Dua hari lalu disela2 pekerjaan yang nggak begitu banyak, sempat saya ngobrol dengan beberapa rekan kerja. Awalnya mereka bertanya tentang agama atau keyakinan saya. Oh ya sejak awal masuk kerja saya mengumumkan ke mereka kalo saya tidak memeluk agama formal, walopun di KTP (Kartu Tanda Penduduk) tertera salah satu agama pupuler. Jujur saya malas berpura2 dan ingin jadi diri sendiri.
Beberapa pertanyaan yang sempat terekam dalam memori saya diantaranya:
1. Apakah saya meyakini aliran kepercayaan tertentu, seperti Kejawen atau yang lainnya? 2. Apakah saya percaya tuhan? 3. Kenapa saya tidak beragama (pdhl sebelumya beragama)? 4. Apakah saya percaya surga-neraka? 5. Bagaimana saya berdoa?
Tulisan berikut saya gunakan untuk menjawab pertanyaan2 diatas selain itu saya nggak ingin terlibat debat/diskusi panjang melelahkan yang gak jelas lagi. Shg lain kali kalo ada yang tanya2 mengenai keyakinan saya, tinggal saya suruh buka blog ini, hehehe
. Juga dengan tulisan, konsistensi ide dan pikiran lebih bisa dijaga.
Menjawab pertanyaan2 diatas, berikut komentar saya:
1. Apakah saya meyakini aliran kepercayaan tertentu, seperti kejawen atau yang lainnya?
Saya tidak meyakini/memeluk/berafiliasi dengan aliran2 kepercayaan spt Kejawen atau yang lainnya. Saya manusia independen, tidak terikat atau bergabung dengan kelompok agama/politik/kepercayaan tertentu. Kalopun ada ide2/gagasan2/pemikiran2/kesimpulan2 saya yang sama dengan kelompok agama/kepercayaan/keyakinan tertentu maka itu kebetulan semata (hehehe sinetron banget) atau memang secara sadar saya gunakan karena saya anggap baik dan sesuai dengan ide saya. Misalnya, saya berpendapat bahwa kita, manusia tidak dapat membuktikan secara pasti (100%) bahwa Tuhan itu ada atau tidak. Eh ternyata pendapat ini kalo dalam filsafat digolongkan dalam Agnoticism dan beberapa tokoh bekennya adalah Thomas Henry Huxley, Robert G. Ingersoll, Bertrand Russel, Kopral Geddoe, dan Danalingga (hehehe). Lalu apakah saya agnotist? Ya itu terserah anda menyebutnya gimana. Yang jelas saya senang menemukan bahwa saya tidak sendiri, dan bisa belajar dari mereka yang berilmu dan lebih dulu memikirkan konsep ketuhanan. Oh ya, saya bahkan tau nama tokoh2 Agnoticism diatas juga dari wikipedia baru2 ini, yang sampe tulisan ini dibuat belum juga saya baca pemikiran2 mereka tentang Tuhan dan Agnoticism.
Pada saat itu sempat juga saya balik tanya, aliran kepercayaan itu apa to? Soalnya menurut saya agama juga merupakan aliran kepercayaan.
2. Apakah saya percaya Tuhan?
Seperti saya sebutkan diatas, saya dalam posisi netral, percaya…nggak, nggak percaya…juga nggak (Wo ra jelas!!). Eit tunggu, saya hanya manusia biasa yang penuh keterbatasan yang mencoba bersikap objektif mas, mba. Bagi saya menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada adalah sebuah spekulasi, begitu juga sebaliknya.
Pernah saya dengar dari mereka yang percaya tuhan ada, bahwa alam semesta dan isinya ini membuktikan adanya pencipta, ada ciptaan maka ada pencipta, begitu kata mereka dan sang pencipta itulah tuhan. Ok..ok..saya paham, cuma kenapa berhenti di tuhan sang pencipta alam?, gimana klo ternyata ada juga Tuhan-nya tuhan sang pencipta alam dan seterusnya?.
