Masih terkait dengan tulisan yang ini, saya mencoba mendifinisikan makna spiritualitas yang saya serap dari tulisan Andre Comte Sponville (filsuf atheis asal Perancis) dalam bukunya L’Esprit de l’athéisme ditambah pengertian yg diuraikan dari kamus web populer Wikipedia.
Dalam tradisi barat, spiritualitas memiliki maknanya melalui pengalaman religius dalam beragama (yahudi, kristen, islam). Pengalaman religius seperti apa? Saya juga kurang mengerti, pasalnya pengalaman pribadi saya saat beragama, menurut saya, jauh dari spiritualitas; Tuhan pada saat itu saya temukan sebagai sesuatu yang dingin, hampa dan memenjara (maaf ini pengalaman pribadi).
Menurut wiki, kata spiritualitas (spirituality) diturunkan dari kata dasar spirit (spiritus: Latin) yang artinya nafas (breath dalam bahasa inggris atau power of breathing/’life’ dalam bahasa inggris kuno). Dan masih menurut wiki dengan gaya terjemahan terjun bebas a la joyo, spiritualitas (sifat) dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan sadar manusia yang ‘hidup’ bukan hanya sebagai makhluk hidup ‘belaka’ tapi makhluk hidup yang merupakan bagian dari dan memiliki hubungan dengan sesuatu yg tak terbatas, yang abadi dan yang absolut.
Apa itu ‘sesuatu yang tak terbatas, abadi dan absolut’??
Sebagian besar orang akan menggatakannya sebagai Tuhan, dan sebagian lainnya (spt saya dan mungkin Comte) akan mengatakannya sebagai Semesta; Silahken anda pilih yang mana, nggak milih satu diantaranya juga boleh, itu hak anda. Nah sepemahaman saya (setelah mbaca bukunya Comte), spiritualitas tu muncul ketika manusia menyadari eksistensinya dalam Semesta yang tak terbatas, sebagai keseluruhan dan sekaligus kesatuan yang mengada dalam dirinya, ketika ego manusia luruh dalam kesatuan dengan Semesta hingga tak ada lagi batas diantaranya.
Bagi Comte, spiritualitas adalah pengalaman (bukan sekadar pemikiran atau perasaan) atas manunggalnya diri dengan Semesta.
Kita semua ada di dalam Keseluruhan (Semesta), dan entah Keseluruhan itu terbatas atau tak terbatas (kita tidak tahu pasti soal ini), ia melampaui kita disetiap arah; Keterbatasannya jika memang ada, tetap berada diluar jangkauan kita; Keseluruhan itu meliputi, mengisi dan melampaui kita. Pengalaman ini (kesatuan di dalam Keseluruhan dan pengetahuan akan ketidaktahuan kita) merupakan bagian dari spiritualitas.
Betapa melegakannya, kala ego itu menjauh! Tidak ada yang tersisa selain Keseluruhan (Semesta).
Tabir itu telah jatuh dr depan mata
Seketika, semuanya jadi sederhana, nyata, benar dan apa adanya
Apa itu yang ‘sederhana, nyata, benar dan apa adanya’?
Diri saya dan Alam ini,
Entah!
Saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya
Hanya hening dan bahagia yang tersisa
-joyo-





Januari 10, 2008 pada 4:29 pm
Kebetulan saya lagi baca buku zen, tapi secara sekilas kok yang kamu tulis di dua artikel tentang spiritual itu mirip yang saya baca di awal-awal buku zen ini.
Dan di sebutkan bahwa setiap mahluk biasanya melakukan zen, hanya bedanya ada yang sadar dan ada yang tidak. Begitu sekilas info.
Januari 10, 2008 pada 4:30 pm
tambahan:
kalo dalam zen nyebutnya zen tuh.
Januari 10, 2008 pada 4:43 pm
@danalinga
spiritualitas milik manusia
terimakasih infonya
@danalingga lagi
wah perlu diapdet ni
Januari 10, 2008 pada 5:40 pm
::he..he… zen apa semesta… atau teh botol…
aku jadi teringat dengan komiknya AC Andersen, yg sering kubaca waktu kecilku, ada seorang putri yang mencintai seorang pangeran yang sedang menyamar sebagai budak, dan itulah cinta yang dicari pangeran…cinta apa adanya…
Januari 11, 2008 pada 4:15 am
Pada dasarnya saya setuju dengan semua yang kamu tulis diatas, tapi ada sesuatu yg membuat saya kesulitan untuk komen disini, entah apa.
