Dalam diskusi dengan sahabat lama tentang lagi2 Tuhan, terlontar sebuah analogi bahwa keberadaan Tuhan itu mirip dengan keberadaan Cinta.
Apakah benar demikian?
Dari penjelasan yang saya baca disini, ada beberapa point mendasar tentang persepsi dan sensasi pada manusia (dan mungkin pada sebagian binatang), yakni:
- Ada material/realitas diluar diri manusia.
- Kita, manusia, tidak secara langsung mengalami atau merasakan material/realitas ‘luar’ tsb. Apa yg kita alami atau rasakan adalah model dari material/realitas yang dibentuk oleh otak kita. Organ2 sensorik manusia (panca indra dan pikiran) menerima/menangkap sinyal dari lingkungan (segala sesuatu diluar tubuh manusia) kemudian mengirimkan sinyal tersebut ke otak, lalu otak akan menyusun model realitas ‘luar’ tersebut berdasarkan sinyal yang diterima/ditangkap. Apabila memori dalam otak telah memiliki database pengalaman specifik dengan realitas ‘luar’ tadi maka otak akan segera dengan mudah mengidentifikasi dan melabeli realitas “luar” tsb dengan misalnya panas, dingin, sakit, sedih, gembira, keras, lembut, bodoh, cinta atau yang lainnya. Apabila dalam database memori tidak ditemukan pengalaman sejenis maka otak akan mengidentifikasi realitas ‘luar’ tersebut sebagai pangalaman baru.
- Model realitas ‘luar’ ketika diterjemahkan oleh otak akan dialihbahasakan menjadi simbol2 mental, dan karena antara manusia satu dengan yang lain memiliki tools (panca indra, pikiran dan otak) yang sama maka realitas ‘luar’ tersebut akan ‘tampak’ sama oleh pengamat/manusia yang berbeda, hal ini lah yang membuat kita mampu berkomunikasi dengan dunia di ‘luar’ diri kita (termasuk orang lain). Namun nggak terkecuali ada juga manusia2 yang memiliki tools yang agak beda dari kebanyakan manusia yang ada shg mereka menangkap dan membentuk model realitas ‘luar’ yang juga agak beda.
Nah dari proposi2 diatas maka dapat disimpulkan bawah keadan mental yang dialami manusia sebagai akibat dari pemodelan otak terhadap realitas di’luar’ diri manusia seperti rasa, sensasi, bunyi2an, warna termasuk juga cinta adalah tidak nyata dan tidak ada. Dari sini, sepertinya kurang tepat jika kita menganalogikan keberadaan Tuhan sama seperti keberadaan cinta.





November 13, 2007 pada 2:30 pm
::he..he..he…mau bilang vertamax…engga tega..
eh sudah tertulis rupanya…
lagi…
November 13, 2007 pada 2:44 pm
::nulis lagi…
mengenai “Cinta” yg ternalogikan Tuhan, kode etiknya menurut Tuhan “bagi kaum yang berfikir, sulit menggambarkan ectasy atas hal ini, namun entah bagaimana “Cinta” memiliki daya panggil yang kuat, sehinga bisa jadi memang Tuhan menetapkan atasNYA “Cinta”, sehingga si “mabok” diperkenankan mengenalNYA…
entahlah ..apa memang yang ditempatkanNYA itu memang dinamaiNYA “Cinta”…nah memang cinta ini pacarnya rasha…cuma entah gimana ceritanya…koq malah rasha ini jadinya ama norma, sedangkan cinta jadian sama rama…. lho..lho..koq jadi nyeritain sinetronnya cinderella….
November 13, 2007 pada 2:45 pm
ah nanggung…sekali lagi aja…mumpung isa hetrikssss…..
November 14, 2007 pada 1:02 pm
@zal
ya…ya…bisa jadi juga gitu, bisa jadi nanti cinta balik lagi sama rasha
November 14, 2007 pada 2:39 pm
Ya, Tuhan memang seperti cinta. Gak terlalu penting tapi kerap di omongin..
November 15, 2007 pada 2:22 pm
@qzink666
hehehe betul juga
November 15, 2007 pada 3:16 pm
Ha Ha Ha..
November 15, 2007 pada 4:23 pm
Dear Mas Joy, (dipanggil Mas Joy terdengar lebih funky)
Kalo gak salah konteksnya adalah keberadaan Cinta dan Tuhan (kalo mau jujur) sebenernya sama-sama gak bisa dibuktikan, cuman modal percaya aja. Betul tak?
