Membaca lagi komentar2 dan dabat kusir yg berhasil terekam di tulisan saya yang ini, ingatan saya kembali ke masa2 awal kuliah 6 tahun lalu. Dengan judul mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan, dosen gaek bergelar profesor bidang Geologi itu membuka kuliah pertama dengan selembar slide bertuliskan “Knowledge is Power” – Francis Bacon. Sudah lupa juga dengan penjelasan beliau tentang makna kalimat tersebut tapi intinya kedua kata tersebut saling berbading lurus, semakin banyak Knowledge seseorang maka Powernya dalam ngejalani hidup akan semakin besar. Dan saya yakin beliau yg profesor sudah membuktikan dan merasakan sendiri makna kalimat tsb.
Nah slide kedua klo gak salah berisikan kategori manusia berdasarkan Knowledge-nya, dan dalam penjelasan sang profesor ada 4 kategori manusia ditinjau dari pengetahuannya yakni:
- Manusia yg tahu apa yg ia ketahui,
- Manusia yg tahu apa yg tidak ia ketahui,
- Manusia yg tidak tahu apa yg ia ketahui,
- Manusia yg tidak tahu apa yg tidak ia ketahui.
Dari fosil2 ingatan saya yg sudah mulai membatu, penjelasan dari masing2 kategori manusia diatas adalah sebagai berikut:
Manusia jenis 1, tahu apa yg ia tahu. Bisa dikatakan yg masuk kategori ini adalah mereka para ahli. Mereka bisa menjelaskan secara detail mencakup apa, kenapa, kapan, dimana, siapa, dan bagaimana hal2 yg mereka ketahui terjadi dan ada. Contohnya ya profesor gaek tadi, coba anda tanya tentang batu2an, wah pasti jawabannya komplit plit, sampe2 anda yg nanya malah jadi bingung sendiri.
Manusia jenis 2, tahu apa yg ia tidak tahu. Manusia jenis ini adalah manusia yg sedang dalam proses belajar, ya mereka belajar karena tahu bahwa mereka tidak tahu tentang sesuatu yg ingin mereka ketahui. Biasanya manusia jenis ini kalo serius dan berhasil akan menjadi manusia jenis 1.
Manusia jenis 3, tidak tahu apa yg ia ketahui. Manusia jenis ini adalah manusia setengah sadar, mereka sebenarnya tahu tentang sesuatu tapi ndak sadar klo mereka tahu, ciri yg mudah teramati dari manusia jenis ini adalah ketika ditanya tentang apa yg meraka tahu jawaban yg diberikan akan bercampur dengan nada tidak yakin, grogi, gelagepan, terbata2 dan jawaban yg diberikan muter2 ndak stright to the point, padahal mereka sebenarnya tahu dan mungkin menjalankannya setiap hari.
Manusia jenis 4, tidak tahu apa yg ia tidak tahu. Manusia jenis ini adalah manusia paling memprihatinkan, dan perlu belas kasih. Kenapa? Karena mereka adalah manusia2 yg nggak sadar. Sederhananya gini, mereka tiap hari makan nasi, tapi mereka nggak tahu klo yg meraka makan itu nasi, berasal dari beras (tumbuhan) dan diolah dulu sedemikian rupa (dimasak) baru bisa dimakan dan parahnya mereka nggak ngerti juga kenapa mereka makan nasi tiap hari. Biasanya manusia2 janis ini bebal, susah dan gak mau belajar, dan biasanya lagi untuk menutupi ke-bebal-an nya mereka suka ngotot dan gak nyambung diiringi dengan kata2 ‘pokoknya’, ‘terserah’ dan kata2 bemakna sejenis. Susah banget lah. *ngelus dada*
Nah ada dimanakah saya dan anda? Mari bertanya pada diri masing2.
Semoga bermanfaat.





Desember 7, 2007 pada 12:54 am
kata bapak saya
yang susah itu kalo tahu tapi nggak mau tahu, tapi ada yang lebih parah dia tahu dia nggak tahu tapi nggak mau cari tahu.
kalau saya sih lebih suka tempe, palagi kalo dipotong kecil2 digoreng pake ikan teri hmmmmm maknyussss.
jadi kalau di tanya saya termasuk golongan yang mana mungkin saya termasuk omnivora.
Desember 7, 2007 pada 3:47 am
gimana kalo tahu tapi tidak mau memberi tahu yang belum tahu?
Desember 7, 2007 pada 5:18 am
::kalau engga salah, Al_gazhali, juga menginditifikasi seperti ini, dengan tambahan,
untuk yg pertama, ikuti dia..
akh..saya lupa apa anjurannya….
untuk yang ketiga, disebutnya orang yang tidur, anjurannya bangunkan dia
untuk yg keempat, disebutnya orang yg bodoh…apa dibunuh saja ya…
Desember 7, 2007 pada 10:56 am
Saya tidak tahu, saya ini apa? Manusia, setan, malaikat atau Tuhan?
Tapi, kalo disuruh menjadi yg terakhir saya mau, enak tuh bisa sak karepe dewe..
*OOT Pamungkas di blog joyo*
Desember 7, 2007 pada 3:33 pm
@bedh
sepertinya ini masuk golongan 2 tapi males hehehe, ya akhirnya akan jadi golongan 4 klo males terus
saya juga suka tempe, pagi, siang, malam pasti makan tempe. hehe dasar lidah jawa ya
@caplang
pelit!! untung para penemu transistor, ic, komputer, software, internet gak pelit ya
@zal
waduh jangan pak nanti dunia per blog an jadi sepi
@qzink
hehehe bener juga, pasti bener dewe
btw kok OOT pamungkas bro? ente mo kemana??