Biarkan saya mencerna dulu. Nanti malam saya balik lagi dgn komen
gemblungkhas Qzink..Januari 11, 2008 pada 8:15 am
Tuhan tak pernah ada dalam buku.
huhuhuhu
……puff…….
Januari 11, 2008 pada 9:12 am
bro joyo, bener atheis? saya mampir dan meninggalkan comment boleh kan?
penasaran dengan yang ditulis di sini, hix kayaknya seru…:) hanya ingin memahami.
2 tahun terakhir adalah pengalaman yang berarti bagi saya.
karena saya berakal maka saya bertanya – saya berasal dari mana, untuk apa saya ada, dan akan kemana saya-, merekonstruksi semua pemikiran dan alhamdulillah semuanya dapat memuaskan akal dan menentramkan hati saya. bro, smoga pencariannya nantinya dapat menghasilkan sesuatu yang memuaskan akal dan menentramkan hati seperti saya.
Januari 11, 2008 pada 2:36 pm
Dan sekarang malam telah tiba, saat dimana orang dapat menghayati kebersatuannya dengan Semesta raya yg tenang ini secara lebih mesra..
Dan inilah komen saya yang saya janjikan tadi siang..
Ehm.. Ehm..
SAYA SETUJU DENGAN PENDAPAT ANDA, BRO!!
*kaboooor*
Januari 11, 2008 pada 3:12 pm
peng-alam-an pribadi… ya jadi alam…
Januari 11, 2008 pada 3:38 pm
@zal
sepertinya itu bentuk lain dari kuda lumping pak
cinta yg sederhana, semoga kita mampu mencinta tanpa bercinta, mengasihi tanpa kasihan, bertuhan tanpa menjadi tuhan dan menyatu tanpa menjadi sesuatu
@qzink
halah
@bedh
huhuhu
tuhan ada dalam pikiran
@nita
saya atheis? hmmm tergantung apa definisi tuhan.
silahken, blog ini terbuka untuk siapa saja
menurut nita, jawaban atas pertanyaan diatas apa ya? mungkin bisa di share…
@qzink
yah kirain mo ngasih duit,
*timpuk zink pake roti*
ngobrol2 sebagai sesama kapir memang harus saling dukung dan bersatu;
saya juga setuju sama komen mu Bro
@sitijenang
alamisasi (halah)
Januari 12, 2008 pada 1:23 am
Kok mirip dengan manunggaling kawulo lan gusti ya ya?
Januari 12, 2008 pada 5:54 am
Ada yang mirip sini mirip situ, jadi pemahaman manusia yang beda-beda itu hakikatnya satu juakah?
Januari 12, 2008 pada 6:02 am
Saya setuju dgn komen jeung Roze, bahwa pemahaman manusia atas tuhan memang beda-beda..
Dan menurut pemahaman saya, Tuhan hanyalah proyeksi keinginan-keinginan manusia..
Januari 12, 2008 pada 7:57 am
atheis…apa sih atheis teh???
klo mas joyo atheis atau theis(menuhankan alam)???
Januari 12, 2008 pada 11:05 am
@deKing, rozenesia
hmmm mungkin karena spiritualitas itu universal. para penganut budha zen, spt dikutip danalingga pd komen diatas, juga mengalami hal (manunggal) yg kurang lebih sama spt yg saya tulis, hanya saja dengan istilah zen.
@qzink
jadi pusat ketuhanan ada pd manusia ya
@syahbal
) yg gak percaya/yakin akan adanya tuhan.
atheis? atheis itu istilah untuk nyebut mereka (manusia
Comte, Dawkins, Albert Einstein dan Thomas Paine misalnya, tidak mempercayai/meyakini adanya Tuhan yg ikut campur urusan manusia, memperngaruhi nasib, menghitung amal baik dan buruk, atau mengabulkan/tidak mengabulkan doa manusia.
saya atheis/ theis? itu tergantung definisi tuhan apa, yg jelas saya nggak mengganggap alam sebagai tuhan, melainkan memiliki sifat2 ketuhanan spt tak terbatas, absolut dan abadi.