Kalo Mas Joy PERCAYA istri Mas Joy cinta sama Mas Joy, apakah sampai sekarang Mas Joy masih mencari-cari buktinya atau berusaha mencari bukti bahwa sesungguhnya dia sebenarnya tidak cinta? Kan lebih enak hidup tenang dengan rasa PERCAYA bahwa dia memang cinta Mas Joy. Betul tak?
Trus, trus, kalo Mas Joy bisa menangkap maksud paragraf di atas, Mas Joy tentunya (semoga) bisa mengerti kenapa kami juga ingin hidup kami tenang dengan adanya rasa PERCAYA kami terhadap keberadaan Tuhan itu.
Btw, mungkin analoginya memang gak tepat juga, tapi semoga ngerti lah ya…
Salam hangat,
-dariyangpengenhiduptenang-
November 16, 2007 pada 7:09 am
aduh bingung…g ngerti…
yang anda maksud tuhan itu Allah bukan…kalau bukan gpp…
tapi kalau iya…maaf anda salah..karena Allah bukan tuhan…coz laailahailallah…tiada tuhan kecuali Allah…
November 16, 2007 pada 8:47 am
ALLAH SWT bukan Tuhan ! dan ALLAH SWT tidak mungkin mengenal CINTA
November 16, 2007 pada 10:06 am
cinta dan tuhan beda atau tidaknya tergantung dari siapa dan darimana memandangnya (cmiw). kita bisa liat dari penuturan pendapat masing-masing, kita sendiri yang menilai… tidak perlu diperpanjang. penilaian kita masing-masinglah yang mencerinkan keyakinan kita sendiri. gitu ya?
selama tidak saling mengecam dan mengganggu lain pihak saya rasa kedua pendapat yang saling mempertahankan argue-nya masing-masing sah-sah saja. tidak ada yang berhak menjustifikasi siapa yang lebih benar dengan pendapatnya.
saya setuju dengan mas joyo, juga dengan si sahabat. cinta dan tuhan itu sama, tidak ada. cinta dan tuhan itu sama, ada.
cinta ada di sinetron sama si rasha…tuhan di “sana” dan di “sini” :p
November 16, 2007 pada 11:00 am
@syahbal
setuju.. Allah memang bukan Tuhan. Allah hanyalah salah satu (dari sekian banyak) entitas abstrak yg di perTuhankan manusia..
Bukan begitu maksudnya, pak? Ato saya salah mengerti dgn kalimat itu ya?
November 16, 2007 pada 11:01 am
@syahbal
setuju.. Allah memang bukan Tuhan. Allah hanyalah salah satu (dari sekian banyak) entitas abstrak yg di perTuhankan manusia..
Bukan begitu maksudnya, pak? Ato saya salah mengerti dgn kalimat itu ya?
November 16, 2007 pada 3:59 pm
@sahabat lama (you know who)
lha Cinta itu asli nya ngga ada, Cinta adalah sensasi yang muncul pada tubuh (tmsk otak) manusia sebagai sebuah ‘model’ atas relasi manusia dengan sesuatu diluar kesadarannya. Dan semua manusia normal apapun agama, suku, ras, golongan dan keyakinannya pasti bisa merasakan Cinta. Kenapa? karena tubuh inherently punya kemampuan memunculkan apa itu yg disebut Cinta.
Sedangkan Tuhan, ‘rasa’ atas keberadaan tuhan tidak inherently built in human body, klo gak percaya coba tanya saya, apakah saya merasakan kehadiran/keberadaan Tuhan dalam diri dan hidup saya, Hmmmmm i will say NO. Klo masih kurang percaya, coba datang ke pedalaman Papua dan tanya ke orang suku pedalaman setempat, kemungkinan besar mereka akan balik bertanya, Apa Tuhan itu? makanan? minuman? ato sejenis alat berburu?
Tapi, no problem klo sahabat PERCAYA dan menjadi damai karena nya. Hell no problem with me. hehehe
Dan seperti dulu saya bilang bahwa keberadaan Tuhan menyelesaikan banyak masalah, salah satunya mengakhiri polemik logika sebab-akibat tak berujung ata keberadaan manusia
Salam damai dan sejahtera
@Syahbal
Menurut anda apa makna, arti dan pengertian Allah bagi anda (Islam secara umum)??. Mungkin dari pengertian tsb, anda bisa membadingkannya dengan perngertian Tuhan/Illah/YHWH/Sang Hyang Widi /Alam ato yang lainnya. Dan akhirnya anda akan mendapatkan kesimpulan apakah Allah sama dengan Tuhan/Illah/YHWH/Sang Hyang Widi/Alam.
