Hingga saat ini yang saya pahami tentang diri saya adalah bahwa saya ada ketika saya sadar (conscious). Sadar disini bukan dalam keadaan mabuk, tidur, pingsan, terbius atau mati. Sadar ya sadar, cirinya adalah saya bisa diajak ngobrol dan ketika anda tanya saya “siapa kamu?”, saya jawab “saya adalah kesadaran selain itu saya alam”. Sssttt ini keywords, jangan bilang siapa2.
Apakah saya ada tanpa kesadaran?
Hmmmm saya kira tidak. Oh ya sebelum membahas lebih lagi berikut adalah definisi Kesadaran (Consciousness) menurut Wiki: a characteristic of the mind generally regarded to comprise qualities such as subjectivity, self-awareness, sentience, sapience, and the ability to perceive the relationship between oneself and one’s environment. Nah lo, silahkan diterjemahkan sendiri
Dari artikel yang pernah saya baca, pembahasan tentang kesadaran dibagi dalam dua kategori berdasarkan tingkat kesulitan pembahasannya yakni ‘Easy Problem’ dan ‘Hard Problem’ (David Chalmers). ‘Easy Problem’ membahas tentang perbedaan antara apa itu ‘sadar’ dan apa itu ‘tidak sadar’, bagaimana mengidentifikasi perilaku sadar dan tidak sadar pada otak dan menjelaskan bagaimana proses sadar dan tidak sadar tersebut terjadi. Sedangkan ‘Hard Problem’ membahas mengenai mengapa sesuatu atau seseorang mengalami pengalaman subjektif kesadaran yang menimbulkan ke-aku-an.
*sangat membosankan ya*
Hehehe, sudahlah biarkan saja apa kata sarjana, ilmuan dan filsuf itu tentang kesadaran. Disini saya hanya ingin berbagi pengalaman kesadaran yang saya alami dan rasakan. Saat ini setelah hidup selama 26 kali waktu yang dibutuhkan bumi mengelilingi matahari sejak tahun 1981 (kira2 sudah berapa kali ya bumi mengelilingi matahari?, auk ah!) saya menyadari bahwa saya atau kesadaran thd eksistensi diri saya muncul dalam keterbatasan dan ketergantungan pada alam. Bagaimana tidak, tubuh fisik ini sepenuhnya mengendalikan dirinya sendiri, sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem sekresi, sistem saraf, dll. Semuanya berfungsi dan bekerja tanpa capur tangan kesadaran/saya.
Memang dalam batas tertentu kesadaran/saya bisa ‘mengendalikan’ tubuh ini tapi itu pun dalam batas2 kemampuan tubuh, misalnya saya bisa dengan sadar menolehkan kepala ke kanan dan kekiri tapi itu terbatas pada kemampun kepala menoleh sekian derajat dari arah depan, anda dan saya tidak bisa mengendalikan kepala masing2 untuk berputar 360 derajat. Eh bahkan klo nekat saya bisa juga menghentikan akitivitas tubuh fisik dimana kesadaran ini mengada tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kesadaran ditopang oleh tubuh fisik (yang menurut saya merupakan bagian dari alam juga).
Nah dari sinilah saya menyimpulkan bahwa jika dalam keadaan tidak sadar, saya tidak ada yang ada adalah alam. Beruntung juga karena saya memiliki ingatan yang kontinu. Anda pernah nonton the fifty first date kan?. Bayangkan klo anda hanya mampu mengingat dan menyimpan ingatan dalam 5 menit, setelah itu memori anda akan di-reset lagi. Anda mungkin blm sempat juga mengingat apa arti kata saya.
Lalu bagaimana kesadaran muncul/mengada?
Sebenarnya saya juga tidak tau dari mana munculnya kesadaran, tapi saat ini teori yang saya anggap paling memuaskan dalam menjawab pertanyaan diatas adalah teori kompleksitas.
*ternyata tidak lebih baik
*





Oktober 20, 2007 pada 5:17 pm
::jadi yang mana yang joyo maksud dengan kesadaran… ???
jika gambaran diatas, sepertinya, posisi kita bisa berinteraksi…, apa yang terfahamkan di saya, posisi interaksi adalah keluarmasuknya/ kontak putus seperti platina, dan posisi ini malah saya pandang posisi kesadaran tidak sempurna…
ada pencerahan lebih lanjut joyo….please….
Oktober 20, 2007 pada 7:40 pm
Kalo saya cenderung mengimani diktum terkenalnya Descartes, “saya berpikir, maka saya ada” (cogito, ergo sum)
*eh, udah basi ya?*
Oktober 20, 2007 pada 9:19 pm
menoeroet ik…
kesadaran moentjoel saat ada masalah.
saat ada sesoeatoe jang salah, dan orang itoe taoe itoe…
IMO, dia mendapatkan kesadaran akan sesoeatoe…
ik tjoeman anak ketjil, ndak perloe dianggep valid oetjapannja
Oktober 20, 2007 pada 9:25 pm
setelah dibatja baik-baik setelah tjoetji moeka…
ternjata komen ik jang pertama keloear konteks ja…???