Januari 12, 2008 pada 12:08 pm
@joyo
ok…mulai ngerti(dipenuhi kebingungan)…jadi ajah pengen nanya lagi…
“”saya atheis/ theis? itu tergantung definisi tuhan apa, yg jelas saya nggak mengganggap alam sebagai tuhan.
truz…..definisi tuhan menurut mas seperti apah???
“”melainkan memiliki sifat2 ketuhanan spt tak terbatas, absolut dan abadi.
maksudnya:
1. tak terbatas…
2. absolut…
3. abadi…
itu apah…
Januari 13, 2008 pada 1:56 am
entah itu apa spiritualitas. mau bertuhan atau tidak… yang ku pahami… spriritualitas itu intinya pada “mengalami”… seperti halnya hidup itu pada dasarnya adalah “mengalami”…
gil, blognya murod endi yoch… tak wocone… :d
Januari 13, 2008 pada 2:33 am
@syahbal
silahken baca postingan berikutnya (Semesta yg Tak Terbatas, Absolut dan Abadi)
@Suluh
iki blog e: http://www.softhardzone.com/
Januari 13, 2008 pada 3:48 am
koyok-e tangan ku durung cukup tekan kupingku mas
*ngayuk kuping kiwo karo tangan tengen*
yo wes dadhi seng tukang moco ae
Januari 24, 2008 pada 1:52 pm
http://www.spiritualatheists.com
iya setuju banget !
ada perumpamaan.. ttg spiritualitas dengan Tuhan Theis dengan tanpanya mungkin Pantheis..
ibaratnya jika Tuhan Theis.. itu seperti kita memelihara kerajaan semut, kucing dan anjing.. yang bisa kita sayang kalo dia nurut, yang bisa kita pukul kalau nakal.. bahkan kalo iseng, kita sirem air aja tuh semut..
sedangkan spiritualitas tanpa Tuhan.. seperti menutup mata.. lalu membayangkan diri ini.. lalu ruangan kita berada.. negara kita tinggal.. planet bumi.. tata surya.. galaxy.. tapi tidak mentok terus ketemu sosok seorang Tuhan melainkan terus.. tak terbatas.. sampai pikiran tak mampu lagi menjangkaunya..
Januari 31, 2008 pada 8:13 am
spiritualitas dapat terwujud dalam praktik-praktik non-worship; seperti meditasi, yoga, dan semacamnya. “Worship” hanyalah untuk anak-anak dan kalangan awam yang belum mengerti. Pada saatnya pula, hari raya keagamaan dirayakan dalam kerangka humanisme dan dalam pemahaman yang esensial, bukan dalam kerangka teologi yang eksklusif.
Januari 31, 2008 pada 5:00 pm
@butterfly and wind
thanks link nya, yup persis seperti yg saya rasakan
@usman surya
mudah2an saat itu nggak lama lagi
November 2, 2008 pada 7:51 am
Sebuah buku yang saya beli pada hari Kamis 30 Oktober 2008 di Toko Buku Gramedia Jl Gajah Mada Medan Sumatera utara.
1. Buku ini Berisikan ajaran Komunis ataupun atheis, penulisnya sendiri tidak paham arti spiritual…tak ada ruh yang tanpa Tuhan…Dia ada walau tak ada dalam pandangan mata fisik…dia ada dalam jangkauan mata Batin/Qalbu bagi orang yang beriman. Sayangnya sang penulis bukan orang yg beriman pada tuhan hingga tak bisa melihat Tuhan dengan Batinnya….
2. Ajaran Komunis ini mulai masuk secara halus ke Indonesia dengan banyak mengatas namakan Spiritual tanpa paham hakikat spiritual.
3. Penulisnya seorang komunis yang mengambil referensi terlalu sedikit terhadap isi buku ini, hingga dapat saya katakan dia korban dari kebodohan spiritual.
4. Penulis buku dulunya adalah seorang pemeluk agama Kristen yang tidak memperoleh apapun dari ajaran yang dianutnya sehingga dia merasakan kehampaan dalam beragama, kemudian dia mencari kebenaran beberapa agama tanpa mendalami serta berdialog dengan pakar-pakar agama khususnya Islam (disini saya khususkan karena penulis buku tidak menemukan suatu kebenaran adanya tuhan dalam Islam)
5. Tanpa referensi sumber yang ahli dari kalangan Agama, Penulis langsung loncat mencari referensi dari sumber-sumber ajaran komunisme, sehingga ajaran atheisme yang dianutnya semakin kuat.
