ambang kebangkrutan. Bukan Charles Darwin yang berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban manusia, tapi para tokoh agama yang tak henti-hentinya mengkampanyekan pandangan-pandangan obskurantis yang anti kemajuan dan peradaban. Darwin tak pernah menyuruh manusia membunuh orang. Tapi, Osama bin Laden dan Imam Khomeini jelas-jelas melakukannya. Agama bangkit bukan untuk menebar kedamaian, tapi untuk menyeru kekerasan dan permusuhan. Jerry Falwell, Pat Robertson, dan Billy Grahama memiliki segudang dalil dan argumen untuk merekrut kaum Kristen menjadi tentara Tuhan.

Kemunculan buku-buku tentang Ateisme belakangan ini dipicu oleh berbagai peristiwa kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan agama. Horor 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, bom bunuh diri di Timur Tengah, dan aksi-aksi kekerasan dan kebringasan lainnya mengusik kaum Ateis untuk kembali menyuarakan keyakinan lama mereka bahwa agama memang buruk, agama hanya menyengsarakan manusia, dan tak ada lagi alasan manusia untuk beragama. Pada 2005, Sam Harris, seorang mahasiswa filsafat yang tengah merampungkan PhD-nya dalam bidang neuroscience (penelitiannya tentang “saraf iman” dan “saraf kafir”) menerbitkan The End of Faith, sebuah reaksi penulisnya terhadap berbagai peristiwa teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Pesan utama buku ini adalah bahwa agama adalah sesuatu yang terbuka untuk didiskusikan. Agama bukanlah sesuatu yang bisa mendapat perlakuan khusus. Kekeliruan kita selama ini adalah menganggap agama sebagai sesuatu yang istimewa sehingga selalu ada keraguan setiap kali hendak masuk ke wilayah ini. Harris menekankan kembali poin ini pada bukunya yang terbaru, Letter to a Christian Nation (2006).

Pada 2006, Daniel C. Dennet menerbitkan karyanya, Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon, sebuah buku yang berusaha menegaskan bahwa agama adalah fenomena alam belaka. Sama seperti Harris, Dennet berpendapat bahwa tak ada yang suci dari agama. Ia hanyalah sebuah produk ciptaan manusia, sebagaimana manusia menciptakan bidang ekonomi, politik, teknologi, dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pada tahun yang sama, Richard Dawkins menerbitkan The God Delusion. Di antara buku-buku sejenis, karya Dawkins ini barangkali adalah buku yang paling menggemparkan publik pembaca. Dalam buku ini, Dawkins berperan lebih sebagai filsuf ketimbang seorang saintis. Dia berusaha mengerahkan seluruh energi intelektualnya untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada dan berusaha meyakinkan kita bahwa mengajarkan agama kepada anak-anak adalah sebentuk pelecehan (child abuse). Pada pertengahan 2007, Christopher Hitchens menerbitkan God is not Great, sebuah buku yang memaparkan bukti-bukti tentang ketiadaan Tuhan. Lewat pendekatan jurnalistik dan populer, Hitchens mengajak kita bahwa hidup tanpa agama lebih sehat ketimbang hidup dengan agama.

Teodisi dan Problem Kejahatan
Munculnya buku-buku tentang Ateisme merupakan reaksi dari persoalan lama dalam dunia filsafat, khususnya menyangkut pembahasan tentang eksistensi Tuhan. Jika Tuhan ada, mengapa Dia membiarkan kejahatan terus terjadi? Jika agama baik mengapa perilaku para pemeluknya begitu biadab? Jika Tuhan ikut campur dalam kehidupan kita mengapa Dia berdiam diri menyaksikan kecelakaan, kemelaratan, bencana, dan pembunuhan? Dalam filsafat, pertanyaan-pertanyaan semacam ini dikumpulkan menjadi sebuah argumen yang secara luas dikenal sebagai “teodisi.” Secara sederhana dalil teodisi bisa dijelaskan sebagai berikut: Kaum agamawan sepakat bahwa Tuhan Maha Kuasa. Dengan kekuasaan-Nya, Dia bisa melakukan apa saja, termasuk mencegah sesuatu yang buruk. Kenyataannya, hal-hal buruk selalu ada dan menimpa manusia di dunia. Ada dua kemungkinan: pertama, Dia mampu melakukan itu tapi tidak mau melakukannya; kedua Dia memang tidak mampu. Kemungkinan pertama mendorong kita berkesimpulan bahwa Tuhan mendukung kejahatan atau Tuhan adalah kejahatan itu sendiri. Kesimpulan kedua menegaskan kelemahan Tuhan; konsekwensinya, jika Dia lemah, mengapa harus disebut Tuhan Yang Maha Kuasa?

Sepanjang sejarah, para filsuf dan teolog disibukkan oleh persoalan teodisi itu. Kaum Ateis memiliki jalan keluar sederhana dengan menggunakan “pisau cukur Occam”: Tuhan Tidak Ada. Namun para teolog dan filsuf beriman mencoba mencari penjelasan yang tidak sederhana. Gottfried Leibniz, filsuf Jerman pemilik hak cipta untuk segala penjelasan tentang teodisi di dunia modern, menjelaskan bahwa adanya kejahatan dan kemalangan di dunia ini tidak bertentangan dengan kebaikan Tuhan. Menurut Leibniz, dunia yang didiami manusia adalah dunia yang terbaik yang mungkin ada (the best of all possible worlds). Kaedah ontologis menegaskan bahwa ada lebih sempurna dari tiada. Dengan demikian, dunia yang ada, yang didiami manusia dengan segala dinamikanya, adalah dunia yang baik.

Penjelasan Leibniz itu kemudian menginspirasikan para teolog untuk memberikan justifikasi pada kejahatan dan kemalangan yang ada di dunia in. Salah satunya dengan menegaskan bahwa apa yang dipersepsi sebagai kejahatan dan kemalangan oleh manusia sebenarnya hanyalah ilusi dan sesuatu yang tidak penting. Kejahatan dan kemalangan adalah bagian dari kehendak Tuhan Yang Maha Baik. Tuhan merencanakan sesuatu yang tidak diketahui manusia. Pada dasarnya, apa yang dianggap manusia sebagai kejahatan sebenarnya bukanlah kejahatan, tapi merupakan rancangan Tuhan untuk kebaikan manusia secara umum. Keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia menghalangi mereka untuk melihat gambar besar yang sebenarnya. Dengan kata lain, kebaikan Tuhan dan kebaikan di dunia adalah nyata, sementara kejahatan dan kemalangan adalah ilusi dan delusi manusia.

Alih-alih menganggap kejahatan dan penderitaan sebagai delusi manusia, Richard Dawkin menyatakann sebaliknya, yakni Tuhanlah yang merupakan delusi. Kejahatan di dunia adalah riil. Pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, pembakaran, penyiksaan, pengeboman, bencana alam, gempa bumi, tsunami, banjir, gunung meletus, dan lain-lain adalah berbagai kemalangan yang nyata; Tuhanlah yang tidak nyata, karena membiarkan semua itu terjadi. Logikanya, jika Tuhan Maha Kuasa dan Maha Baik, mengapa dia membiarkan saja semua ketidakbaikan itu terjadi. Hanya ada dua pilihan dalam menyikapi persoalan ini: (i) Tuhan sebenarnya tidak ada; (ii) Tuhan ada namun tak mampu melakukan apa-apa. Dawkins dan kaum Ateis memilih jawaban pertama dan menolak kesimpulan self-contradictory yang kedua.

Dalil-Dalil Ketiadaan Tuhan
Penolakan Dawkins tentang keberadaan Tuhan sebenarnya bukan berangkat dari argumen teodisi, tapi dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukannya. Dawkins adalah seorang ahli biologi evolusioner dan pengikut setia Darwinisme. Baginya sangat jelas bahwa bukti-bukti ilmiah menunjukkan ketiadaan Tuhan. Yang dia maksud dengan “Tuhan” bukanlah Tuhan seperti yang digambarkan Einstein dan pengikut Deisme lainnya (Tuhan dengan katagori kedua dalam kesimpulan di atas), tapi Tuhan personal yang disembah sebagian besar pengikut agama, khususnya Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam Bab 4 bukunya, Dawkins menguraikan enam argumen mengapa Tuhan tidak ada atau hampir pasti tidak ada (why there almost certainly is no God?).

Pertama, argumen yang ia beri nama “the Ultimate Boeing 747.” Argumen ini dipinjam dari Fred Hoyle, astronom Inggris, yang pernah mengatakan bahwa probabilitas kehidupan di Bumi [tanpa campur tangan Tuhan] lebih kecil daripada kemungkinan badai menyapu potongan-potongan besi dan merangkai sebuah Boeing 747. Hoyle adalah seorang Ateis, tapi pernyataannya itu sering dikutip kaum kreasionis untuk mendukung teori desain. Dawkins mengutip ungkapan Hoyle untuk menegaskan bahwa menerima keberadaan Tuhan sama sulitnya dengan menerima keberadaan badai yang mampu merangkai Boeing 747. Dawkins menggunakan argumen ini untuk menyerang kaum kreasionis yang menganggap Tuhan ikut campur dalam penciptaan alam. Keberatan Dawkins dengan argumen desain adalah meletakkan Tuhan sebagai “penumpang gelap” yang “ingin makan siang gratis” ditengan jerih payah ilmuwan mencari jawaban terhadap problem penciptaan. Kemungkinan Tuhan ada, menurut Dawkins, sangat kecil. Jika Tuhan ada, maka dia mestilah sangat-sangat kompleks; semakin kompleks sesuatu, maka semakin sulit untuk ada. “Serumit apapun entitas yang Anda cari untuk menjelaskan munculnya desainer,” tulis Dawkins, “maka desainer itu haruslah sama rumitnya [atau lebih rumit]. Tuhan adalah Boing 747 itu sendiri.”

Kedua, argumen “Seleksi Alam sebagai Pembangkit Kesadaran” (Natural Selection as a Consciousness-Raiser). Tuhan tidak ada. Keberadaan alam raya dan isinya bisa dijelaskan dengan teori evolusi dan seleksi alam yang diperkenalkan Charles Darwin. Dawkins menganggap seleksi alam bukan hanya sebagai penjelas asal-usul kehidupan, tapi juga sebagai pembangkit kesadaran manusia akan digdaya sains dalam menjelaskan bagaimana sebuah kompleksitas yang rapi muncul dari awal yang sederhana tanpa petunjuk apapun. Jika kita memahami dengan baik teori seleksi alam, maka kita tak perlu repot-repot melibatkan unsur luar yang hanya akan menjadi problem baru. Semuanya bisa dijelaskan lewat teori seleksi alam tanpa melibatkan Tuhan di dalamnya. Sebelum Darwin menemukan teori evolusi, Tuhan dan kegaiban menjadi pelarian manusia untuk menjelaskan fenomena alam raya, tapi setelah Darwin menemukan teori itu, bukan hanya dunia biologis, dunia astronomi, geologi, dan cabang ilmu lainnya, menganggap evolusi dan seleksi alam sebagai penjelas yang paling memuaskan.

Ketiga, argumen “kompleksitas takterkurangi” (irreducible complexity). Argumen ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Behe dalam bukunya, Darwin’s Black Box (1996). Argumen ini menegaskan bahwa beberapa sistem biologis terlalu sederhana untuk berevolusi menjadi sesuatu yang kompleks, tapi pada saat yang sama terlalu kompleks untuk bermutasi secara alamiah. Argumen ini dipakai kaum kreasionis untuk menyanggah bahwa teori evolusi tidak bisa menjelaskan seluruh proses penciptaan. Dawkins menganggap Behe dan pendukung argumen ini telah keliru memahami pernyataan Darwin soal “organ-organ dalam tubuh manusia yang sangat kompleks.” Darwin mencontohkan mata sebagai organ kompleks yang hampir mustahil dibentuk dari proses seleksi alam. Kaum kreasionis, menurut Dawkins, bersorak-sorai dengan disclaimer Darwin itu tanpa tahu duduk-persoalannya. Mereka menganggap mata sebagai salah satu contoh kompleksitas takterkurangi, padahal menurut temuan-temuan terbaru ilmu biologi, tidak ada yang selamat dari jaring evolusi. Tuhan dicoba dilibatkan dalam kompleksitas takterkurangi, tapi teori evolusi lagi-lagi berhasil mengusirNya.