Mereka menjawab, tidak! tuhan sang pencipta alam itu lah yang tertinggi diatas segala2nya, dia tercipta begitu saja tanpa ada yang menciptakan, dialah sang penyebab awal.
Ok..ok..saya paham, tapi kenapa nggak berhenti di Alam saja klo gitu?, bahwa alam tercipta dengan sendirinya kemudian berevolusi.
Mereka menjawab, tidak!! itu tidak mungkin, harus ada yang menciptakan alam yakni tuhan.
Lha mereka bisa bilang tuhan ada dengan sendirinya kok saya nggak boleh bilang klo alam ada dengan sendirinya ya? sudahlah saya kalah banyak hehehe
Bagi saya tuhan adalah bagian tak terjangkau dari kehidupan saya. Eh iya tuhan disini yang saya maksud adalah tuhan yang menciptakan alam semesta bukan tuhan yang marah dan menghukum klo namanya nggak disebut2, bukan tuhan yang punya malaikat banyak untuk menghitung perbuatan baik dan buruk manusia, bukan juga tuhan yang punya musuh yang perlu dibela2 dengan senjata dan perang. Dan karena hanya alam semesta yang saya rasakan dalam hidup saya maka alam lah tuhan saya, regardless ternyata dibalik semua itu ada tuhan sang pencipta yang sebenarnya, yang jelas tuhan hadir sebagai alam semesta dalam hidup saya. Saya bisa merasaknya lewat udara yang saya hirup setiap saat, saya bisa merasakannya lewat makanan dan minuman yang keluar masuk tubuh saya tiap hari, saya bisa merasakannya datang dan pergi lewat pikiran dan emosi dalam tubuh saya. Inilah tuhan saya, alam semesta. Sedikit mengutip ucapan Einstein, “I believe in Spinoza’s God who reveals himself in the orderly harmony of what exists, not in a God who concerns himself with the fates and actions of human beings”.
Bersambung….





Agustus 17, 2007 pada 10:35 pm
ha ha ha…. aku koyo ngoco ki nang kamar…. mung bedo sithik… ha ha ha
Agustus 17, 2007 pada 10:44 pm
ohya, soal spinoza, bagi ku lebih sebagai upaya menambah cara pemhaman terhadap dunia… kapan nambah ank gil… ha ha ha
Agustus 18, 2007 pada 4:50 am
1. Apakah saya meyakini aliran kepercayaan tertentu, seperti kejawen atau yang lainnya?
Saya seorang skeptis. Segala yang ada mesti dipertanyakan. Saya tidak mencari kebenaran. Tidak ada gunanya, tidak akan ketemu. Saya hanya menikmati prosesnya, tanpa mengharapkan menemukan akhirnya.
2. Apakah saya percaya Tuhan?
Saya sendiri menganggap tidak ada gunanya misuh-misuh apakah Tuhan itu ada apa nggak, toh kita nggak ada buktinya bahwa Dia ada atau tidak ada. Boleh dikatakan sedikit ignostik. Walaupun secara filosofis saya mempercayai adanya kekuatan tertinggi, kekuatan itu bisa personal, bisa juga abstrak.
Kalau bahasa Dan Brown di Angels and Demons, “I want to believe.”
3. Kenapa saya tidak beragama (pdhl sebelumya beragama)?
Dari luar, saya beragama. Agama apabila disikapi sebagai budaya dan ritual penyucian spiritual, merupakan alat yang mujarab.
4. Apakah saya percaya surga-neraka?
Saya agnostik masalah itu. Mungkin ada kehidupan setelah kematian, tapi adanya surga-neraka literal sangat berbau fabel.
5. Bagaimana saya berdoa?
Saya tidak berdoa. Saya tidak merasa berhak mendikte Tuhan. Saya mengucapkan syukur, tapi berusaha untuk tidak meminta. Rasanya kurang ajar.