6. Menurut sayapun Penulis termasuk seorang yang malas dan terbatas dalam belajar, mengapa.? Seharusnya dia membedah satu persatu tuhan dari setiap agama, memang semua agama berasal dari Tuhan yang satu namun Tuhan yang mana karena dalam Islam tuhan yang ada hanyalah ALLAH SWT.
7. Keterbatasan penulis buku ini terlihat jelas kelemahannya, maka ketika kita tantang dengan kebenaran Al Quran yang ada, seperti, bagaimana kebenaran ayat-ayat Embriologi, Big Bang, Geologi kelautan dll. Atau mungkin penulis buku harus banyak bertanya pada seorang Harun Yahya.
8. Buku ini tidak layak baca, penulisnya banyak bercerita tentang dogma tapi dia sendiri terdogma dan mendogma pembaca dengan caranya.
9. Yang membuat saya tersenyum adalah ketika penulis menyatakan bahwa dia adalah seorang ”atheis yang beriman (faith)” tanpa mengetahui arti/hakikat iman sesungguhnya. Ada baiknya si penulis belajar dulu tentang Iman Islam pada anak saya yang berumur 14 tahun.
10. Penulis buku mengaku seorang filsafat sejati namun, ketika mempelajari referensi untuk bukunya dia tidak mempelajari hakikat dari ajaran agama.
11. Penulis tidak paham tentang keberadaan Tuhan yang sesungguhnya dekat dan bisa dirasakan, seperti bila kita tanya pada anak berumur 8, Tahukah dia tentang Definisi dan arti dari ’KASMARAN’ atau ’CINTA’ saya jamin tidak tahu, tapi bila kita bertanya pada seorang dewasa tentang hal tersebut saya yakin dia akan menjawab TAHU..! atau minimal PAHAM….sama halnya dengan keberadaan Tuhan yang hanya bisa dipahami oleh orang2 yang beriman (bukan iman versi penulis buku ini) dan bisa dirasakan NYATA adanya bukan teori saja (kalo ingin belajar baca buku Berguru pada Allah Karangan Abu Sangkan), kesimpulannya penulis buku ini masih seperti anak2 yang belum paham keberadaan Tuhan yang dekat.
12. Ada baiknya Penerbit dan Penjualnya segera menarik buku ini karena menciptakan ajakan, ajaran atheis, komunis secara dogma karena keterbatasan ilmu sang penulis yang diliputi KEBODOHAN SPIRITUAL.
13. Jawaban yang pasti bertentangan dengan buku ’Spiritualitas Tanpa Tuhan’ adalah buku ’SALAH KAPRAH SPIRITUAL’ Karangan Abu Sangkan…semua akan menjawab kesalahan comte tentang Tuhan dan Atheis….
November 4, 2008 pada 10:30 pm
@yogaswara
hmmm memang sulit bicara sama orang dikuasai oleh pikirannya, pikiran sempit yg selalu mengkotak2kan orang lain.
saran saya pelajari hidup anda sendiri, dulu, baru bicara ttg orang lain…
btw apa sih Tuhan itu?
November 5, 2008 pada 10:54 am
Spiritualitas memang tidak perlu agama dan tuhan, hanya perlu dirimu sendiri.
November 5, 2008 pada 7:19 pm
@wawan setiawan
ya saya setuju pak, diri sendiri dan akal sehat tentunya
November 6, 2008 pada 11:59 am
Relativitas Menjadi Absolut
Sistem dasar berpikir manusia adalah lingkaran. Lingkaran itu memutar sehingga dua ujungnya berdekatan.
Genius sangat dekat dengan gila. Titik A dan B yang kontradiksi sebenarnya berhimpitan.
Lingkaran ini mengakibatkan sistem berpikir manusia sebenarnya subyektive. Karena subyektive maka manusia membutuhkan suatu ukuran untuk mengobyektifkan suatu obyek sehingga bisa dikomunikasikan dengan pihak lain.
Untuk itu maka perlu memutuskan titik awal dan titik akhir dari lingkaran itu.
Titik awal dan titik akhir tersebut adalah range/ukuran yang diambil dari sebagian lingkaran sistem berpikir manusia
Ketika kita mengambil titik awal dan titik akhir itu, maka relativitas menjadi absolut, subyektive menjadi obyektive.