Keempat, argumen “Penyembahan Celah” (the Worship of Gaps). Ini adalah argumen yang sangat populer di kalangan filsuf dan saintis. Kaum Ateis biasa menyebut Tuhan yang dihasilkan dari argumen ini sebagai “Tuhan celah” (God of the Gaps, GoG). Kaum kreasionis sepanjang sejarah begitu rajin mencari celah dalam kehidupan ini untuk memasukkan Tuhan di dalamnya. Setiap ada celah yang tak bisa dijelaskan sains, mereka mengisinya dengan Tuhan. Namun, persoalan besar dari GoG adalah, seperti dicemaskan Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman, setiap kali ada kemajuan dalam sains, celah itu menyusut. Dulu, manusia percaya bahwa Tuhan menciptakan Bumi dan planet-planet, tapi sains mengungkapkan bahwa itu merupakan proses pembentukan materi alam sepanjang jutaan tahun; dulu manusia percaya bahwa penyakit kusta, lepra, dan cacar merupakan kutukan Tuhan, tapi ilmu kedokteran membuktikan bahwa penyakit-penyakit itu disebabkan bakteri dan kuman. Sains dan Ilmu pengetahuan selalu berhasil menutup celah yang dicoba-masuki Tuhan.

Kelima, argumen Prinsip Antropi: Versi Planet (the Anthropic Principle: Planetary Version). Menurut Dawkins, celah dalam biologi semakin lama semakin menyusut sehingga menyulitkan kaum agamawan menemukan Tuhan di dalamnya. Tapi mereka tak berputus asa. Celah untuk Tuhan masih sangat luas di wilayah astronomi dan kosmologi. Salah satunya adalah dengan mempertanyakan asal-usul kehidupan. Ada celah yang begitu luas untuk mengundang Tuhan berperan di sana. Tapi, para ilmuwan tak kalah hebat. Mereka memiliki penjelasan ilmiah tentang asal-usul kehidupan, yakni lewat prinsip antropi. Prinsip antropi mengatakan bahwa kehidupan terjadi karena ada dukungan konstanta fisika dan kimia yang pas. Bumi berada tepat dalam konstanta yang memungkinkan kehidupan itu. Meski kondisi semacam ini sangat jarang terjadi, bukan tidak mungkin ada kehidupan lain yang mirip dengan Bumi. Dengan kata lain, bukan Tuhan yang menyebabkan Bumi menjadi hidup, tapi prinsip antropi itu.

Keenam, argumen Prinsip Antropi: Versi Kosmologi (the Anthropic Principle: Cosmological Version). Prinsip antropi digunakan Dawkins bukan hanya untuk mengusir Tuhan dari Bumi, tapi juga dari jagat raya. “Kita hidup bukan hanya di planet yang bersahabat, tapi juga di alam raya yang bersahabat,” tulis Dawkins. Hukum fisika yang bekerja di alam ini sangat mendukung munculnya kehidupan. Keberadaan bintang-bintang adalah penjelas utama mengapa ada kehidupan. Bintang-bintang adalah bahan dasar bagi elemen-elemen kimia. Tanpa bintang, tak ada kimia, tanpa kimia, tak ada kehidupan. Para fisikawan secara cermat telah menghitung bahwa sedikit saja hukum dan konstanta fisika berbeda, maka jagat raya akan berkembang secara berbeda yang tak memungkinkan kehidupan muncul. Prinsip antropi sekali lagi menunjukkan bahwa pembentukan kosmos tidak memerlukan campurtangan Tuhan, tapi lewat evolusi dan proses seleksi alam yang lama.

Agama Sebagai Fenomena Alam
Teori evolusi dan seleksi alam tak hanya dipakai untuk menjelaskan asal-usul jagat raya, keberadaan Bumi, dan kompleksitas makhluk hidup, tapi juga menjelaskan sejarah dan perkembangan agama. Jika Dawkins menggunakan teori evolusi untuk menjelaskan bahwa alam raya dan seluruh isinya merupakan proses panjang yang terus-menerus, Daniel Dennett menggunakan kerangka evolusi untuk menjelaskan keberadaan agama. Yang menjadi perhatian Dennett bukanlah keberadaan Tuhan, tapi keberadaan agama sebagai lembaga yang bertanggungjawab menciptakan konsep-konsep gaib, termasuk Tuhan. Sebagai seorang Darwinian sejati, Dennett menganggap bahwa agama yang dipeluk manusia sekarang ini merupakan bentuk evolusi terkini dari agama-agama primitif yang pernah ada.

Dennet tentu saja bukan orang pertama yang menganggap agama sebagai produk manusia (bukan Tuhan). Dua setengah abad sebelumnya, David Hume pernah melontarkan gagasan serupa dalam dua buah bukunya: The Natural History of Religion (1757) dan Dialogues concerning Natural Religion (1779). Hume menyimpulkan bahwa agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen, Islam, dll) merupakan hasil evolusi panjang dari keyakinan politeisme yang sangat tua. Hume menganggap politeisme sebagai agama paling primitif yang pernah dikenal manusia.

Menurut Dennett agama bukanlah artefak atau produk hasil aktivitas intelektual manusia. Agama merupakan fenomena alam yang berkembang dan menular bukan lewat gen, tapi lewat bahasa dan simbol. Seseorang bisa mewarisi bentuk hidung atau talenta musik dari orang tuanya, lewat gen; tapi jika dia beragama yang sama dengan orang tuanya, dia memperolehnya bukan lewat gen, tapi lewat bahasa dan asuhan yang diberikan kepadanya. Agama adalah fenomena yang muncul dalam alam (natural) dan bukan dari luar alam (supernatural). Dennett tidak terlalu peduli apakah Tuhan ada atau tidak, karena keberadaannya atau ketiadaannya tidak mengganggu status agama sebagai fenomena alam. Tuhan adalah sesuatu yang supernatural, tapi agama adalah sesuatu yang natural. Kita tak bisa membicarakan Tuhan secara ilmiah (scientific), tapi bisa melakukannya kepada agama. Hanya sesuatu yang alamiah yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Dengan proposisi ini, Dennett ingin mengatakan bahwa mempelajari agama secara ilmiah adalah mungkin. Ilmu pengetahuan modern dengan segala disiplinnya mampu menjelaskan fenomena agama. Ada ilmu sejarah, arkeologi, sosiologi, ekonomi, hingga psikologi yang mampu mengungkap dimensi-dimensi terdalam perilaku keberagamaan manusia.

Agama tidak datang sekali jadi, tapi berevolusi, sesuai dengan tingkat kecerdasan manusia. Peradaban manusia berkembang, begitu juga agama. Pada masa silam, ketika manusia masih primitif, bentuk agama juga sangat primitif. Bahasa lebih dulu dikenal manusia ketimbang agama. Ketika manusia modern (homo sapient) pertama kali muncul sekitar 195.000 tahun silam, mereka menggunakan bahasa sangat sederhana untuk berkomunikasi. Dengan kosakata yang terbatas, agama adalah sebuah kemewahan. Agama muncul jauh setelah manusia mengembangkan sistem berbahasa yang kompleks. Bukti-bukti arkeologi paling awal menyebutkan bahwa “praktik agama” tertua baru terjadi sekitar 25,000 tahun silam. Data ini diambil berdasarkan temuan situs makam Cro-Magnon di Ceko. Agama yang dipraktikkan pada masa ini tentu sangat sederhana dan umumnya hanya terkait dengan upacara penguburan mayat.

Seiring dengan perkembangan zaman, bertambahnya jumlah manusia dan semakin tingginya mobilitas mereka, agama dalam bentuknya yang lebih terorganisir mulai menampakkan wujudnya. Menurut Dennett, setidaknya ada tiga alasan mengapa manusia memerlukan agama: Pertama, untuk mengatasi penderitaan dan ketakutan akan kematian; Kedua, untuk menjelaskan hal-hal yang mereka tidak mengerti; Ketiga, mendorong terciptanya kelompok, untuk menghadapi musuh. Hingga kini, ketiga alasan itu masih terus digunakan manusia. Tidak ada pegangan yang paling ampuh bagi seseorang yang mengalami penderitaan berat selain agama; orang-orang miskin yang sengsara perlu agama; orang-orang kaya yang stress perlu agama; dan orang-orang yang merasa terancam nyawanya juga perlu agama. Bagi banyak orang, gunung meletus, banjir, tsunami, dan bencana alam lainnya adalah fenomena yang sulit dijelaskan; ketidakmengertian membuat mereka lari kepada agama, sebagai satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Manusia membenci kesendirian, karena itu mereka membuat kelompok. Ada banyak ikatan untuk menyatukan mereka, tapi ikatan agama adalah semen yang paling kokoh. Anak-anak Ibrahim berkumpul, membentengi diri dari penguasa yang lalim, jadilah Yahudi. Sekelompok orang di Nazareth berkumpul, mencoba melawan kuasa Romawi, lahirlah Kristen. Di Mekah, Muhammad diam-diam mengumpulkan orang-orang tertindas, muncullah Islam.

Seperti juga peradaban, agama memiliki usia; ada yang bertahan lama dan ada yang sebentar. Menurut Dennett, bertahan tidaknya agama sama seperti spesies pada makhlukhidup, yakni sejauh mana ia bisa bertahan menghadapi proses seleksi alam yang brutal. “Setiap hari ada dua atau tiga agama yang muncul,” tulis Dennett, “tapi lifespan mereka tak sampai satu dekade.” Ada agama yang berusia ribuan tahun, tapi ada yang hanya belasan tahun. Seleksi alam menentukan hidup-matinya mereka. Agama Mesir kuno bertahan lebih dari 2000 tahun, tapi kemudian punah tanpa bekas. Tradisi Yahudi sudah ada sejak 2500 tahun silam, tapi karakter agama ini sudah sangat berbeda dari pertama kali ia muncul. Agama berevolusi dan bertarung terus untuk memperjuangkan siapa yang paling pas (struggle of the fittest). Agama yang tidak cocok dengan perubahan zaman akan tergilas dan mati; yang cocok akan menang dan terus hidup.

Kesimpulan
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Freeman Dyson dalam resensinya terhadap buku Breaking the Spell yang dimuat The New York Review of Books. Menurutnya, ada dua jenis Ateis: pertama, Ateis biasa yang tak percaya Tuhan; kedua, Ateis sejati yang menganggap Tuhan sebagai musuh besarnya. Kaum Ateis biasa menjalani hidup secara rileks, karena mereka begitu meyakini bahwa dunia ini berjalan sepenuhnya tanpa Tuhan. Tuhan tidak ada; mengapa kita harus membicarakan sesuatu yang tidak ada? Sementara itu, kaum Ateis sejati selalu gelisah karena dihantui tanggungjawab untuk mengusir Tuhan dari dunia ini. Tuhan tidak ada, tapi ada banyak sekali manusia yang berusaha menghadirkannya. Jika hal ini terus dibiarkan, dunia terancam bahaya: kemasukan setan gampang disembuhkan, tapi kemasukan Tuhan, sulit dicari obatnya. Orang yang kerasukan setan paling-paling hanya meresahkan tetangga, tapi orang yang kerasukan Tuhan bisa mengganggu ketentraman hidup, meledakkan pesawat, menghancurkan gedung, stasiun kereta api, kafe, dan membunuh ribuan orang tak berdosa.

*Disampaikan dalam diskusi buku “Bangkitnya Ateisme,” di Freedom Institute, Jakarta, 20 September
2007.

97 Tanggapan ke “Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Darwin Alam”


  1. Saya blokir dulu pertamax-Nya, boleh??
    *mulai membaca*

  2. brainstorm Berkata

    buset.. panjang abizz
    tapi gue lahap abizz juga bro.
    tapi untuk sementara gue serap dulu ya :P

  3. Suluh Berkata

    Aku bersaksi bahwa Tiada tuhan selain Allah

    Konvensional ala islam di sekelilingku lebih selamat dan mendukung kehidupanku secara pribadi toch…

    ngikut………….. he he he

  4. danalingga Berkata

    Bunuhlah Tuhan maka akan kau temukan Tuhan.

    *ngikut juga*

  5. zal Berkata

    ::ini resensi buku/tulisan bro, :lol: tak kiraian apaan…
    tapi aneh juga ya seorang ateis biasa, memandang Tuhan Tidak Ada, malah Ateis sejati sibuk menghilangkan Tuhan, bukankah Ateis sejati malah lebih dekat pada mengakui adanya Tuhan….