Agustus 18, 2007 pada 7:18 am
@Suluh
wah syukur nek podo, beda juga gak papa wong perbedaan tu juga anugrah Alam, sing penting saling memahami dan menghormati (halah Panca sila banget) hehehe
nambah anak? wah nanti dulu, nunggu adek dari Om Suluh
@Kopral
Wah pertanyaan no.3,4.5 udah dijawab, sip nggak usah capek2 nulis lagi
Agustus 19, 2007 pada 6:17 pm
tulisannya agak berat euyy… tapi menarik
*lirik jam di dinding yang udah larut, trus save-as*
Agustus 20, 2007 pada 2:05 pm
@Alex
Syukur ada yang bilang menarik, soalnya banyak yang gak suka, bahkan ada teman yang nggak mau salaman sama saya gara2 saya beda dengan mereka.
Salam
Agustus 20, 2007 pada 2:38 pm
*melirik kopral dengan iri*
hem…kapan saya di tokohkan juga nih? * fasis mode on *
Agustus 20, 2007 pada 7:08 pm
wew…secara goblok, saya sih nothing to lose aja sebenernya.
seperti mengkonsumsi minuman rasa cola. kalau cola itu tidak berefek apa2 buat citra saya, ya artinya nggak bakal ada masalah. tapi kalo ternyata saya jadi keliatan keren dan berkelas di mata cewek-cewek gara2 lebih sering mengkonsumsi cola ketimbang es orson 700an perak, itu bakal jadi sebuah keberuntungan yang menyenangkan.
tinggal memilih aja pengen mengkonsumsi cola pabrikan mana. apakah itu coca, rc, atau pepsi. saya pilih sesuai dengan apa yang saya anggap paling cocok buat lidah saya. dan setelah memilih, saya berusaha menjadi konsumen yang baik untuk produk cola itu
nantinya, kalo produsen cola tersebut memberi ganjaran kepada saya sebagai “konsumen yang setia” plus bonus rumah, itu bakal menyenangkan buat saya. tapi kalo ternyata semuanya cuma nothing, toh ga ada efek lanjutannya juga. nggak ada nggak rugi tapi kalo ada siapa tau dapat untung
Agustus 20, 2007 pada 7:38 pm
@ Shelling Ford
Pascal’s Wager, ya?
Setubuuuh
Melanjutkan analogi, asal jangan sampai misuh-misuh dan ribut-ribut gara-gara masalah Cola (i.e. Colanya dicibir orang banyak, atau memaksa orang untuk minum Cola yang sama).
Agustus 21, 2007 pada 4:05 am
hahahaha, kebetulan judul lainnya juga sama dengan superhero anggota x-men favoritku yang nggak pernah ditampilin di versi movie-nya: gambit!
Agustus 21, 2007 pada 4:15 am
(OOT)
Yep. Kenapa nggak ditampilkan di versi movie?
Walau sebenarnya saya lebih suka Rogue dan Jubilee.Agustus 21, 2007 pada 7:06 am
Selama ini memang sering denger banyak orang yg tidak percaya ama Tuhan, tapi baru kali inilah saya berhadapan langsung ama orangnya. Masih ga percaya aja, kok bisa ya ga percaya ma Tuhan? emang ga sadar gitu, sapa yg ngasih kehidupan dia dan segala alam semesta ini? Moso’ ujug2 sampeyan lahir mas, tanpa ada yg ngasih ruh ke dalam janinnya? It doesn’t make sense right? There must be The Creator who creates all of this. And we call The Creator is Allah SWT.
Yah, cuma bisa berdoa aja semoga Bapake Gaia diberi petunjuk-Nya, Amin.
Agustus 21, 2007 pada 4:34 pm
@Rica
mang kamu udah dengar langsung kalo Tuhan yang ngasih kehidupan itu.
Agustus 22, 2007 pada 12:50 pm
Bom Atom. KaTa Pelajaran di SMP dan Di SD di Racik Oleh Yang Namanya Einstein, Gtoooo.