Orang gila adalah orang yang selalu mengambil titik awal dan akhir yang berbeda dari kesepakatan mayoritas
Berbeda pendapat terjadi karena perbedaan titik awal dan akhir (range/ukuran) dari orang yang kita ajak bicara dan kita.
Pikiran yang sehat pikiran yang mana?
November 6, 2008 pada 12:00 pm
Relativitas Menjadi Absolut
Sistem dasar berpikir manusia adalah lingkaran. Lingkaran itu memutar sehingga dua ujungnya berdekatan.
Genius sangat dekat dengan gila. Titik A dan B yang kontradiksi sebenarnya berhimpitan.
Lingkaran ini mengakibatkan sistem berpikir manusia sebenarnya subyektive. Karena subyektive maka manusia membutuhkan suatu ukuran untuk mengobyektifkan suatu obyek sehingga bisa dikomunikasikan dengan pihak lain.
Untuk itu maka perlu memutuskan titik awal dan titik akhir dari lingkaran itu.
Titik awal dan titik akhir tersebut adalah range/ukuran yang diambil dari sebagian lingkaran sistem berpikir manusia
Ketika kita mengambil titik awal dan titik akhir itu, maka relativitas menjadi absolut, subyektive menjadi obyektive.
Orang gila adalah orang yang selalu mengambil titik awal dan akhir yang berbeda dari kesepakatan mayoritas
Berbeda pendapat terjadi karena perbedaan titik awal dan akhir (range/ukuran) dari orang yang kita ajak bicara dan kita.
Akal yang sehat yang mana?
November 6, 2008 pada 12:02 pm
Meluas dan Menyempit
Ketika aku menggunakan logika-ku maka aku akan menyempitkan pikiranku.
Ketika aku menggunakan filsafat maka aku akan meluas-kan pikiranku.
November 6, 2008 pada 12:15 pm
@yogaswara
hmmm memang sulit bicara sama orang dikuasai oleh pikirannya, pikiran sempit yg selalu mengkotak2kan orang lain.
saran saya pelajari hidup anda sendiri, dulu, baru bicara ttg orang lain…
btw apa sih Tuhan itu?
=========================
Pikiran sempit adalah pikiran yang mengambil titik awal dan titik akhir dari sebuah lingkaran mengikuti pola pengambilan yang sama dari orang yang dianutnya. Dan dia mengunci titik awal dan titik akhirnya dengan kepercayaan absolut itu sehingga tidak bisa melingkar lagi. Sudah membentuk menjadi 1 dimensi. Mohon dimaklumi yogaswara-nya, yang salah yang membuat titik awal dan titik akhirnya dan tidak membolehkan mengambil titik titik yang lainnya. Yogaswara adalah korban.
salam
wawan
Yang pernah bersujud di patung Lenin.
November 6, 2008 pada 12:24 pm
Kemaren saya pergi ke kedungombo ingin menemui pangeran samudro (masih sodara sama imam samudra, nenek pangeran samudro tetanggaan sama nenek imam samudra)
namun ternyata saya malah kerasukan einstein,ternyata einstein dulu sempet ngalap berkah ke kedungombo dan mencari pesugihan maka sabda rana pala dari einstein berbunyi:
Sesungguhnya manusia itu dikerjain dari sistem berpikirnya, teknologi menurut Habudi dari republik mimpi telah membedah otak manusia yang berisi neuron, otak sebelah kiri mengakibatkan logika dan otak sebelah kanan mengakibatkan dialektika. Sesungguhnya Tuhan berasal dari logika dan dialektika, tidak heran tuhan berada di mana mana mana mana mana mana, karena manusia ketika berpikir maka disitulah ada tuhan. Tidak heran Tuhan itu kontradiksi dan Maha Membingungkan.
Sadarilah setiap ucapan, tindakan, dan pikiran anda itu lagi dikerjain otak kiri atau kanan –>maka kamu telah menjadi cucuku yang tersayang dan kuberi gelar Sir Joyo bin Abdullah Einstein.
Februari 24, 2009 pada 1:07 am
Tuhan adalah alam semesta ini. Tuhan khayalan manusia adalah tuhan yang menciptakan alam semesta dan itu masih dalam perdebatan para ilmuwan.