    ::permasalahannya mungkin, titik pencarian, namun apakah tulisan tersebut sudah menggambarkan total pencarian penulis, atau sekedar putus asa dengan keadaan yg terjadi dalam pandangan mata…

    ::memang rasanya ada masa indah dalam suatu pertwmuan-pertemuan, ada masa uji dalam yang ditahukan, sepertu rumusan seperti E=MC2, juga perlu diuji, Teori darwin juga perlu diuji, nah posisi ini mungkin masuk dalam sektor gelap, namun harus berjalan, sering menimbulkan kegelisahan dan keputus asaan

    ::penderitaan seorang ibu dalam mengandung bayi, atau juga penderitaan jati dimasa musim panas yang merontokkan seluruh daunnya, dan penderitaan bunga pada saat mekarnya yg harus berhadapan dengan kumbang untuk menghadirkan, kembang baru….

  6. syahbal Berkata

    panjang banget dah…

    tapi semakin bikin saya yakin bahwa

    “tiada Illah selain Allah”

    Allah Khaliqi
    Allah Rabbi
    Allah Illahi

    innallah ma’ana

  7. joyo Berkata

    @qzink
    ah bro, mudah2an itu bukan pertamax terakhir mu

    @brainstorm
    silahken bro

    @suluh
    kompromi ya, gud

    @danalingga
    sudah saya bunuh :D

    @zal
    saya kira beliau tidak dalam keadaan putus asa, tidak juga sedang dalm proses pencarian, beliau sekedar memaparkan fakta2 yg berbeda dari yg biasanya diyakini banyak orang, bahwa ini lho ada orang2 yg berpikiran spt ini karena hal2 itu. Tentunya pikiran2 athies atau setidaknya buku2 atheisme tidak akan muncul jika para penganut theism terutama para pemimpinnya punya sikap toleran dan welas asih

    @syahbal
    syukurlah, emmm tapi apa hubungannya yak? apa yg membuat dirimu semakin yakin?

  8. syahbal Berkata

    @joyo

    1. ga tau apa yang bikin tambah yakin itu…
    mungkin…apa yang dikatakan oleh mereka itu tidak relevan…bahkan terlalu sombong…untuk mengatakan tuhan itu tidak ada…bahkan orangnya sendiri mengatakan “tiada tuha selain darwin”..berati tuhan itu ada…

    2. mau nanya…kan di atas ada tulisan…
    muhammad diam-diam mengumpulkan orang tertindas, muncullah islam…

    prasaan ga juga ah… umar, abu bakr, utsman, ali, khalid bin walid, hamzah abdul muthalib, de el el…ga pernah ditindas…malah asalnya bebrapa dari mereka itu orang yang menindas… bahkan muahammad sendiri keturunan muqadim(pemimpin)…

    ntar sambung lagi..lagi geledek besar-besaan…

  9. joyo Berkata

    @syahbal
    1. anda sedang bereaksi bro, tulisan diatas adalah aksi, karena keyakinan anda bersebrangan dg tulisan diatas. bagi saya semuanya tampak wajar, klo anda melihat mereka bertingkah sombong, maka (kemungkinan besar) mereka melihat anda (maaf) bodoh, knp bodoh? bagi mereka agama mencegah manusia bersikap apa adanya dan objektif, bagi mereka agama tidak membawa kebaikan melainkan bahaya, faktanya, tidak ada perang yg selama dan selanggeng perang agama (yah walopun menurut saya bisa jadi karena alasan ekonomi atau politik yg dibalut sentimen agama).
    kalimat “tiada tuhan selain darwin” , kata darwin disini mungkin simbol evolusi, simbol ilmu pengetahuan, sesuatu yg natural. bahwa tuhan tidak ada yg ada nature.

    2. sblm mbahas sejarah islam, ada satu hal yg menurt saya harus dan wajib dilakukan, apa itu? anda harus siap membuka pikiran untuk menerima fakta sejarah, sebab sangat umum dan sering saya jumpai mereka yg muslim tertutup akan hal ini, bahwa turunnya Islam adalah sesuatu yg sakral, thus sejarahnya jg sakral, hal ini menyebabkan penilain menjadi tidak objektif. siapkah anda?

    anda harus punya sikap bahwa yg terjadi di Arab sono pada waktu itu adalah peristiwa normal, sama dengan peristiwa2 lain di belahan bumi lainya.

    siapkah anda sebagai seorang muslim menerima kenyataan bahwa misalnya, AlQuran yg katanya satu dan murni itu tidak se’satu’ dan se’murni’ yg diyakini mayoritas muslim?

    gledek, bagi kita manusia modern yg hidup di jaman ini, adalah sesuatu yg natural, biasa dan lumrah, itu hanya sekedar proses fisis ketika terjadi perbedaan potensial di awan, shg menimbulkan loncatan istrik (kilat) yg diikuti bunyi gelegar karena gesekan udara. tapi, bagi mereka, para nenek moyang kita yg hidup dijaman baheula, geledek mungkin salah satu dewa yg mereka yakini eksistensinya.
    ha mbok sampe pingsan anda menjelaskan bahwa geledek itu bukan dewa ya tetap mereka gak akan percaya.

  10. brainstorm Berkata

    wah seru nih..

    joyo, biarkan gue menggantikan Qzink sialan yang kabur entah kemana itu.. hiks.. gue masih sedih tapi :cry:

  11. joyo Berkata

    @brainstorm
    qzink lagi ngadem bro, tapa brata, nyari wangsit, biar bisnisnya lancar gitu, sedih juga berkurang satu orang yg bisa disambit2 pake sendal jepit butut :(

    *nyodorin kopi panas dan rokok*

  12. sitijenang Berkata

    kepercayaan vs kepercayaan… dan keyakinan vs keyakinan?… seperti salah satu episode film startrek. “bagaimana Anda yakin Tuhan ada? Planet Anda bermasalah dan Dia tidak menyelamatkan kalian.” kata kapten Pickard ketika sekelompok penganut agama di sebuah planet. dijawab balik “Anda merasa yakin sains bisa mengatasi segala hal dan Tuhan tidak ada. Di sisi lain, Anda tidak bisa apa-apa ketika sains tidak mampu menjawab persoalan hidup kami. Lalu buat apa kami percaya?” muahahaha… sama-sama gak tau pasti tapi nyeyel. kalo kata temen saya, “mending gua percaya aja, tapi pas mati ternyata gak ada apa-apa. daripada gak percaya, tapi setelah mati nyatanya ada. bisa celaka gua.”


  13. @joyo & brainstorm
    he?? jangan menggunjingkan orang yang sudah mati ya, akhi.. itu hanya akan membuat arwahnya gak tenang.. :twisteed:

    *jah, oot selepas seppuku memang nikmat*

  14. joyo Berkata

    @siti jenang
    Betul syeh, perbedaan itu biasa, lumrah, yg perlu dilakukan adalah pengertian dan saling memahami, sudah menjadi resiko atheist apabila nanti pas mati ternyata ada beneran Tuhan sang penghitung amal, saya kira itu sudah dipikirkan mreka yg atheis dan mereke memilihnya dg kesadaraNya…ya monggo, toh itu urusan Tuhan. Urusan kita manusia ya hidup damai berdampingan dalam perbedaan, toh segala gala yg ada ini representasi dan milik Tuhan (klo ada :) )

    @qzink
    ini ni contoh manusia terkutuk bandel,udah ‘mati’ masih aj gentayangan…
    you are wlkom bro :D

  15. sitijenang Berkata

    muahaha… btw, di akhir cerita startrek itu.. kalo gak salah inget… kedua belah pihak melakukan upaya dengan keyakinan masing-masing. pesawat Enterprise gak bisa memberi solusi pasti, cuma sebagian aja. di sisi lain, umat beragama di planet itu berdo’a doang, tanpa upaya lain. hasilnya, planet kembali aman untuk ditinggali karena sebab tak terduga. kedua kubu akhirnya menghargai upaya masing-masing, tapi tetep aja “berseberangan”… muahahaha…

  16. Santri Gundhul Berkata

    Sejak awal mula AGAMA diperkenalkan kepada khalayak….yang ada malah PERTUMPAHAN DARAH di mana-mana…Ada apa yah…AGAMA kok menjadi BIANG KEROK Kanibalisme..?? Sistemnya yg salah kah, Manusianya yg gak Mudheng ataukah Agama malahan mempersempit KODRAD dan IRODAD manusia yg telah diberikan Tuhan..??
    Lah..lah…katanya Agama entuh mengajarkan KEBAIKAN, KEBAJIKAN dan Kasih Sayang…kok…REALITASNYA…??.
    Wis embuh…apalagi sekarang Agama sudah merambah dalam percaturan POLITIK…akibatnya…??
    Agama sudah TIDAK LAGI menjadi jalan KEDAMAIAN bagi siapa saja yang melaluinya….
    Duh..Gusti…punten..punten dalem Gusti..

    Ngglesod sambil ngelap Air mata….

  17. RETORIKA-1000DS Berkata

    [elus elus jenggodh, gulung celana hitamkan jidat]

    @ Joyo

    Afwan kalau ana menganggap Antum harus ana fotong fotong fake sendokh! Antum memiliki ilmu pengetahuan yang dankal sehingga antum telah melakukan penyesatan.

    Antum seorang yang layak untuk di fancung oleh kaum ana!
    :evil:

    [cukur jenggodh, pasang anting, buka celana]

    @ joyo

    Jujurnya sih, kelompok agama minoritas justru lebih dihargai baik didalam kebebasan beragama, beribadah dan berekspresi dibanding bagi mereka yang hidup dinegara di bawah hukum agama (bila agamanya berbeda dengan agama pemerintah0 iya toh ?

    HIDUP SEKULARISME :mrgreen:

  18. abah dedhot Berkata

    *cape duluan ngebacanya… sampe abis tenaga buat nulis komennya euy..*
    @mas joyo
    setelah dibaca & diamati secara teliti… justru pangkalnya yang sangat burem… mengenai definisi “tuhan” yang diperdebatkan / dipermasalahkan. dalam ajaran-ajaran agama “katanya”, ada banyak tuhan, ada “tuhan duit”, “tuhan kehormatan”, “tuhan jabatan” dsb. Jadi tuhan nya yang mana yeuh…???
    Pemahaman para pemeluk agama (yang “katanya”) atas dasar / berpedoman dari kitab sucinya… mempunyai persepsi “tuhan” yang berbeda-beda meskipun mereka dalam satu “label” agama.

    “tuhan” dari agama yang disebut diatas juga… kok, ngga sama, dengan “tuhan”nya abah, ya…??? mungkin abah ngga termasuk dalam “label” agama yang dipaparkan diatas… :lol:
    dan abah SETUJU dengan pernyataan :
    “Tuhan tidak ada; mengapa kita harus membicarakan sesuatu yang tidak ada?”
    maknanya… kalo mau membicarakan “tuhan”, kitanya mesti “minggat” dulu… “kita” mesti “sirna”, baru bicara “tuhan”.
    mungkin ini yang di maksud oleh mas dana..?? Apakah berarti mas dana & abah termasuk golongan ini…??? :lol:

    secara garis besar dan dalam banyak hal, abah SETUJU dengan “pola pikir” & pendapat para ilmuwan yang dipaparkan diatas. begitulah seharusnya manusia “mencari”. ngga asal telen aja.
    ada di salah satu “label” agama, dalam ajarannya… yang meWAJIBkan, umatnya untuk belajar, mencari ILMU.
    Cuma, disaat menarik kesimpulan, para orang yang dianggap “pinter” ini terlalu terburu-buru, kurang bijaksana… bagaimana bisa mengungkapkan “kejahatan” kalo tidak faham “kebaikan”, kenal “kemiskinan” karena faham “kemakmuran”, tau “kanan” karena adanya “kiri” dsb. …mereka masih “kurang pinter” (baru setengah jalan) untuk bisa memahami kebodohan dan keterbatasan “diri”nya. Kalo memang “tuhan” yang dimaksud adalah Sang Maha Tanpa Batas, sampe kapan pun, mereka ngga bakalan bisa ketemu / nyambung / menjangkau NYA. Memang… kalo mencari “tuhan” diluar “diri”, suka gitu tuh… pada nyasar…

    dan bila dikelompokan… para ilmuwan itu sederajat / segolongan sama si “jenar” nya mas dana, beda tipis, 11 12 lah… :lol:

    salam

  19. Suluh Berkata

    @joyo:

    biar rame, faleri ajak aja kesini diskusi gil… hwakakakakkakaka… aku nonton gelar tiker wae… biyen yoch aku ditonton toch…. geli inget masa lalu… he he he…

    *lagi makan popcorn ma kopi*

    :lol:


  20. Saya tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau gak, tapi kalaupun ada, saya rasa peran beliau tak lebih hebat dari tokek.
    Dan oleh karenanya manusia yg memohon sesuatu kepada beliau sebenarnya sama kayak menghitung suara tokek.
    Bukankah seperti itu pula cara kerja buku2 teodisi? Kalo sesuai keinginan, kita anggap Tuhan maha baik, tapi ketika suara tokek jatuh pada hitungan, “gak!” tidak sesuai keinginan, kita menghibur diri sendiri dgn kalimat, “Ah, mungkin Tuhan tokek cuma kebetulan aja berhenti di hitungan: “gak!” punya rencana lain.”