*ketaoean kalo ndak batja sampe selese*
mmm…laloe jij ndak sadar orang jang masi sadar disekeliling jij menganggap anda apa…???
waddoeh…setelah diresapi baik-baik kok ik malah poesing ja~~~
jawda degh, ik tinggal tidoer doeloe…dibatja lagi besok kalo oedah seger~~~
*pamit poelang*
Oktober 21, 2007 pada 4:26 pm
@zal
Bukan sekedar bisa berintaraksi, interaksi hanya salah satu ciri adanya kesadaran. Saya sadar adalah tahu bahwa saya tahu kalau saya ada. Platina? platina pada motor ya? hmmm platina hanya sarat bagi terciptanya keadaan menyala motor, sadar itu adalah menyalanya motor, jadi bukan proses keluar-masuk tapi ada-tidak ada.
@qzink666
Berpikir klo menurut saya adlah proses mengolah informasi (input) menggunakan akal/nalar untuk menhasilkan kesimpulan/keputusan (output).
@celotehsaya
Anggapan orang bukan wewenang saya, itu spenuhnya persepsi mereka. Bagi saya klo saya tidak sadar maka saya alam,
Oktober 21, 2007 pada 4:59 pm
djoedjoer ik poesing mbatja postingan jang satoe ini…
tapi itoe aneh doenks…soalnja menoeroet ik ketidaksadaran sendiri itoe ndak ada…
soalnja IMO, orang jang pingsan sekalipoen masi memiliki kesadaran oentoek teroes bernapas dan melakoekan metabolism…
Oktober 22, 2007 pada 1:55 am
Tulisan ini cukup baik.
saya = kesadaran. kesadaran = saya.
jika sudah bisa ngomong “saya” berarti ada kesadaran.
Menarik.
Terima kasih Joyosan.
Oktober 22, 2007 pada 2:54 am
Joyo..
Manusia itu berasal dari bhs sanskrit yaitu Manussa, yang artinya mahluk manusia, yang diambil dari kata “Manu” artinya Batin. Manussa tersusun atas Batin dan Jasmani. Batin tersusun lagi atas Kesadaran, Pikiran, Perasaan, dan Pencerapan.
Oktober 22, 2007 pada 3:29 am
@atas…djadi kalo ndak ada empat komponen itoe…
maka ndak bisa diseboet sebagai manoesia doenks…???
*mengoeatkan pikiran ik bahwa ketidaksadaran itoe ndak ada*
Oktober 22, 2007 pada 6:28 am
Jawabane ra angel..
sampeyan lungguh duduk… merhatike nafas-e sampeyan, mlebu-metu ..
ojo sampe putus ..
Nah saka kono iso belajar.. endi sing disebut pikiran, perasaan, pencerapan karo kesadaran.. dicoba 5 menit ae dhisik.. opo sampeyan iso konsisten merhatike nafas.
Oktober 22, 2007 pada 2:36 pm
hahahaha….
maap saya bukan ngtawain siapa2 saya ngetwain diri sendiri.
Oktober 22, 2007 pada 3:12 pm
@celo
Bernapas, melakoekan metabolism itu bukan kesadaran yang melakukan tapi inherently sudah diatur oleh tubuh, contoh lain, tekanan darah, tingkat keasaman (pH), sekresi hormon. saya sadar tidak bisa ngatur hal2 yang sebutkan barusan.
Ada dan tidak ada nya kesadaran itu tergantung definisi celo terhadap kesadaran.
@swliang
Ini yang perlu saya verifikasi sendiri, mungkin dengan Vipassana. Hehehe jdi pengen ketawa lagi.
Oktober 23, 2007 pada 9:30 am
halah kok aku malah mumet ya mas…???
tapi kan kita ndak bisa ngelihat dari satu sudut pandang doang…okelah dari sudut pandang kita sendiri, saat kita tidak memiliki kesadaran, kita menganggap diri kita alam…
tapi dari sudut pandang orang yang melihat kita masa kita acuhkan…???
sama seperti perasaan bahwa kita adalah bagian dari alam…tapi disamping itu, kita juga bagian dari kehidupan orang lain, dan orang itupun hanya sebagian dari kehidupan kita…
lho kok malah mumet aku…
@___@
Oktober 23, 2007 pada 3:48 pm
@celo
Betul ini masalah persepsi, dan tulisan saya ini tentang persepsi saya terhadap diri saya sendiri. Bukan juga saya mengacuhkan persepsi orang lain terhadap saya (mis. yang tanpa kesadaran) tapi spt saya bilang “persepsi orang lain bukan wewenang saya”
Oktober 24, 2007 pada 3:48 pm
Waduh, saya baca posting ini malah langsung nggak sadar nih.
Oktober 24, 2007 pada 4:18 pm
::heh dan…bangun…bangun…bah dia sudah jadi alam juga…, akh biarlah alam yang jadi aku…. *melenggang…*
Oktober 25, 2007 pada 1:40 pm
@dana
wah hebat nggak sadar masih bisa nulis
@zal
alam aku…aku alam
Oktober 28, 2007 pada 4:59 am
Mental tersusun atas thoughts, persepsi, perasaan, dan kesadaran.