Kalo Gak Ada Einstein. Adakah BOM ATOM?? Adakah Uranium Ngumpul sendiri….?? Bentuk BOM ATOM Sendiri
Kenapa Alam yang Punya Uranium Tidak Bisa Membuat BOM ATOM…??? kenapa ya….?????
PAdahal BOM ATOM Kan asalnya salah satunya dari URANIUM. Kan dari Alam JUga Tuh.
Munkinkah Pabrik Pengayakan Uranium Terjadi Karena ALAM saja Yang Membuatnya….??
Lantas, Kok aku ada titit untuk Kencing (gak sopan amat
), Fungsinya macem2 pula. Alamkah yang Buat titit saya begitu sempurna…????
Nyambung G Ya…..????
@ Danalingga
Tau Kan Rumus EMC Kuadratnya Einstien….???
Atau F = M.A , Buatan Newton. Percaya Gak Itu Buatan Beliau….???
Terus Karena Danalingga G dengar Langsung/ bertemu langsung , lantas Gak Percaya dengan Rumus Diatas….????
Kan ada namanya Buku, Bloger juga bisa, Ocehan orang Juga Bisa.
wkwkwkwkw… lucu saja, Anak Bloger Berfikir gini…..G nyangka Banget.
dah Ah…. males…… Bahas Kayak Ginian. Gak ada Ilmunya Mendingan diam….!!!!
http://belumngantuk.wordpress.com/2007/08/20/lebih-baik-diam/#comment-140
Agustus 22, 2007 pada 12:53 pm
@belon ngantuk, ya udah berhubung saya lihat ilmumu belon seberapa ya udah kamu diam aja.
Agustus 22, 2007 pada 3:25 pm
@danalingga
sudah jangan iri, sudah saya update
@Shelling Ford
Boleh juga seperti itu, kalo mas shelling nyaman dengan hanya minum cola monggo, silahkan. Bagi saya cola ato es orson sama saja, intinya air. Masalahnya banyak manusia yang ribut bilang klo cola lebih baik dan lebih enak dari es orson, juga sebaliknya, dan nggak hanya sekedar ribut lho tapi bunuh2an!. Nah bagi saya yang sbenarnya kita butuhkan adalah airnya to?, bukan colanya ato es orsonnya?.
@Kopral
ada juga sahabat saya yg memilih beragama buat jaga2, in case beneran klo setelah mati ada surga dan neraka. dan dia bilang juga klo gak ada ruginya beragama. hehehe boleh juga
@Rica
Mba dibaca lagi ya, saya gak pernah nulis klo saya gak percaya tuhan lho. saya membiarkan kesimpulan tentang adanya tuhan terbuka seperti sebuah akhir film yang tanpa kesimpulan.
@belumngantuk
Ada perbedaan besar antara ilmu pengetahuan dengan agama. ilmu pengetahuan didasarkan pada Metode Ilmiah, sehingga kesimpulan2 yg di dapat seperti hukum Newton ttg gerak (F=m.a) bisa diverifikasi kebenarannya oleh siapapun , kapanpun dan dimanapun dimuka bumi ini, hal mana sangat berbeda jika dibandingkan dengan agama yang didasarkan pada Keyakinan. Pada agama kebenaran hanya dimiliki oleh si penganut agama tersebut, benar pada agama A blm tentu benar untuk agama B, lha wong kebenaran dalam satu umat beragama saja bisa beda2 kok
Satu lagi, sebenarnya ilmu pengetahuan seperti rumus2 fisika itu diciptakan atau ditemukan? anda tau kan perbedaannya?
@danalingga
Agustus 22, 2007 pada 4:39 pm
OOOOOOOoooo Gitu Ya……
Oke Deh…..