    *kabur sebelum di cap arwah tersesat*

  21. brainstrom Berkata

    @ qzink666’s gentayangan

    dasar arwah sesat, salam buat jin ifrit ye.. :twisted:

  22. perempuan Berkata

    Sam, mikir dulu ni baca postingan ini, Pwanjang banget….
    Baca judulnya, weh weh, saya pertimbangkan dulu 1000 kali ngikut apa ngak?.
    Tapi boleh wat dibaca, nambah ilmu :-)

  23. extremusmilitis Berkata

    Weleh, ini postingan apa buku yaks? :roll:
    Btw, aku bangga, aku bahagia karena aku mengenal dan percaya pada Tuhan ;)

  24. joyo Berkata

    @sitijenang
    Tu kan damai, mustinya gitu Syeh, atheism juga keyakinan (bahwa Tuhan gak ada), sama seperti mereka yg meyakini Tuhan ada. IMO, we can believe if God is exist yet we can’t prove it.

    @santri gundul
    Gini Njeng, klo menurut om Daniel Dennet (yg salah satu bukunya disebut dalam tulisan diatas), agama, awalnya muncul salahsatunya untuk ‘mendorong terciptanya kelompok yg kuat dan solid’, dg begitu kelompok tadi bisa bertahan dari serangan klompok lain. Secara internal kelompok tadi mengajarkan kebaikan, kerukunan, aturan perkawinan dan moralitas, hal ini juga demi meningkatkan kemampuan bertahan hidup. Tapi secara eksternal aturan2 yg baik2 tadi bisa berubah seratusdelapanpuluh derajat, misalnya, mereka yg bukan kami adalah kafir shg pantas dimusuhi bahkan diperangi, buahkan memerangi mereka adalah kewajiban yg imbalannya surga abadi dg 70 bidadari (kok gak ada bidadaranya yak?)
    Ah tapi mbuh lah
    *ikut ngglesod*

    @retorika
    Amfun akhi, hamba akan bertobfat :D
    Setuju, kembalikan agama pada masing2 penganutnya.

    @abah
    Iya Bah, rencanaya tema tulisan selanjutnya adalah tentang definisi tuhan2an itu, untuk Sang Maha Tanpa Batas, uhhhh saya kira siapapun gak mampu mengucapkan apalagi menuliskan definisinya, hanya ter’sebut’ Alam (lalu diam).

    @suluh
    Wah, klo diajak kesini nanti malah main kuda2an :D

    @qzink
    Woi arwah sesat, tunggu, tuhantokeknya ketinggalan ni
    *dasar arwah gemblung*

    @brainstorm
    *mengamini*

    @perempuan
    Silahken dipertimbangken, sapa tau Tuhannya mba sama dengan Alam saya

    @extremusmilitis
    Ini pidato mas :D
    Syukurlah

  25. Butterfly And Wind Berkata

    aloooo… nice article ^^
    waaa.. sebelumnya saya berpikir ini udah memasuki era DOG – Death Of God.. tapi bener juga ya kejadian 11/09 itu jadi memicu..
    saya cuma baca yang Richard Dawkin God’s Delution.. buat yang mau
    http://www.indowebster.com/Richard_Dawkins_The_God_Delusion.html
    tapi jujur saya menjadi atheist lebih karena psikologisnya tidak sehat.. saya lebi terdorong oleh Freud/Jung gitu..

  26. viar Berkata

    weks…panjang bener! baca ntar aja, sekarang tanda tangan daftar hadir aja dulu =P

  27. abah dedhot Berkata

    “aku bersaksi, Tiada tuhan selain alam”
    aku bersaksi bahwa gula adalah pemberi rasa manis (pemanis).
    yang aku saksikan adalah GULA, suatu kristal kecil berwarna putih dan larut dalam air.
    tapi… sebenar-benarnya yang aku cari adalah MANIS nya (bukan gulanya)

    salam

  28. zal Berkata

    ::abah, kayaknya masih ada lanjutannya..yakni yang menyatakan tentang rasa ini,manis.., yang seperti itu asin…, yang seperti ini panas… kok ya bisa ada persepsi pada rasa-rasa itu… :lol: sepeti injit-injit semut aja ya…

  29. syahbal Berkata

    @joyo

    1. ya masih mending bodoh daripada sombong…itu kata saya toh…

    2. lagian bukan agama yang membawa masalah atau bencana…tapi manusianya sendiri lah yang membawa bencana…terutama yang sombong…

    3. fakta sejarah…knapa harus ga siap…klo itu memang fakta…

    4. kejadian diarab sono saat itu merupakan kejadian normal yang terjadi pula dibelahan bumi lain…kurang tepat…coz di persia, romawi, china, india, yunani, de el el…sudah makmur…sedangkan di arab kehidupannya masih murni…dan belum berubah…masih menyatu dengan alam…masih bodoh(karena tidak diajar, bukan memang mereka bodoh)…orang arab sangat pintar bersyair…yang merupakan trend saat itu…

    5. “siapkah anda sebagai seorang muslim menerima kenyataan bahwa misalnya, AlQuran yg katanya satu dan murni itu tidak se’satu’ dan se’murni’ yg diyakini mayoritas muslim?”
    kalao ada bukti,,dan bisa dibuktikan,,,bisa diyakini,,,bisa diserap tidak hanya oleh otak tapi juga oleh hati…knapa tidak???

  30. usman surya Berkata

    Al-Qur’an itu asli karangan Muhammad. Tapi concern nya harusnya bukan itu. Concern nya seharusnya: Kenapa Muhammad mengarang Al-Qur’an?

    Karena dia pusing ngeliat orang Yahudi yang sok suci dan ahli kitab Nasrani yang petantang-petenteng, sementara orang arab kebanyakan seperti dia cuma dianggap angin.

  31. abah dedhot Berkata

    @mas zal
    Iya mas… bertingkat-tingkat, berlapis-lapis, tepatnya 7 lapis…
    sampai kepada “tidak ada apa-apa”… WAH… :lol:
    It’s very dangerous… please try this at home… :lol:

    salam

  32. sonny Berkata

    sempurna

  33. qzink666's gentayangan Berkata

    Lebih sempurna lagi kalo blog ini segera di update.. :P
    *setan ga bisa ditimpuk*

  34. SANTRI GUNDHUL Berkata

    Haks..hak…
    Abah Dedhot..kok yang dicari masih RASA MANISNYA…..?? Pedahal entuh kan masih RASA yang dirasakan oleh badan Jasad Kasar…??. Jadi..Apa dan Siapa sesungguhnya dibalik Rasa Manis tersebut…?? Adakah…adakah…??. GAK ADAAAAAA…..yag ada hanyalah KETIADAAN RASA, BAU, WARNA bahkan SUARA sekalipun…Bagaimana ada RASA jika kita sudah MENYATU dengan san SUMBER RASA…??

    Heks..heks…JERUK makan JERUK neh….
    Halah…halah…Kabuuuuuuuurrrrrr….mengko disrampang mbah Dedhot..

    Salam Kang Joyo…nice, perfect your Blog.

  35. zal Berkata

    ::boss, bukannya mengatakan “tidak ada”, berarti sebelumnya merasa kalau sesuatu itu “ada”, dan mengatakan “ada” dari sesuatu yang sebelumnya disangka “tidak ada”

    Bagaimana menggambarkan sesuatu yang tidak timbul imajinasi padanya,

    kalau dikatakan adanya bentuk keputus asaan, rasanya bisa berlaku pada pencarian apa saja toh bro, maksudnya.., jika dalam benak kita pepaya itu bulat seperti bola, bukankah meski di tangan kita diletakkan pepaya tersebut, kita belum merasa jika kita telah menemukan yang namanya pepaya…

    namun, meskipun demikian, selalu ada warna yang baik tersajikan, bahkan seorang atheis “lebih mencari…, dibanding yang sudah percaya begitu saja…”
    kalau di AQ disebutkan “itu lantaran mereka tidak mengenal dengan pengenalan yang benar Tuhan mereka..”

    aku engga tahu seberapa kadar pengenalan socrates terhadap Tuhan, namun kesimpulanku dari apa yang ditulis bahkan socrates telah menemukan 4 (empat) sifat Tuhan, mungkin tanpa ada pelajaran tentang sifat-sifat Tuhan sebelumnya…

    Kalaulah diperumpamakan dengan pengenalan pribadi dan pribadi, jika tidak berteman dekat, mustahil kita mengenal pribadi/ sifat teman kita…

  36. joyo Berkata

    @Butterfly And Wind
    Yup nice artikel, yg nulis (mas Luthfi) kompeten soalnya :D
    Sayang buku2 sperti ini gak bisa didapetin di Indonesia.
    Btw atheis juga keyakinan kok, dan siapapun berhak milih apa yg diyakininya, right?!

    @viar
    Yo, yg tanda tangan dapat jatah :D

    @abah
    Saya nemu gulanya gara2 rasa manisnya Bah, gula nya sendiri sudah gak ada tinggal rasa manisnya sahaja

    @syahbal
    1. bodah dan sombong adalah 2 sifat yg berbeda. Dan dua2nya bisa sekaligus dimiliki oleh seseorang/sekelompok orang. Sombong mana Richard Dawkin/ Charles Darwin sama mereka2 yg suka maksaain keyakinannya (agama) ke orang lain, bahkan menganjurkan pemaksaan dan pembunuhan demi hal tersebut, orang2 ini bahkan mendahului Tuhan (klo ada), sok menjadi juru bicara Tuhan dan Kebenaran padahal otak kosong.
    2. agama itu sama seperti ilmu pengetahuan, bisa bermanfaat dan berguna ato sebaliknya menghancurkan dan merusak ya karena manusia. Agama dan ilmu pengetahuan itu hanya alat bagi manusia, baik dan buruknya ditentukan manusianya. Saya dan mungkin para ilmuan atheis diatas ndak pernah nyalahkan agama, kami bahkan menyadari bahwa agama adalah keniscayaan bagi adanya manusia, yang kami kritisi adalah efek2 samping dan penyimpangan2 dalam pengertian dan pelaksanaan agama. Agama bisa menghasilkan orang se-welas asih bunda Theresa, Mahatma Gandhi, tapi bisa juga menghasilkan mesin2 penindas seperti pada saat gereja2 di Eropa pada abad pertengahan, seperti penguasa Taliban yg mendasarkan aturan2 negara pada kitab suci agama. Silahken anda mo jadi seperti apa dg alat agama anda.
    3. silahken dicari sendiri faktanya seperti apa, mungkin bisa dimulai dg pertanyaan berikut: Apakah kitab suci suni sama dengan syiah?
    4. apa maksutnya kehidupan masih murni? Lha barusan bilang bodoh kok trus ada kata2 pintar bersyair, saya ngerasa ada kontradiksi pada pernyataan syahbal.
    5. maksutnya diserap dengan hati itu gimana yak?

    @usman surya
    Argumentasinya kurang lengkap bro, silahken dilengkapi lagi :D

    @sonny
    Moksa?