Mengatakan bahwa Allah tidak sama dengan Tuhan/Illah/YHWH/Sang Hyang Widi/Alam tanpa terlebih dahulu membadingkan pengertian diantaranya adalah kosong makna.
Bos saya bilang, “i know you good, but how good is good?”
Silahkan membanding2kan, saran saya sebaiknya anda berangkat dari posisi netral agar hasilnya objektif.
Salam
@antibatakislam
hmmmm yang mengenal cinta dan tuhan adalah manusia. cinta gak kenal tuhan dan juga sebaliknya karena cinta dan tuhan gak punya indra.
Cinta adalah salah satu model atas relasi manusia dengan sesuatu diluar kesadarannya.
Tuhan adalah salah satu konsep, hasil pikir manusia yang ada dalam pikiran manusia (yang sudah dberi tau konsep ketuhanan tentunya:), karena saya gak yakin mereka yang hidup dipedalaman Papua sana punya konsep ketuhanan yang sama dengan anda ato mereka yang beragama, Islam misalnya )
@roeangsempit
setuju
saya adalah aktor bagi hidup saya, anda adalah aktor bagi hidup anda.
@qzink666
lanjutkan bro
November 17, 2007 pada 4:50 am
@joyo
aduh maaf saya tidak bisa membandingkan Allah dengan yang lain…karena yang lain itu tidak ada….dan kalaupun ada mereka sangat jauh lebih rendah dari Allah….
dan sayapun tidak bisa ada dalam posisi netral…karena saya tidak mau Allah ada dalam posisi netral kepada saya…takut…
November 17, 2007 pada 11:39 am
@syahbal
Ya sudah itu persepsi dan keyakinan anda, pernahkan anda coba mengatakan hal ini pada seorang pastor, bhikhu ato pandita? saya yakin mereka punya persepsi dan keyakinan yang berbeda dg anda.
.
Dan menurut saya hal tsb wajar, secara alamiah, inherently manusia memiliki egoismenya masing2. Inilah salah satu bukti bahwa Tuhan ala Tuhan agama Abrahamic yg menurunkan aturan pada waktu tertentu, di tempat tertentu dan melalui orang2 tertentu, bahkan memperbaiki aturannya lagi setelah sekian waktu menjadi tidak sempurna. Dan membuat saya menyangkal keberadaanya
Dilain sisi alam selalu ‘berbicara’ lugas dan sederhana, cinta misalnya pasti dirasakan semua manusia, kapanpun, dimanapun, siapapun pasti mampu merasakan cinta.
November 17, 2007 pada 7:35 pm
Sayangnya cinta alam yg tanpa batas selalu berbalas nafsu manusia yg juga tanpa batas ya, bro..
*damn*
November 18, 2007 pada 4:13 am
::qzink666, kalau kata lagunya krispatih ”
hianati…sebisa dirimu menghianati
kelak kupastikan kau, ingin aku..pinta aku…mohon aku..
tuk kembali padamu lagi….
November 18, 2007 pada 2:33 pm
@qzink666
. ini baru urusan makan lho…
Sebenarnya nafsu itu juga wujud cinta Alam thdp manusia, tanpa nafsu apa nikmatnya hidup, tanpa nafsu istilah surga dan neraka tidak akan ada dan kosong makna. Dan sekali lagi Alam berbicara tegas, lugas dan to de point, “siapa yang ngumbar nafsu pasti kena akibatnya/menderita/neraka”, gak percaya? silahkan makan makanan kesukaan anda sebanyak2nya, Alam secara langsung akan meng’hukum’ anda, mulai dari sakit perut, sesak napas, gak bisa gerak, sampai ‘gagal jantung’ alias mati.
@Zal
kita semua akan kembali ke/menjadi Alam.
November 18, 2007 pada 3:23 pm
::yup.., saat inipun yang sudah jadi, jadi…namun menunggu adalah keharusan..
November 18, 2007 pada 4:44 pm
@antibatakislam
Allah itu Tuhan…
makanya baca Al-Qur’an
November 18, 2007 pada 4:47 pm
Intinya, kendalikan (bukan hilangkan) nafsu-mu, dan alam akan membalasnya dengan karunia..
November 19, 2007 pada 2:27 am
oohh… segala puji bagi Cinta.. dimana manusia menemukan makna dari hidup..