Tq da Mampir dan Membuka Fikiran. Namun Konsep dalam agama saya sudah Final walau tanpa ilmu filsafat,
dan Saat ini telah Resmi mengundurkan Diri Sepenuhnya membahas Tentang Agama dan Keimanan, Sebelum saya terjebak dengan Alibi-Alibi Seorang Yang “pintar” dan “cerdas” Seperti Anda,
Apalagi kata Saudara kita Danalingga “ilmu belumngantuk” belum seberapa untuk mengerti Apalagi ilmu tentang Filsafat dll. Terima Kasih sudah mengingatkan.
* sedikit Komen sebelum berakhir” Perkenankan untuk mengutip sebuah rangkuman dalam link dibawah ini:
http://www.harunyahya.org/other/berpikir/berpikir4.html
Dan Hubungan IPTEK dan Agama:
http://www.harunyahya.org/m_video_detail.php?api_id=3175
Terima Kasih.
Pembahasan tentang keimanan di tutup
Agustus 23, 2007 pada 5:10 am
itu dia, mas. buat saya, ada orang yang mau minum air got pun ga masalah. selama ga maksa peminum cola buat minum air got juga
masing2 punya selera yang resikonya juga ditanggung masing2
Agustus 23, 2007 pada 5:29 am
@ belumngantuk
Wah, jangan menyamaratakan pembahasan natural dengan supranatural, atau fisika dengan metafisika
Agustus 23, 2007 pada 7:36 am
Ah pada intinya memang kamu ga percaya ma Tuhan kan Gil?
Buat danalingga — saya ga mau balik aja ke zaman jahiliyah….hare gene masih mencari Tuhan?? ahh..plis deh….
Agustus 23, 2007 pada 7:41 am
mas joyo.., benernya aku kasian mas, karna mas gak bisa ngerasain kedamaian dan kehangatan yang aku dapatkan dari ritual agama yang aku jalanin, dan dari keyakinan akan tuhan yang ada di hatiku. Bisa aja sih mas jawab, ‘jangan salah, aku ngerasa dengan ‘aliran’ ku ini (whatever mas nyebutnya) hidupku damai banget’.. Tapi mas, jauh pisan lah dengan damai yang aku rasa, sebagai umat yang beragama.
anyway, .. just curious, apa yang bikin mas joyo ujug2 switch your mind dari agama mas ‘dulu’nya.
Agustus 23, 2007 pada 7:47 am
Benar… Terlepas dari benar atau salah, ritual agama membawa kedamaian…
Btw, ada yang bilang kalau keresahan hati itu the price of knowledge
Agustus 23, 2007 pada 11:53 am
sepertinya Tuhan sudah mati yaaaaaaaaaa, baaaaaaaang (sekarang susah membedakan Tuhan dengan Hantu) salam berpikir merdeka
Agustus 23, 2007 pada 3:49 pm
@joyo
waduh kok malah ditanggapi serius keirian saya. Saya ini kan bisa di bilang sekuler juga bisa dibilang tidak sekuler.
@Rica
wah saya juga ndak pernah nyari Tuhan , emangnya Tuhan itu hilang? Plis deh ah..
Agustus 23, 2007 pada 3:51 pm
hanya sebuah prasangka saya kira.
Mang anda tahu bagaimana kedamaiannya mas joyo ?
Agustus 24, 2007 pada 3:25 am
danalingga, aku sih cuman pake ilmu cetek cetek aja.. orang hidup cari damai.. stupid aja orang hidup cari resah..
Agustus 24, 2007 pada 9:00 am
Aku bersyukur bahwa ada manusia yang menemukan yang namanya hukum SEBAB AKIBAT.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia aku percaya pasti ada penyebabnya. Apakah itu bom atom, alam dan sebagainya. Aku percaya TUHAN, dan aku BERAGAMA. Tapi Kita kembali pada bagaimana pilihan kita. Aku rasa Mas joyo juga tidak sembarang memilih tanpa ada sebabnya. Dan aku yakin juga bahwa menurut Mas Joyo itu adalah pilihan yang terbaik sampai saat ini.
Tulisan diatas adalah sebuah keberanian. SALUTE!!!