    @qzink
    Lha blog mu aj gak keurus, mandi dulu gih :D

    @santri gundhul
    Iya ya manis itu bukan pada gulanya tapi pada saya nya
    *manggut2*

    @zal
    ‘ada’ dan ‘tidak ada’ itu konsep, ketika para ilmuan diatas bilang ‘tidak ada’ itu karena ada konsep ‘ada’ dari kelompok lain (ahli kitab), nah setelah dicari2 ternyata rasa manis telah berubah jadi pahit, maka ilmuan2 tadi menyimpulkan bahwa sang Gula nya para ahli kitab ‘tidak ada’.

    Tapi balik lagi, ini masalah definisi Gula, Gula yang dimaksut manusia2 sekarang yg ngakunya juru bicara Tuhan itu, mungkin berbeda dg Gulanya para ilmuan tadi, tapi apapun namanya, Gula, Permen, Manisan ato apalah tetap saja rasanya manis.
    Bukan begitu Ki?

  37. sez Berkata

    blum selesai baca sich…
    tapi menurut temen sayah…
    agama adalah sesuatu yang ‘instan’ untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tak terjawab…
    menurut saya???
    saya selesein bacanya dulu yaaaa :p

  38. caplang[dot]net Berkata

    entahlah… masih manusia sih… :)

  39. Kopral Geddoe Berkata

    Wah, biangnya memang benar-benar the Four Horsemen itu, ya? Dawkins-Hitchens-Harris-Dennett. :lol:

    Buat saya sih, bukan masalah percaya Tuhan itu ada apa tidak, melainkan kebebasan untuk mempercayainya dengan berbasiskan integritas ilmiah itu. :D

  40. Cabe Rawit Berkata

    Ane kagak keburu cape bacanya… ane copy aja ya… soalnya menarik gitu…

    Buat ane, Tuhan ada buat yang percaya ada, juga buat yang yakin tidak ada. Tuhan tetep satu dan sama, buat yang monotheis, politheis bahkan yang atheis…

    Tuhan kagak butuh ama pengakuan kita tentang keberadaan-Nya.

  41. Cabe Rawit Berkata

    Sorry salah, maksudnya “Ane kagak keburu selesai bacanya, cape… dst”

  42. Goenawan Lee Berkata

    Wah, biangnya memang benar-benar the Four Horsemen itu, ya? Dawkins-Hitchens-Harris-Dennett. :lol:

    Yeah, dan ente bagiin e-booknya via 4shared ke ane… Kekekee… :lol:

    *bookmark*

  43. abah dedhot Berkata

    @santri gundhul
    :lol: suka nyolek-nyolek aja… ah.
    kalo bahasa Kyai Jabrig mah, itu adalah :
    - alam uwung-uwung.
    - tambining pucang.
    - A I U.
    Jangan terlalu buru-buru di bawa ke sana… Amek geni adadamar.
    sir tetaplah menjadi sir, tetap “mahal”.

    Kok jeruk yang satu ini… agak kecut yaa..??? :lol:
    *mau kabur kemana…??? semua dalam pengamatanKU, tidak ada yang tersamar sesuatupun, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benderang, tidak terasa apa-apa…. wah :lol: *

    salam

  44. Nazieb Berkata

    Halah, komen telat.. tak apalah..
    Ah, menurut saya apabila Lakum Dinukum Waliyadin bisa terlaksana dengan baik, ndak bakal gontok-gontokan deh..

    *uda telat, komen ndak jelas lagi… :mrgreen:

  45. Santri Gundhul Berkata

    Balik maning….srandhalku ketinggalan Kang Joyo…
    mana neh…ada nggak…??

    lah…Abah Dhedhot pake istilah A, I, U ( kejawen banget neh )
    A = Aku
    I = Iki
    U = URIP
    Hananing URIP sebab ono sing NGURIPI, Hananing Kawulo sebab yoh Hananing GUSTI. Yen ora ono Gusti yoh wis mesthi ora ono Kawulo.
    dari sinilah timbul yang namanya PERSAKSIAN….
    Gitcu yah Bah….??

    Alam uwung-uwung = Gelaring Jagad Dumadi

    nah… iki sing ora mudheng aku Bah…
    Tambining Pucang opo to Bah..??

    Ngenteni karo Ngglesod neng kursi njur NGUDUD ngancani Kang Joyo..

  46. joyo Berkata

    @sez
    hmmm agama memang champin sebagai pengisi celah ketaktahuan manusia :D

    @caplang [dot] net
    menurut saya, tuhan2 yg disebut2 para ilmuan diatas gak ada artinya tanpa manusia.

    @kopral
    sulit mendefinisikan kebebasan… :(

    @cabe rawit
    sepakat :)

    @gunawan lee
    punya yg daniel dannet gak?, share dung :D

    @abah dan Mas Gundhul
    monggo kopi nya diminum mumpung masih anget :D

    @nazieb
    sepakat

  47. Somba Mual Berkata

    jika begitu, marilah tak usah mempercayai agama, percaya sajalah pada tuhan…

  48. syahbal Berkata

    1. y sombongan darwin lah.. ngejelasin komposisi n cara bikin kue tapi g bisa bikin kuenya..
    2. g bisa kayak siapa”.. mahatma,theresa,osama,n de el” itu orng yg berbeda..menempuh cara yg berbeda tuk peroleh kebaikan.. lgyan baik/buruknya agama g ditentuin ama penganutnya.. agama slalu baik..qta nya aja yg buruk..
    3. kitab sunni dan syiah.. ini saya lgy nginep dirumah orng syiah (paman saya).. n td baru beres ngaji brng.. tp alquran nya sama.. tak ada beda..hmm isu itu mah untuk ngadu domba suni n syiah aja..lgyan klw emang beda pasti dah ada d toko buku…coz penganut syiah lbih bnyk dr ahmadiya..
    4. kan bodo nya bukan karena memang karena mereka bodo tp karena mereka g diajar/dikasi tau.. tp mereka lbih untuk menciptakan lifestyle sndiri.. bahkan sampe skarang mereka masih sperti itu..punya lifestyle sndiri..

  49. qzink666 Berkata

    ngejelasin komposisi n cara bikin kue tapi g bisa bikin kuenya..

    bukan ga bisa kali, bos.. Tapi karena evolusi emang tidak pernah dapat “dibuktikan”. Evolusi adalah proses di masa lalu dan karena itu memang tidak dapat langsung diamati. Seperti segenap pengetahuan sejarah, ajaran evolusi pun berdasarkan petunjuk2 yg tdk langsung merupakan evolusi, melainkan pendukung evolusi sebagai penjelasan satu2nya yg sesuai. Akan tetapi data2 yg membuat gagasan evolusi menjadi sebuah teori kuat memang berlimpah-limpah.
    Lagipula kalo orang tetap mempertahankan bahwa semua makhluk yg ada sekarang diciptakan sekaligus sekitar 6500 tahun lalu, ia harusnya juga menerima bahwa fosil2 pithecanthropus errectus di bebatuan di pinggir Bengawan Solo, begitu pula fosil2 Dynosaurus Rex, diciptakan secara khusus sebagai fosil..
    Lain halnya sama sekali apabila kita bertanya apakah mekanisme evolusi sudah diketahui. Justru disinilah letak masalahnya. Tentang fakta evolusi tdk ada yg ragu2 lagi, kecuali berdasarkan sebuah kepercayaan yg secara apriori tdk mengizinkan menerimanya..
    tzah, komengku kok panjang amat yak.. :D
    .

  50. Pyrrho Berkata

    Dalam pengertian saya, Tuhan itu ada 2 :

    - Tuhan yang ada “disana”
    - Tuhan yang ada “disini”

    Tuhan yang ada “disana” itulah yang selama ini diajdikan bahan perdebatan selama ribuan tahun oleh para agamawan dan para filsuf.

    Sementara Tuhan yang ada “disini” itu nggak pernah tersentuh oleh gonjang-ganjing perdebatan manusia. Karena Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang subyektif, personal, dan berhubungan dengan setiap individu.

    Tapi, dari beberapa buku Empat-Sekawan itu, saya nggak terlalu setuju dalam pengambilan landasan teori mereka. Landasan mereka kebanyakan adalah landasan “kegagalan agama” dlm menyikapi berbagai fenomena yang terjadi di dunia ini. Dan dari landasan itulah mereka menariknya ke arah Tuhan kaum theis itu. Saya lebih senang kalau memakai landasan epistemologi atau eksistensialisme. Karena menurut saya, berangkatnya bukan dari luar [dari fenomena, gejala, dll] tapi dari dalam [rasio, manusianya].

    Dan juga keseringan yang saya lihat, perdebatan itu malah menjurus pada burden of proof. :mrgreen:


  51. [...] baik hati dan mood lagi bagus, maka saya menyediakan 3 buah buku yang pernah dibahas oleh Mas Joyo [disini]. Ketiga buku ini membahas tentang kebangkitan atheisme di dunia. Ketiganya adalah Mbah Hitchens, [...]


  52. Olahraga otak. Saya simpan dulu ya.

    Yang jelas sampe sekarang juga saya belum menemukan Tuhan, tapi saya sudah menemukan Darwin. :mrgreen:

  53. narakushutdown Berkata

    “sebaliknya seperti ditulis mas Luthfi, Osama bin Laden dan Imam Khomeini pernah menyuruh manusia membunuh manusia lain.”

    yang di kritik yg islam terus dasar orang liberal kafir/bajingan.
    walker bush si kristen itu malah lebih banyak membunuh orang di dunia dan yg dibunuh itu semua muslim malah gak dibahas yah paling tidak kalian orang2 bodoh ini jadi tau kata2 jihad.

  54. qzink666 Berkata

    @narakushutdown
    Yawdah.. Monggo perang..
    Saya nonton ajah.. :D
    *liatin orang saling bunuh atas nama tuhan agamanya*


  55. @narakushutdown
    shut ur self down, Dude. :lol:
    Bah, beginilah kenapa Islam ga maju2..

  56. Cabe Rawit Berkata

    Ah, mangkin rame aja… Ane udah siapin ngasah si Gobang buat nebas orang yang seenak jidat ngatain orang Kafir, liberal, misuh-misuh ama sesama muslim, misuh-misuh ama sodara sebangsa beda agama… :evil:

    *ngumpet*

    Ayayayya,,, kayakna ada orang yang belon ngerti beda antara Teori ama Hukum yak? ??? Rufanya, kagak selesai belajarnya… :mrgreen:

    Ono yang ngomongin jihad… Ke Afganistan sono… Ladang jihad-na masih luas :)

  57. danalingga Berkata

    Udahlah! Buang aja agama ituh. :lol:

    *siyul-siyul kesenangan nemu bukti*

  58. zal Berkata

    ::dan yang dibuang, biar orang yang beragama keq gitu aja…, agamanya biar aja engga usah dibuang, kek makan dirumah makan padang…banyak lauknya…meskipun yang diembat kuah-kuahnya saja… ikan ciek.. ha..ha..ha… ngirit coy… kayak kami waktu di gerlong dulu.. :lol:

  59. danalingga Berkata

    heheheh… biar dramatis kesannya zal, dan biar punya efek jera. Yah saya harapkan sih orang-orang kek gitu bakalan kapok mengaku telah beragama. :lol:

  60. syahbal Berkata

    @narakushutdown

    waduh..waduh…
    sabar….sabar mas….
    jangan maen bunuh…
    orang-orang ini lagi nunggu azab Allah…ntar klo dah dateng azab baru deh tobat…
    tnang mas…tnang….

  61. syahbal Berkata

    @qzink666

    “Lagipula kalo orang tetap mempertahankan bahwa semua makhluk yg ada sekarang diciptakan sekaligus sekitar 6500 tahun lalu, ia harusnya juga menerima bahwa fosil2 pithecanthropus errectus di bebatuan di pinggir Bengawan Solo, begitu pula fosil2 Dynosaurus Rex, diciptakan secara khusus sebagai fosil..”

    ya kan bisa ajah Allah menciptakan makhluk laen yang mungkin sudah punah…dan kemudian menjadi fosil…

    seperti saat ini harimau jawa yang punah…mungkin beribu tahun lagi akan ditemukan fosilnya…dan dikatakan bahwa harimau ini adalah kakek dari harimau lain…bisa tak???

    coba deh pergi ke hadramaut,yaman…disana masih banyak orang yang tahu nasabnya sampai ke Nabi Adam SAW…
    tapi mereka gag tau klo nabi adam itu monyet…

    mau nanya dunks…fakta evolusi apah yang sudah terbukti???
    klo islam dah terbukti lom???