Jadi bukan mind/pikiran, melainkan thoughts/anak pikiran. Bahasa buddhistnya “samskara” (bentuk-bentuk awal karma).
Memperhatikan nafas tak pernah diajarkan oleh Sang Buddha, tapi diajarkan oleh Hindu, yang berkaitan dengan ajaran No-Mind. Diharapkan dengan terus fokus pada nafas jadi tak sempat berpikir.
Dalam Buddha, berpikir itu perlu, tapi dengan syarat:
1. Berpikir yang benar (salah satu dari 8 ruas jalan mulia)
2. Berpikir yang menggunakan pikiran untuk menjadi Buddha.
Tanpa pikiran seseorang TAK MUNGKIN menjadi Buddha. Terus fokus pada nafas, akhirnya jadi apa? Akhirnya balik lagi ke pikiran, dengan pikiran, “wah ngapain aku tadi? sudah gila kali.”
Vipassana ada 4:
1. Vipassana yang fokus akan gerak-gerik pikiran.
2. Vipassana yang fokus akan sensasi-sensasi dari indra.
3. Vipassana yang fokus akan perbuatan.
4. Vipassana yang fokus akan vama (doktrin-doktrin Buddha).
Fokus pada nafas (anapanasati) cuma bagian dari no.2 saja. Dimana sebagai titik tolak untuk pengamatan dari seluruh indra. artinya sudah selesai di nafas ya sudah. kembali fokus pada keseluruhan enam indra. Bukan di nafas terus-terusan seperti hindu.
Sudah mengerti, anak-anak?
Oktober 28, 2007 pada 5:04 am
Dalam agama Buddha kita diajarkan Sang Buddha agar tak pernah tak mempedulikan sesuatu. Jadi, jangan sampai seorang putra buddhist berkata, “ah gua cuek aja sama kelakuan dia.”
Itu salah. Justru kamu harus peduli, karena merupakan bagian dari “Perhatian Tepat” (salah satu dari 8 ruas jalan mulia). Dan ingatlah, manusia-manusia. Kepedulian pasti melahirkan ketepatan. Dan ketepatan melahirkan apa? Kebijakan.
Lalu kebijakan menghasilkan apa? Dharma.
Selamat berusaha dan bermeditasi.
Anda semua sehat, kuat, bahagia.
Oktober 28, 2007 pada 5:07 am
jika memang alam adalah kau. gerakkanlah barang-barang di sekitar saya agar melayang.
Tak bisa? Berarti kau bukan alam. Cuma hasil alam.
Jika mau jadi alam, harus masuk dulu Jhana 7 (cosmic consiousness). Sesudah mendapat semua ilmu alam barulah jadi alam. Jika belum, cuma isi alam.
Oktober 28, 2007 pada 5:08 am
Kenapa Buddha bisa terbang? Karena ia alam.
“aku adalah angin, karena itu aku terbang” – Buddha.
Oktober 30, 2007 pada 4:27 am
promosi nih tjeritanja….???
November 12, 2007 pada 1:04 am
ketika rok cw manis tersingkap maka kepala menoleh mata mengintip. apakah ini termasuk keaadaan sadar apa tidak sadar ya he..
November 12, 2007 pada 12:07 pm
@polisi
makasih dah mampir om, thanks uga ilmunya
@celo
promosi dikit2 gak papa lah
@yudi
hmmmm….itu ma pngen mas, hehehe
November 17, 2007 pada 3:26 am
makin rame aja nih gil? pa kabar gaia?
)
November 17, 2007 pada 4:35 am
weleh kirain komen apa tentang kesadaran
Gia baek2 aj Vi, dah bisa tengkurap sendiri
Juni 20, 2008 pada 5:33 pm
kesadaran (vinnana) hanyalah proses menangkap objek hanya itu blm smp ke tahap mencerap objek ke otak ataupun berpikir hanya mengetahui objek. kesadaran mata berarti proses melihat objek yg tampak. kesadaran telinga berarti proses mendengar suara dst. kesadaran bukanlah saya atau aku atau makhluk krn kesadaran hanyalah bagian dr elemen batiniah. elemen itu selalu berubah dan tanpa inti yg abadi. kesadaran itu timbul berlangsung dan lenyap. kesadaran, pencerapan, perasaan, dan bentuk pikiran merupakan kegiatan batiniah bukan jasmani. kesadaran muncul melalui 6 landasan yaitu mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan jantung. sistem sekresi, respirasi dll bisa berjalan karena diperintah oleh bawah sadar kita yg sdh ada sejak berada dlm kandungan yg merupakan akumulasi pengalaman dari kehidupan lampau (bhavanga). jika ada yg salah moon koreksi
Maret 5, 2009 pada 4:43 pm
kesadaran itu adalah turunan dari sadar, potensi dasar setelah ruh yang dimiliki oleh tiap manusia. mengenai alam, sadar maupun kesadaran posisinya sama; alamiah. teori kompleksitas itu opo, massseee ???