Agustus 24, 2007 pada 4:25 pm
wah…wah..wah.. mas ragil,,,
)
ati2 mas, banyak pulisi
Agustus 24, 2007 pada 4:48 pm
resah dan gelisah ku menunggu di sini *nyanyi mode on*
Agustus 24, 2007 pada 6:35 pm
@Shelling Ford
Setuju Mas, mo minoum cola, es orson, air got…itu pilihan, saya sendiri setelah mikir2 milih air putih biasa, air sumur klo orang jawa bilang. Disamping murah juga menghilangkan dahaga…so minumlah air sumur joyo (halah)
@Rica
Lha kok mba jadi maksa saya gitu, jangan maksa dong ah. Intinya saya membiarkan Tuhan ada ‘ditempatnya’ yang tidak mampu saya gapai dengan kemampuan (indra dan akal) saya.
@Foolish Game
Wah terima kasih mas/mba, saya ikut senang anda bisa menemukan kedamaian dalam ritual agama yang anda yakini. Saya juga merasa damai, tenang dan bahagia kok, dan mungkin melebihi kedamaian anda. Kok bisa? Contoh ya…suatu hari anda sedang nonton berita tentang pertikaian antar umat beragama, kebetulan agama anda sama dengan salah satu klmpk tersebut, menurut saya sebagai umat normal anda pasti marah dan emosi. Sdkn saya paling berkomentar…”kok gitu ya…?”. Betul? Anyway saya ikut senang anda merasakan kedamaian itu.
Salam
@Kopral
Jika ingin bahagia yakinlah
Jika ingin jadi murid kebenaran carilah
*lupa dulu baca dimana
@Journalx
Wah klo saya: susah membedakan tuhan dengan politikus agama
Salam
@danalingga
No comment
@Didi Purwadi
Betul mas, klo boleh milih ma saya pengen jadi orang biasa2 aj tanpa banyak nanya ini itu, sepertinya ini akibat saya lahir di hari Kamis Pahing (halah).
Salam
@Bob
Makasih mas, orang miskin di indonesia juga masih banyak,
Pengamen juga masih banyak (sambil nunjuk danalingga).
Agustus 24, 2007 pada 7:24 pm
@belumngantuk
Hati2 mas…
Soal harun yahya, anda bisa baca sedikit ulasan mengenai beliau disini
Dan saya pikir tulisan2nya hanya berisi cuplikan2 hasil penelitian orang lain, nggak original dari beliau sendiri.
Salam
Agustus 25, 2007 pada 2:28 am
setahuku betrand russel bukan agnostik tapi cenderung atheis lho gil… kalau aku sendiri apa ya? wah gak tahu deh…
http://haqiqie.wordpress.com/2007/02/28/agnotisme-benakku-di-batas-persimpangan-tuhan-dan-anti-tuhan/
Agustus 25, 2007 pada 12:46 pm
Weleh, ternyata masih banyak yang menjadikan Harun Yahya sebagai referensi, ya?
Agustus 25, 2007 pada 3:36 pm
hehehehe……….
Salut, Berani, Tegas, Dan
Cape de….!!!
Agustus 26, 2007 pada 2:42 am
komentku dimoderasi
Agustus 26, 2007 pada 2:33 pm
@TSe Men
@Suluh
Soal Bertrand Russel aku dapat quotation beliau di Wiki sebagai berikut:
– Bertrand Russell, Collected Papers, vol. 11, p. 91
Agustus 27, 2007 pada 1:45 am
as a philosopher.. he he he… nice quotation…
Agustus 28, 2007 pada 4:48 am
eh mas joyo, nanggepin dikit jawaban nya. masalah apa yang kurasa kalo denger konfilk konflik itu.. gak ada hubungannya lagee dengan kedamaian yang aku rasa dari ritualku sebagai makhluk beragama.. tapi itu rasa yang muncul dari aku sebagai makhluk sosial,.. gak tau apa yang mereka ributin.. tapi menurutku, mereka itu gak paham bener apa yang diajarkan dalam agama mereka. Agama yang kuanut mengajarkan toleransi beragama, menghargai orang yang beragama lain, gak ada pemaksaan untuk memeluk agama A, B, C or Z, lakum dinukum walyadiin. mengutip kata rendra, mereka yang suka konflik2 itu, mereka yang beragama keblinger..
danalingga… masih nyanyi lu?