  62. syahbal Berkata

    @qzink666

    mang ada yah yang mengatakan klo semua makhluk hidup diciptakan secara sekaligus…
    gag deh…
    malah ada yang ngomong klo sebelum manusia menempati bumi ini…ada makhluk laen yang sudah lebih dulu menempatinya….tp gag tau juga seh…

  63. joyo Berkata

    @somba mual
    sepakat, tapi tuhan yg mana? hehehe :D

    @syahbal
    1. hmmm, saya lagi nulis ttg riwayat dan tori evolusi darwin plus teori evolusi modern, mudah2an bisa jadi wacana
    2. lha iya to, baik buruk itu selalu diukur dari manusianya (tindakan2 yg dihasilkan oleh manusia). dan bisa jadikan ideologi, keyakinan, ajaran agama salah, lha wong semua itu hasil cipta manusia, siapa coba yg nulis kitab dan memperbanyaknya? manusia kan? siapa coba yg mbaca, ngapalin, mahamin dan njalanin ajaran2 dalam kitab tsb, manusia kan? lha iya agama itu dari dan untuk manusia (dari manusia terdahulu ke manusia generasi berikutnya)
    3. sama ya, syukur lah, mmmm tapi sejak kapan ya sama?
    4. bangsa arab jaman itu sudah melakukan kontak dagang dengan orang di iskandariyah dan mesir, so saya kira klo mereka bodo itu lebih pada sikap hidup, spt bangsa kita sekarang, banyak contoh baik dari negara lain, kita tinggal ngadopsi saja, tapi nyatanya nyontoh saja kita gagal :D

    @pyrrho
    waduh, berarti pancasila kudo diganti mas, hehehe.
    hmmm dan sejatinya kita semua (mungkin) gak pernah bisa memahami Tuhan yg ‘disana’.
    soal landasan teori empat sekawan itu, saya kira, mereka punya alasan menggapa lebih menekankan pada kegagalan agama.
    hmmm mas pyrrho pernah kontak jual beli dg broker (makelar) nggak? Klo diperhatikan mereka selalu nyacat barang yg mereka beli dari kita, nah giliran kita beli dari mereka, tu barang yg mo kita beli dipuja puji setinggi langit biar laku mahal :D

    @calonorangtenarsedunia
    syukur klo udah nemu Darwin, syukur juga blm nemu Tuhan, soale klo nemu Tuhan nanti dituduh nabi palsu dan sesat, kan gawat :D

    @narakushutdown
    lha mungkin mas lutfinya juga susah cari contoh orang non muslim (pemuka agama lagi) yg nyuruh umatnya bunuh orang/umat lain. Gimana coba?
    Btw menurut saya, sebagai manusia saya patut berterima kasih sama negara US, karena telah merelakan anak2 mudanya mati sia2 membebaskan negara (Afganistan, Irak) dari Tiran (dg kedok agama). Eh jangan2 anda gak tau kan gimana keadaan masyarakat Afganistan dan Irak pada saat brada dibawah kepemimpinan Taliban dan Shaddam Husein.
    Btw lagi US nggak hanya ribut sama negara2 Islam kok, Uni Soviet (dulu) dan Korsel (skr) jg mereka ributin, dan menurut saya wajar lah mereka ribut lha wong negara besar dan berkuasa. Coba anda liat orang disekitar anda yg “besar” dan berkuasa pasti dia paling ribut ngatur ini itu :D
    Salam hangat, maaf komen saya di blog anda kurang baik, maaf. :)

    @qzink, cabe rawit, calonorangtenarsedunia, danalingga, zal, syahbal

    eh kupi sama pisang gorengnya silahken dicicipin lho mumpung masih anget :D

    @syahbal
    sepakat, ngapain ributin orang lain, perbaiki dulu diri sendiri, klo penguasa gak becus yg silahken dikritik tapi jangan main hakim dewe, gak baik, malah bikin rusuh. Lha bruntung mayoritas masyarakat jawa (indonesia) muslim, coba cuma 50%, dan sisanya agama kristen misalnya, apa nggak hancur ni negara, kasihan anak2 kita nggak punya masa depan, nggak bisa main kelereng, layangan, bercanda sama temannya, sama orang tuanya…kasihan….sareh mas…sareh… :)

  64. George W Bush, the President Berkata

    Ho… ho… ho…
    kenafa nama ay disebuth-sebuth…??? menuduh sembrank an, ay punya negara, suka menyerang muslim…??? no.. no… no…
    ithu fitnest… eh, FITNAH ASLI…!!! Hati-hati yaa, ithu lebih kezam dari membunuh… huh.
    ay tidak pernah en ay tidak akan funya niat menyerang muslim…!!!
    ay sangat sayang dengan peluru-peluru, rudal, roket dan nyang lainnya… itu harganya sangat mahal, tau…??? kalo ay pergunakan buat nyerang muslim… ehm, itu ferbuatan MUBAZIR, en ay funya TUHAN yang ngga shuka dengan ferbuatan ithu…

    muslim ithu ngga ferlu ay serang, karena…
    dia akan hanchur dengan sendirinya… ghontok-ghontokan sendiri, saling bunuh saling hazar sesamanya… pada merasa yang faling bener, nyang laen salah semua… memang yu yu orang udah ngga punya “nyaman” sama yu punya tuhan… kaciaaan deh luu…!!!
    Kalo yu orang memang berani… kenafa yu ngga protes aza sama yu punya tuhan..??? kenafa yu funya tuhan menciptakan banyak makhluk yang beda, dengan yu funya fikiran…???

    so… mulai sekarang, jangan bawa-bawa ay funya negara, kalo yu yu orang memang hobbynya perang melulu dari dulu… perang aza sendiri, jangan di sisa in, biar puas yu orang funya nafsu… samfe ludezzz…
    caooo…

  65. qzink666 Berkata

    @syahbal

    ya kan bisa ajah Allah menciptakan makhluk laen yang mungkin sudah punah…dan kemudian menjadi fosil…

    lha itu anda ngomong sendiri.. Itu kan sebagai bukti juga kalo adam itu ada kemungkinan hasil proses evolusi dari pithecanthropus errectus, atau sebaliknya..

    tapi mereka gag tau klo nabi adam itu monyet…

    sepertinya anda sudah salah dari awal dalam memahami teori ini.. Begini, bro.. Menurut teori ini bahwa terjadinya jenis-jenis makhluk hayati merupakan proses yg berjalan selama berjuta-juta tahun. Dan semua jenis makhluk hayati itu berkembang dari jenis organisme purba amat sederhana dalam proses alami yg lama, seakan-akan dgn sendirinya, langkah kecil demi langkah kecil, dan manusia pertama bukan makhluk yg sangat anggun dan luhur, melainkan berasal dari nenek moyang yg sama yg juga menurunkan bangsa kera..
    Jadi, dalam hal ini bukan serta merta bahwa manusia adalah kera yang berubah bentuk, melainkan bahwa manusia adalah hasil dari perkembangan alam..

    mau tanya dunks…fakta evolusi apa yang sudah terbukti???

    ya jelas banyaklah (inget, bro.. 99% ilmuwan biologi mengamini teori ini). Saya kutipkan contoh gampangnya aja tentang fakta alami yah..
    1. Anak-anak tidak pernah sama sekali sama dengan orang tuanya.
    2. Kenyataan bahwa di antara organisme-organisme di satu wilayah selalu terjadi persaingan di mana yg paling kuat memenangkannya.
    Jadi hanya ada 2 faktor, yakni variasi dan seleksi.
    Sekalian saya jabarkan prosesnya deh..
    Ciri khas dari segenap generasi baru adalah bahwa dia selalu sedikit berbeda dari induknya. Perbedaan atau variasi2 yg bersifat kebetulan dan alami merupakan bahan evolusi. Nah, diantara organisme2 sejenis yg sedikit berbeda satu sama lain itu slalu terjadi sebuah perjuangan untuk merebut sumber2 kebutuhan yg senantiasa terlalu sedikit untuk semua. Itulah struggle for life. Dalam perebutan ini yg menang adalah variasi yg lbh unggul, dimana unggul berarti lebih mampu menyesuaikan diri dgn kondisi2 alami ditempatnya. Yg kalah lama2 tersingkir, dan menjadi pokok perkembangan selanjutnya. Dgn demikian secara alami yg lebih kuatlah yg menang. Terjadilah survival of the fittest. Melalui langkah2 perubahan kecil lama kelamaan jenis2 organisme yg ada semakin berubah, dgn selalu menyesuaikan diri dgn tuntutan lingkungan yg juga terus berubah, sehingga akhirnya muncul organisme2 baru yg betul2 berbeda dari organisme induk dahulu.. Begonooo..

  66. qzink666 Berkata

    @syahbal

    mang ada yah yang mengatakan klo semua makhluk hidup diciptakan secara sekaligus…

    maaf, di bagian mana yah saya mengatakan seperti itu??

    @joyo
    maaf bro, kalo komeng saya terlalu panjang.. :P
    terimakasih..

  67. syahbal Berkata

    @qzink666

    “lha itu anda ngomong sendiri.. Itu kan sebagai bukti juga kalo adam itu ada kemungkinan hasil proses evolusi dari pithecanthropus errectus, atau sebaliknya..”

    kan saya ngomong nya
    “ya kan bisa ajah Allah menciptakan makhluk laen yang mungkin sudah punah…dan kemudian menjadi fosil…”

    bukan…
    adam dan “makhluk laen”yang telah menjadi fosil itu satu keturunan…
    kumaha seh??

    “Jadi, dalam hal ini bukan serta merta bahwa manusia adalah kera yang berubah bentuk, melainkan bahwa manusia adalah hasil dari perkembangan alam..”
    truz knapa kera it ga ikut berubah bentuk…kan sama-sama menjalani zaman yang sama…sama-sama tinggal di hutan…

    kumaha seh??

    nanya dunk…

    pithecantropus dan sahabat2 nya kan klo ga salah masuk pelajaran sejarah..bener ga??sekedar nanya doang…ga usah dijelasin…

    “Melalui langkah2 perubahan kecil lama kelamaan jenis2 organisme yg ada semakin berubah, dgn selalu menyesuaikan diri dgn tuntutan lingkungan yg juga terus berubah, sehingga akhirnya muncul organisme2 baru yg betul2 berbeda dari organisme induk dahulu.. Begonooo..”

    ok…saat ini kondisi alam sidah benar-benar berubah…lalu kenapa para kera,,singa,,,beruang,,burung,,,de el el…tidak berubah..melainkan berusaha untuk mencari habitat yang sesuai dengan dirinya…

    “maaf, di bagian mana yah saya mengatakan seperti itu??”

    di comment tanggal

    Februari 9, 2008 pada 3:54 pm
    paragraf ke dua…

    kumaha seh???
    mau naya dunks…klo kunti,,,pocong,,,dan sejenisnya itu evolusi dari apah???heheheh…just kidding…

    @joyo…

    1..mudah-mudahan…

    2..koq nanyain siapa yang nulis n memperbanyak seh…kan itu mah dah jelas manusia…

    3..gtw seh…itu juga hasil mengamati n nanya ma orang syiah nya langsung…tp ktnya ntar pas Imam Mahdi kloar baru ada AQ yang baru..gtu katanya mah…lebih tebel katanya mah…tp moso yang skarang palsu…lagian Imam mahdi kan ga ditugasin wat urusan itu..tapi urusan menjalankan AQ…tau ah…itu mah gaib…n lom terjadi…jd harus nunggu tanggal maennya…hehehe…

    4…emang…nah itu dy…
    mereka dah melakukan kontak dengan bangsa laen…tp mereka ga tertular dengan apa yang diyakini oleh bangsa laen…semisalnya nashara di yaman…dan laen-laen…itu dy salah satu penyebab kenapa islam turun disana…bukan bangsa pencontek kaya kita…

  68. qzink666 Berkata

    ya kan bisa aja Allah menciptakan makhluk laen yang mungkin sudah punah…dan kemudian menjadi fosil..

    anda tau gak wujud Pithecanthropus Errectus itu seperti apa? terus menurut anda dia termasuk golongan manusia apa bukan? terus menurut anda dia ada sebelum atau sesudah Adam sheila on 7 itu??

    truz knapa kera it ga ikut berubah bentuk…kan sama-sama menjalani zaman yang sama…sama-sama tinggal di hutan..

    siapa bilang kera gak berubah bentuk?? Pergilah ke perpustakaan dan cari gambar kera purba lalu bandingkan dengan kera modern.. Lagi pula, bro.. Evolusi terjadi karena kebutuhan dan bukan keharusan. Dan evolusi radikal seperti perubahan bentuk phisis baru terjadi bila di dorong oleh pemicu2 seperti mutasi gen, radiasi dashyat dan atau seleksi alam. Kalo dia mampu survive dengan bentuknya yg sekarang, kenapa mesti berubah bentuk??

    kenapa para kera,,singa,,beruang,,de el el…tidak berubah..melainkan berusaha untuk mencari habitat yang sesuai dengan dirinya..

    ini pertanyaan tipikal kaum kreasionis yg udah berhasil di patahkan Darwin sendiri 150 tahun lalu..dan silahkan anda baca penjelasan saya diatas tadi..

    di comment tanggal
    Februari 9, 2008 pada 3.54 pm paragraf ke dua..

    sebaiknya anda baca dengan teliti lagi.. Yang saya maksut dgn bahwa semua makhluk yg ada sekarang diciptakan sekaligus adalah bahwa tuhan berperan sebagai tukang sulap yg abra kadabra maka jadilah monyet.. Abra kadabra maka jadilah manusia.. Abra kadabra maka jadilah pohon pisang.. Dan akan seperti itu sampe kapanpun.. Jadi bukannya abra kadabra maka jadilah alam beserta isinya..