Desember 7, 2007 pada 3:59 pm
Saya sih pengennya saya yang mengetahui diri saya sendiri secara sempurna. Sayangnya sampai detik ini masih belon juga nih.
Desember 7, 2007 pada 4:18 pm
ah sebenernya… sang profesor filsafat juga keliru… ngga tahu apa-apa tentang manusia. karena sebenernya :
“MANUSIA itu ngga tahu apa-apa”, cuma suka/sering/hobby ngaku-ngaku aja … bahwa dia mengetahui sesuatu. Suka pada ngaku pinter…
Desember 7, 2007 pada 4:20 pm
@mas dana
coba ditunggu 7 detik lagi… sabar boss
Desember 7, 2007 pada 4:40 pm
@danalingga
tahu apa yg tidak diketahui, sempurna
@abah dedhot
abah dedhot tahu yg sebenarnya.
abah dedhot tahu sang profesor filsafat keliru.
abah dedhot tahu klo “MANUSIA itu ngga tahu apa-apa”.
abah dedhot tahu manusia suka ngaku2 pinter
Desember 8, 2007 pada 3:27 pm
@mas joyo
bukan mas… bukan begitu… itu fitnah… ampun mas.
abah cuma “dikasih/dipinjemin” tahu. tahu itu bukan milik abah.
ngga enak dong sama yang punya, kalo “barang”nya kita akui kepunyaan kita…
“POKOKNYA” (jangan allergi sama kata “pokoknya”) abah mah ngga merasa tahu… titik. don’t push me…!!!
salam
Desember 9, 2007 pada 4:19 am
Tahu tidak tahu itu adalah sebuah lingkaran. Tak kan pernah berhenti, apalagi ketika sang empu tahu dan tidak tahu berhasrat terus melakukan penapakkan pada hal-hal yang ada untuk mengetahui. setelah tahu, ia akan kembali tidak tahu.
Desember 9, 2007 pada 11:31 am
kata saya mah yang paling bagus itu yg no 1 dan 4.. .mereka konsisten…tahu ya tahu…ga tahu ya ga tahu…
yang kasian mah no 2…tahu apa yang ia tidak tauh…sok tahu tuh….klo no 3….kasian jg…tidak tahu apa yang ia ketahui…
tapi saya ngerti koq maksud dari artikel ini…yang buat artikel ini mau menyinggung orang lain…tapi ia ga tahu klo orang yang disinggung ga tersinggung sama sekali…
karena orang yang beda itu punya prinsip…
1. sampaikanlah walau satu ayat…
2. katakanlah walau menyakitkan….
3. untukmu agamamu…dan untukku agamaku..bukan untukmu tuhanmu dan untukku tuhanku…
4. dan orangnya ga sok tahu..dengan mengeluarkan pendapat sendiri…yang bisa mematahkan pendapat lainnya yang keluar dari mulutnya sebelumnya…tapi menggunakan suatu yang jelas…karena ia tahu…bahwa pengetahuannya tidak ada apa-apanya…ga sperti orang yang bicara bahwa orang itu tidak tahu apa-apa…tapi dia sok tahu…
hmmmmm….
Desember 9, 2007 pada 5:13 pm
@abah
lha saya gak ngomong apa2 lho, yg nulis itu bukan saya, saya juga cuma dilewati
@perempuan
iya belajar adalah proses seumur hidup
@syahbal
hmmm uraian diatas bukan dari saya tapi dari sang Profesor gaek,
btw bagus lah gak tersinggung berarti menyadari posisinya,
btw lg klo orang nggak tau trus tau klo dia gak tau dan dia mo belajar untuk tau (gol 2) mah bagus namanya, istilahnya improvement.
Yg sok tau itu gol 4, udah gak tau yang ia gak tau (gak tau apa2), ngotot pula
Desember 9, 2007 pada 6:14 pm
Seperti kata Confusius: “To know that we know what we know, and to know that we do not know what we do not know, that is true knowledge.”
bagaimana kita tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tahu
Desember 10, 2007 pada 4:02 pm
Apa kabar, sayang?
*muntah-muntah*
Desember 11, 2007 pada 2:33 pm
@deKing yang biasa2 saja
regressus ad infinitum ya…sulit juga,
apakah benar 2 garis sejajar tidak berpotongan?
ini juga sulit dijawab.
@qzink
oh hanibanitutifruti…
*masuk UGD*
Desember 12, 2007 pada 12:45 pm
::pengetahuan manusia sudah semakin berkembang, sudah saatnyalah ..apdet wooi…apdet… *pake microphone*
Desember 12, 2007 pada 1:26 pm
@zal
masih nunggu hari baik
Desember 12, 2007 pada 2:01 pm
Woiiiii..
Apdet..
Apdet..
Apdet..
Apdet..
Apdet..
Desember 12, 2007 pada 5:47 pm
Errr…
“Knowlegde is Power” itu bukannya ucapan Albert Einstein ya?
*ingat grafiti di pojok kampus dulu*
Desember 15, 2007 pada 4:37 am
@qzink
apdet issue: Closed
@alex
hmmm gak tau juga siapa sebenarnya yg ngomong, yg jelas bukan saya,
oh jadi ente yg coret2 tu tembok kampus bro
Mei 26, 2008 pada 4:35 am
Gimana sama mereka yang tahu bahwa mereka gak akan pernah bener-bener tahu. Juga gimana sama mereka yang mengklaim tahu tapi sesungguhnya apa yang mereka tahu itu cuma sebagian kecil atau bahkan salah sama sekali?