November 19, 2007 pada 12:36 pm
@Zal
menunggu juga asik, klo ditemani secangkir kopi panas, kacang, dan koneksi internet
@morishige
tambah, baca Alam juga
@qzink666
setuju bro!
@br4inst0rming
ada juga yang bilang Tuhan = Cinta, sama2 memberi makna, klo saya tetep… Alam
November 19, 2007 pada 1:59 pm
*gelar tiker*
*duduk*
*bakar rokok*
dengerin ajah..
November 19, 2007 pada 2:37 pm
@gimbal
gak pake hetrik, mbal?
@joyo
kapir kamu!!
*kaboor*
November 20, 2007 pada 1:24 am
ah kalo saya tetep cinta.. mau apa kamu!!
November 20, 2007 pada 1:25 am
sekali cinta tetep cinta!!
November 20, 2007 pada 1:28 am
HATRIXXXX UNTUK CINTA…. >:)
November 20, 2007 pada 1:36 am
lah ko’ ga muncul setannye bang?? wah di guna-guna nih blognye
November 20, 2007 pada 1:41 am
tanggung ah terakhir nih.. sumfah2….
November 20, 2007 pada 1:48 am
eh iya.. blom ngucapin terimakasih
trimakasih mas joyo, trima kasih alam, trimakasih atas kesediaannya menampung sampah2 saya… amin
@ qzink
kafir ente
November 20, 2007 pada 1:04 pm
@gimbal
bro kurang nikmat bakar rokok tanpa secangkir kopi panas,
mo manis ato pait? mumpung ada yg buatin ni
@qzink666
weleh sesama kafir basodara bro!
@brainstorming
iya2 Cinta
ya…siap lagi yang mo nampung sampah2 kayak ente, klo bukan saya
November 20, 2007 pada 2:20 pm
Ah, Tuhan itu ternyata sama hayalnya dengan cinta.
November 20, 2007 pada 2:26 pm
sorry kalo saya bacanya skip-skip-fast-reading-mode-on lagi sakit perut je…
intinya saya ndak setuju Tuhan sama dengan cinta….
karena cinta itu masih banyak sisi negatifnya….buta lah, bullsh*t lah, bikin sakit ati lah dll….
tapi ada satu kesamaan yang saya setuju…
kita bisa mencintai orang yang salah, dan mungkin juga kita bisa berTuhan pada sesuatu yang bukan Tuhan….
November 21, 2007 pada 2:53 pm
@danalingga
ah, hal nya memang sama tapi esensi nya beda
@Abu Kuda Al-Laknatullahharromanirrojim
setuju
ini kesimpulan tulisan saya
setuju lagi
November 22, 2007 pada 11:14 am
:: DIA, kemanapun wajah dihadapkan…, bila mau jangan membatasinya dengan pagar yg kokoh…
jika ku mencari, maka kepalaku dan mataku tolah-toleh…bisa tertolah t, dulu..selanjutnya u…selanjutnya h…selanjutnya a…selanjutnya n… selanjutnya…lha kepalaku–kepalaku..siapa yg megangi…
November 24, 2007 pada 1:51 am
Apdet!! Apdet!! Apdet!!
@urunrembug
saya kapir?
*pingsan karena takut
nerakaep-pe-i*November 25, 2007 pada 1:36 am
test cinta…. bisa gak ya?
November 25, 2007 pada 1:56 pm
@zal
Alam tauk….
@qzink666
woi jangan pingsan bro, klo bukan ente sapa yg ngadepin ep-pe-i
@Suluh
silahkan dibuat testnya, nanti saya jadi sukarelawan pertama deh
November 28, 2007 pada 10:42 am
:: jadi Cinta itu apa…????, apa kalo iya terus teringat dengan DEWA19, . kayaknya Brain storm, agak pakar dalam pengenalan “Cinta” nich…, aspek apa yg terbangun sehingga “Cinta”yg menyembul…, sebab sampai saat ini tokoh-tokoh seperti Rabiah, Rumi, kalo saya menyebut Kahlil Gibranpun termasuk, malah meluas ke banyak arah….
Brainstorm…dipersilahkan untuk mengemukakan.. “Cinta”
November 30, 2007 pada 1:00 pm
::Brainstorm kemanaaa yak…
November 30, 2007 pada 1:46 pm
@zal
sepertinya si Brainstorm lagi tapa brata memahami makna cinta, lha tapi gimana mo mencinta klo Sesat
Brainstorm = Sesat
*kabur sebelm ditimpuk sandal lagi*