  69. ulan Berkata

    *garuk-garuk kepala*
    komen yang lain berbobot semua ya..
    aku mau nyampah aja bole nggak??

  70. joyo Berkata

    @qzink
    silahken bro, gratis ini :D

    @syahbal
    nah itu kok bisa beda antara sunni dan syiah? dasarnya sama kok bisa beda? jangan2 dasarnya beda?cari lagi gih :D

    @ulan
    silahken, disini memang tempatnya buang sampah :D

  71. syahbal Berkata

    @joyo

    iyah ini juga lagi dicari lagi…tp imam mahdinya lom kloar2…jd gag bisa deh…

  72. syahbal Berkata

    @qzink

    Pithecanthropus Errectus…wujudnya..wallahualam…belom pernah ketemuan(kopi darat) ma dy…chat ajah belom…cuma liadh di gambar doang…

    keharusan itu ada karena kebutuhan bro…
    anda butuh makan..maka anda harus makan..cie pake anda…

    siapa bilang bisa survive…toh mereka hampir pada punah..brati mereka ga bisa bertahan…

    kaum kreasionis teh apaan???gtw saia…

    memang…cuma ga sepanjang abra kadabra…cuma KUN…fayakun…JADI…maka jadilah…g pernah yasinan yah…eh maaf salah tanya…koq nanya yasian ke kang qzink…udah jelas ga pernah lah ya…

  73. joyo Berkata

    @syahbal
    yg dicari adalah dasar keyakinan mereka bahwa kelak akan ada imam mahdi…
    cari lagi :D

  74. syahbal Berkata

    @joyo

    aduh cape…dari kemaren disuru nyari mulu…
    pan Imam mahdi mau keluar teh kata Rasulullah jadi ajah mereka yakin…haqul yaqin…
    saya juga seh percaya iamam mahdi…tp pan itu mah ga tau kpn keluarnya…jd sekarang mah jalanin ajah apa yang Rasulullah dan sahabat berjalan diatasnya…meskipun nta Imam mahdi juga aka mengikuti rasulullah dan para sahabat….

    yasinan dulu ah…

  75. joyo Berkata

    @syahbal
    so pertanyaan saya apa itu ‘yakin’?
    apakah yg diyakini syahbal bahwa sesuatu itu benar, diyakini benar sama orang lain?
    eh saya banyak tanya ya :D


  76. Saya juga menemukan artikel yang sangat menarik tentang: Agama: Pisau Bermata Tolu.

    Ini link-nya: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1326

    Selamat membaca dan terima kasih.

  77. kenthir Berkata

    @joyo
    ngakunya bukan islam tapi mempertanyakan islam terus.
    Mbok sekali-sekali mempertanyaken Budha yang benar itu yang mana? sangha mana? kitab yang mana? Buatan manusia atau buatan tuhan? Mencari…, apa penjamin kebenarannya? katanya welas asih kenapa di tibet ada kerusuhan?

  78. joyo Berkata

    @kenthir
    ? gak ngerti, saya gak nanya2 islam mulu kok, oh kebetulan mas syahbal itu islam.

    mempertanyakan buddha? hmmmm gimana reaksi umat buddha ketika patung buddha raksasa di afganistan di bom oleh taliban? menghujat islam kah mereka?
    kenapa di Tibet ada kerusuhan? silahken tanya permintah cina yg ngakunya atheis komunis :D

  79. someone Berkata

    si joyo memang sesat…..
    bilang aja anti Islam….
    pake ngaku atheis segala
    dah ga usah pd ribut, cuma mencari popularitas blog aja!!
    sdr. syahbal ga perlu buang-buang energi menjelaskan ini itu, si joyo ga bakalan mudeng. Seperti orang yahudi yang banyak betanya, tapi tetap sesat.

  80. joyo Berkata

    @someone
    woi klo komentar jangan sembarang!!!
    nggak baca tulisan saya, brani2 nya komen ngawur!!!
    dari mana anda tau saya sesat??? memang nya tau tujuan saya kemana???
    dasar pengecut tai kucing, gak mampu berargumentasi lalu tuduh orang sembarangan,
    hufff (sabar2)

  81. Jems Berkata

    “Jika kita memahami dengan baik teori seleksi alam, maka kita tak perlu repot-repot melibatkan unsur luar yang hanya akan menjadi problem baru” -Syaukanie-

    Bijakkah kita mendasarkan kebenaran mutlak pada sebuah “benda” yang hanya menuai derajat “Teori”?

    “bukan hanya dunia biologis, dunia astronomi, geologi, dan cabang ilmu lainnya, menganggap evolusi dan seleksi alam sebagai penjelas yang paling memuaskan.”-Syaukanie-

    Apakah kebenaran mutlak itu ditentukan oleh sesuatu yang disebut “Kepuasan”? Lalu.. apakah tolok ukur dari “Kepuasan” itu sendiri?

    “lha iya agama itu dari dan untuk manusia (dari manusia terdahulu ke manusia generasi berikutnya)” -Joyo-

    Saya memaklumi jika anda mendasarkan statement tersebut pada agama2 selain Islam misal: Budha, Hindu, dll. Tapi untuk Islam sendiri, sepertinya Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kalau dari yang saya pelajari, Islam itu bukan hanya sebuah Agama, melainkan “Dien”.
    Apabila Anda memahami kata Dien itu, maka Anda akan bisa membedakan antara Agama dengan Dien. Namun, jika Anda belum memahami apa itu Dien, saya sarankan untuk memahaminya terlebih dahulu. Itu sekaligus pembuktian apakah Anda memang seorang “Learner” sejati, ataukah seseorang yang hanya ingin “mengukuhkan” keyakinan Anda.
    :D

  82. ariss_ Berkata

    Jika “rebirth” atheisme adalah sebagai bentuk perlawanan kejumudan akan stagnasi agama yang begitu2 saja, saya setuju sekali. Namun menolak “keberadaan” Tuhan hanya lantaran segala kehendak tidak terwujud (yakni sudah dicontohkan di atas bagaimana para atheist dibuat bingung setengah mati; “masak Tuhan ada tapi Ia membiarkan terjadi peperangan, kelaparan, penderitaan, dll?”), maka tak ada sebutan lain kecuali itu sebagai bentuk “kemanjaan” yang luar biasa. Hak prerogratif apa yg dimiliki manusia sehingga ia bisa memvonis kebijakan Tuhan?
    .
    Okelah. Taruhlah Tuhan “tidak ada”, tapi bagaimana keyakinan mereka akan takdir? Apa yang menjadi pegangan hidup mereka ketika mereka mengalami, semacam “loneliness” berkepanjangan? Apakah pula mereka lalu melupakan hal2 yg transenden? Tak adakah yang bisa dijasikan tempat mengadu dan memohon bagi mereka?
    .
    Barangkali inilah akibat dari terlalu berpikir rasional dan cenderung mementingkan hal2 konkrit.
    .
    Tapi jujur, saya lebih respek dengan orang2 atheis ketimbang dengan para parokialis agama.
    .
    Salam…

  83. danalingga Berkata

    Ah, baca komen bro joyo buat someone membuat saya tersadar:

    Mengapa kau sebut aku sesat
    padahal tujuan kita memang sudah berbeda
    biarlah, aku melenggang dengan senang
    menapak sedikit-demi sedikit
    semakin dekat, semakin terasa
    tujuan itu sudah didepan mata
    dan itu bukan tujuanmu.

  84. Awanx Berkata

    kalo alam sebagai tuhan ….. jadi yg ciptain alam semesta ini sapa dong….
    trus yang ciptain manusia siapa dong ….apa alam bisa ciptain…
    oh iya….
    kalo masalah kepercayaan mah… gak bisa disalah benerin…
    mo percaya syukur kalo gak ya udah….

  85. Awanx Berkata

    n.. ada tambahan nih…
    apakah kita hidup hanya didunia….
    apa gak ada hari pembalasan atas perbuatan kita….
    apa alam akan bisa menghukum orang yang sudah go…
    sorry nih banyak tanya…
    maklum masih bau kencur….

  86. Awanx Berkata

    pendapat aq…
    di dunia ini diciptakan hal – hal yg bertolak belakang spt :
    baik dan buruk …
    sehingga karna itulah manusia disertai dengan akal
    sehingga dapat membedakan.

    “”"”Logikanya, jika Tuhan Maha Kuasa dan Maha Baik, mengapa dia membiarkan saja semua ketidakbaikan itu terjadi. Hanya ada dua pilihan dalam menyikapi persoalan ini: (i) Tuhan sebenarnya tidak ada; (ii) Tuhan ada namun tak mampu melakukan apa-apa.”"”

    menurut aq..
    jika semuanya ditangani oleh Tuhan.. maka semuanya akan berjalan dengan kebodohan… dan malas-malasan
    semua peristiwa itu pasti akan ada hikmahnya…
    misal dengan adanya perang…
    1. manusia akan berkurang jumlahnya..
    2. akan ditemukannya senjata jenis baru…
    dll
    sehingga akal dan pikiran manusia akan berfungsi dengan baik dan dengan adanya peristiwa – peristiwa maka manusia akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
    tuhan itu gak bisa didenefisikan secara teori…
    apakah kita bisa membuktikan bahwa roh itu ada….
    begitu juga dengan tuhan …
    tidak perlu dibuktikan tetapi perlu diyakini …
    siapakah yang menciptakan kita….
    dari setetes air mani sehingga menjadi sekumpulan daging…
    mengapa kita diciptakan…. itu adalah rahasia yang tidak bisa dijawab hingga kita menghadap-Nya kelak…

  87. Riyadus Berkata

    Hm… berarti berdasarkan kesimpulan mbah joyo, terhitung mulai tanggal 1 juni 2008 yang lalu saya pindah aliran menjadi atheist sejati sampai batas waktu yang tak ditentukan :mrgreen:

  88. joyo ga login Berkata

    @dana
    lha itu
    kita sama2 punya tujuan, dan tujuan kita beda2…ya sudah to biarkan saja

    @awanx
    siapa yg ciptakan Tuhan?

    @riyadus
    iya, awas jangan pindah keyakinan, nanti murtad, hukumannya di panggang seumur hidup kekal abadi!!!

  89. Riyadus Berkata

    @joyokusumo

    Waduh2, tenang ajah, di KTP masih tertera agama titik dua islam heheh :mrgreen:

  90. minggus rumaseb Berkata

    wah..orang dari semua golongan,agama dan ras di negeri ini bersusah payah untuk mendapatkan 1 liter minyak tanah, Bapak2 ini justru menebar bencana permusuhan…ini bangsa indonesia Bung..Ke..Tuhanan yang Esa Melindungi Bhineka Tunggal Ika.. Surga dan Neraka urusan pribadi masing masing dengan Allah.

  91. faharukai Berkata

    Kutipan ini sekedar untuk membandingkan:

    KEKERASAN TANPA “TUHAN”

    Muak, jengah, jijik dan anti dengan agama ; begitulah kesan yang secara provokatif ditampilkan oleh Luthfi Assyaukanie dalam artikelnya yang berjudul “Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Darwin : Serangan Balik Kaum Ateis”. Seakan provokasi ini masih kurang mengguncang, Luthfi mem-backup-nya pula dengan empat referensi ‘tanpa Tuhan’, yaitu :

    *
    Christopher Hitchens. God is Not Great : How Religion Poisons Everything. New York : Twelve, 2007.
    *
    Daniel C. Dennett. Breaking the Spell : Religion as a Natural Phenomenon. New York : Viking, 2006.
    *
    Richard Dawkins. The God Delusion. London : Bantam, 2006.
    *
    Sam Harris. The End of Faith : Religion, Terror, and the Future of Reason. New York : Norton, 2005.

    Luthfi Assyaukanie adalah seorang ‘pemikir’ (jika memang provokasi-provokasinya hendak dianggap sebagai produk kegiatan berpikir) yang sering dijadikan rujukan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Saking rajinnya membuat tulisan, situs JIL pun tidak lagi dianggap cukup untuk menampung kreatifitas Luthfi. Kini, Luthfi aktif mengisi situsnya sendiri. Dari situlah file attachment yang disertakan di sini berasal.

    Sebenarnya artikel Luthfi Assyaukanie kali ini benar-benar telah mengalami penyakit secara keilmiahan, dan kesalahan fatalnya telah terlihat bahkan sebelum kita membaca paragraf pertamanya. Daftar referensi yang diajukan jelas-jelas tidak memberi ruang secuil pun pada orang yang ‘pro-agama’, karena keempat buku yang diajukan kesemuanya mengacu pada dua teori : Tuhan itu tidak ada, dan agama itu berbahaya. Dengan demikian, jelaslah bahwa artikel ini dibuat dengan keberpihakan yang amat besar dan tidak bisa dijadikan acuan sama sekali untuk menimbang baik-buruknya agama. Ini adalah sebuah artikel propaganda yang seratus persen berpihak pada ateisme. Ironisnya, artikel ini justru berasal dari seseorang yang memiliki komitmen begitu tinggi pada organisasi induknya yang diberi nama : Jaringan Islam Liberal.

    Agaknya Luthfi sendiri mengalami kesulitan yang amat sangat untuk menyembunyikan kebenciannya terhadap Islam. Di awal artikel, ia sudah berusaha untuk ‘tampil objektif’ dengan membuka paragraf dengan kalimat : “Para pendukung Ateisme mestinya berterima kasih kepada Osama bin Laden dan Jerry Falwell yang menjadikan agama begitu agresif dan garang.” Ditampilkanlah seorang ‘teroris Muslim’ (Osama bin Laden) dan seorang ‘provokator Kristen’ (Jerry Falwell). Dalam logika anak kecil yang emosional, ini sudah bisa dianggap adil. Sikap ‘objektif’ ini ditampilkannya sekali lagi pada akhir paragraf kedua, dimana tokoh Islam, Syiah dan Kristen sama-sama disebut namanya sebagai teroris. Akan tetapi pada paragraf selanjutnya, Luthfi ‘kelepasan’ ketika memberikan contoh-contoh teror jaman sekarang yang dilakukan oleh ‘kaum beragama’ :

    “Kemunculan buku-buku tentang Ateisme belakangan ini dipicu oleh berbagai peristiwa kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan agama. Horor 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, bom bunuh diri di Timur Tengah, dan aksi-aksi kekerasan dan keberingasan lainnya mengusik kaum Ateis untuk kembali menyuarakan keyakinan lama mereka bahwa agama memang buruk, agama hanya menyengsarakan manusia, dan tak ada lagi alasan manusia untuk beragama.”

    Tragedi 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, semuanya dituduhkan kepada umat Islam. Adapun bom jihad (yang disebutnya sebagai ‘bom bunuh diri’) memang benar sering dilakukan oleh umat Islam. Dengan kata lain, Luthfi tengah mengatakan bahwa perbuatan umat beragama, khususnya Islam, telah membuat kaum ateis semakin yakin bahwa agama itu merusak. Penekanan khusus pada umat Islam disini, meski implisit, menunjukkan ‘jati diri’ Luthfi Assyaukanie yang sebenarnya.

    Untuk seorang pemikir masa kini, agaknya perlu dipertanyakan mengapa Luthfi gagal mencantumkan sederet panjang aksi biadab kaum Zionis terhadap Palestina dan Lebanon. Dulu, Quraish Shihab pernah bilang bahwa suatu hal yang luar biasa ajaib namun terjadi secara rutin lama-kelamaan akan dianggap sebagai hal biasa. Barangkali pembantaian ala Zionis pun sudah menjadi biasa bagi Luthfi, sehingga tidak perlu dicantumkan dalam daftar kekerasan di sini.

    Di sisi lain, sebenarnya kita dapat dengan mudah memahami mengapa Luthfi berusaha keras untuk membuat para pembaca lupa dengan kesadisan Zionisme. Alasannya sederhana saja, yaitu karena hal tersebut merupakan antitesis dari artikel Luthfi. Seperti diketahui, Zionisme Internasional adalah sebuah gerakan yang ditentang oleh sebagian besar kaum Yahudi religius. Para pendukung Zionisme bukanlah umat Yahudi yang dikenal taat beragama, melainkan kaum sekulernya. Amnon Rubinstein, seorang tokoh masyarakat Yahudi, menyebut Zionisme sebagai “sebuah pemberontakan terhadap tanah nenek moyang mereka (kaum Yahudi) dan sinagoga para Rabbi”. Rabbi Hirsch, seorang agamawan Yahudi, menyebut Zionisme sebagai sebentuk kekafiran, karena kaum Zionis ingin mendefinisikan umat Yahudi sebagai sebuah entitas kebangsaan.

    Zionisme adalah bukti nyata bahwa tindak kekerasan sama sekali bukan monopoli umat beragama. Kaum sekuler dan ateis yang tidak mengindahkan agama bahkan lebih giat menyebarkan kekerasan. Korban tragedi 9/11 dan bom di Madrid dan London digabungkan menjadi satu masih kalah jauh dibandingkan korban pembantaian ‘rutin harian’ yang dilakukan oleh kaum sekuler-ateis di dunia ini, termasuk Zionis dan pendukungnya, terutama AS yang dipimpin oleh George W. Bush. Dan jika harus melibatkan pula kaum ateis, tentunya Joseph Stalin dan Adolf Hitler harus dimasukkan dalam perhitungan. Nah, hitung-hitungan cermat yang semacam inilah yang dihindari oleh Luthfi, karena akan ‘membunuh’ artikelnya sendiri.

    sumber:

    http://pemikiranislam.multiply.com/journal/item/6

  92. langit biru Berkata

    Lebih banyak kekerasan yang dilakukan atas nama tuhan dari pada atas nama bukan tuhan. perang di irak, palestina, ethiopia, afghanistan, bosnia, sri lanka dll dll semua kalo diurut2, dasar utamanya adalah agama, jadi kalo mau damai ya agama sudah sepantasnya disimpan di gudang, buka buku2 ilmu pengetahuan dan teknologi, kembangkan semua bagi kemanusiaan tanpa sekat2 yang mengerikan….selama agama masih ada. mimpi aja deh yang namanya kedamaian….

  93. kopi cina Berkata

    menyoal dalil2,

    pertama…Dawkins menggunakan argumen ini untuk menyerang kaum kreasionis yang menganggap Tuhan ikut campur dalam penciptaan alam…Jika Tuhan ada, maka dia mestilah sangat-sangat kompleks; semakin kompleks sesuatu, maka semakin sulit untuk ada >> berpikirnya terbalik, Tuhan menjadi dasar bagi penciptaan bukan karena kompleksitas tapi karena salah satu kuasanya yang sangat mendasar, begitu mendasar sehingga sangat simpel, universal, sekaligus partikular.

    kedua… Dawkins menganggap seleksi alam bukan hanya sebagai penjelas asal-usul kehidupan, tapi juga sebagai pembangkit kesadaran manusia akan digdaya sains dalam menjelaskan bagaimana sebuah kompleksitas yang rapi muncul dari awal yang sederhana tanpa petunjuk apapun. >> sains selalu menghasilkan pada temuan akan sesuatu yang terstruktur, sistematis, rapih, penjelasan2, karena sains memang dimaksudkan demikian, dan bukan sebaliknya. Lingkup dunia sains baru bisa menjelaskan sebagian kecil fenomena yang ada. Terhadap yang belum bisa dijelaskan oleh sains?

    ketiga…maksudnya kurang jelas.

    keempat…argumen “Penyembahan Celah” (the Worship of Gaps). Ini adalah argumen yang sangat populer di kalangan filsuf dan saintis. Kaum Ateis biasa menyebut Tuhan yang dihasilkan dari argumen ini sebagai “Tuhan celah” (God of the Gaps, GoG) >> sains begitu berani menyebut celah dan mengacukannya pada selain dirinya, padahal sains itulah celah yang sesungguhnya. Kembali merujuk pada poin kedua.

    kelima…Meski kondisi semacam ini sangat jarang terjadi, bukan tidak mungkin ada kehidupan lain yang mirip dengan Bumi. Dengan kata lain, bukan Tuhan yang menyebabkan Bumi menjadi hidup, tapi prinsip antropi itu >> sains bicara tentang hal-hal yang pasti, terukur, sistematis, masak argumennya … “Meski kondisi semacam ini sangat jarang terjadi, bukan tidak mungkin ada kehidupan lain yang mirip dengan Bumi”, buktikan saja kitab itu salah dan ada kehidupan seperti bumi di planit lain.

    keenam… Prinsip antropi sekali lagi menunjukkan bahwa pembentukan kosmos tidak memerlukan campurtangan Tuhan, tapi lewat evolusi dan proses seleksi alam yang lama >> ini caranya para supporter ateis mengulur waktu, padahal ilmuwan gak gitu2 amat noraknya.

  94. godamn Berkata

    mas… numpang nongton mas…
    wah seru yah…. asyik-asyik… ntar mo sering-sering kemari yah…

    btw kalo kata kakekku mah….
    kayak orang buta megang gajah katanya….
    yang megang kakinya bilang, gajah tuh mirip tiang,,,
    yang megang belalainya bilang mirip selang…
    yang megang perutnya bilang mirip dinding…..
    yang megang buntutnya bilang mirip pecut…
    padahal menurut aku mah kecil kok… kenyal-kenyal gitu lagih…
    jadi aku pegang apanya yah…? hihihi…..

    semoga kebahagiaan buat para rosul, nabi, dan para ilmuwan….
    khususon Plato, Galileo, ibn Rusyid, Ibn Sina, Al Jabar, Wallace dan Darwin…
    juga Wegener dan Einstein.. Amin…
    semoga arwahnya diterima di samudera ketenangan…

    eh arti ulama teh kan ilmuwan yah? tapi kok….
    hihihi…. dasar… egp dah… yang penting mah rame….. laip mas go on lah..
    aku mah percaya semuanya juga punya tuhan… tuhannya juga sama…cuma mandangnya dari sisi yang beda…
    cuma keukeuhnya itu….

    hahaha… memang dimana-mana ge yang nonton mah suka komen oon deh…
    sori ya mas…. niatnya cuma nonton, tapi gak tahan….

  95. BOGHEL Berkata

    Manusia itu pd dasarnya sombong…
    agama itu ciptaan ilmuwan yg pengin
    dunia ini lebih damai, lebih awet karena tdk adanya kesombongan dr manusia…
    bayangin aja jika nggak ada yg namanya agama pasti dunia ni udah hancur dr dulu2..
    semua agama bilang bhw yg baik kerjakan yg jelek tinggalkan..
    Tapi manusia jg punya naluri welas asih, itu yg harus dipupuk agr dunia berjalan dengan baik aman sentausa
    Agama itu ibarat aturan untuk mengendarai dunia ini
    Jadi nikmati dunia ini dengan hati2, dengan tidak sombong, dengan tidak menyakiti manusia laen, pokoknya dengan sesuatu yg baek2lah.. Kalo dulu itu hukum karma berlaku, sekarang pun berlaku… ingat itu!!
    Pizz semuanya…


Tinggalkan Balasan