Agustus 28, 2007 pada 5:46 am
masih bos, tapi dah ganti lagu cinta nih.
Agustus 28, 2007 pada 9:54 pm
@Foolish Game
wah gud klo gitu. saya setuju dan sepakat, meraka yang ribut2 itu keblinger karena agama sharusnya bawa kedamaian dan kebahagiaan.
Salam
@danalingga
lagi jatuh cinta sama ketakterhinggan ya?
Agustus 30, 2007 pada 4:25 am
Setuju tuh ama foolish game. Dimana2 agama mengajarkan kedamaian, toleransi. So, kalo ada masalah ribut2 bertengkar antar umat beragama, itu bukan karena agamanya, tapi justru karena orang2nya yg ga ngerti ajaran agamanya.
Lakum dinukum waliyadin. Untuk mu agama mu…untuk ku agamaku.
Eh tapi tuk mas joyo, untuk mu alam mu deh ^_^
Agustus 30, 2007 pada 1:34 pm
“meragukan Tuhan adalah sebuah ke sia-sia an, paling banter kita hanya bisa meragukan validitas persepsi orang lain tentang-Nya”.
kutipan dari … emm … siapa ya ?! *lupa*
Agustus 31, 2007 pada 4:43 pm
@Queen
Ya saya setuju, itu bukan salah agamanya. tapi apa ada di dunia ini yang bersifat baik tanpa campur tangan manusia atau sebaliknya bersifat buruk tanpa manusia? Agama, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi adalah alat, mereka menjadi baik dan berguna karena manusia, begitu juga sebaiknya menjadi buruk dan merusak juga karena manusia. Sebuah pensil bisa jadi alat yang mematikan klo digunakan secara salah oleh manusia. Nah pertanyaan saya, kenapa ada pertikaian agama jika benar yang diajarkan agama adalah kedamaian, toleransi dsb?
Soal alam, alam itu milik siapa saja mas/mba, nggak ada alam mu atau alam ku. Anda pasti sekarang menghirup udara yang sama dengan udara yang saya hirup kan?
@watonist
banyak lho yang nggak berhenti meragukan tuhan sampe sadar klo itu ternyata sia2, bahkan sudah tau sia2 masih juga meragukan dan mencari
Agustus 31, 2007 pada 8:44 pm
Pernyataan mas joyo menanggapi @queen bagus, saya setuju bahwa terkadang orang bersembunyi dengan berkata yang salah bukan ajaran agamanya tapi manusia yang menjalankannya. Lha kalau ternyata banyak orang yang sering salah paham akan ajaran agamanya sendiri, mungkin saja ajaran itu memang bukan diperuntukkan bagi manusia
September 1, 2007 pada 3:07 am
Contohnya Saya >>
September 4, 2007 pada 4:59 am
eh, tapi ya.. lebih banyak lagi pertikaian yang ternyata terjadi, karna mereka tidak beragama..
mungkin bukan golongan. tapi personal.. jadi gak terlalu menarik perhatian publik seperti pertikaian golongan..
orang ngebunuh, orang ngerampok, orang memperkosa, rata2 mereka gak takut berbuat salah, karna gak percaya ama yang namanya hidup setelah mati. mo gue ngapa2in didunia juga, abis mati ya wis.. that’s all..
kebayang gak, kalo semua orang berpikiran seperti itu? gak ada tanggung jawab moral?
September 4, 2007 pada 1:34 pm
kan ada hati nurani seerta hukum. Masalahnya mau nggak kita patuh.
September 4, 2007 pada 2:32 pm
Yaa, bukannya saya atheis, nih, tapi itu ‘kan wishful thinking?
Btw, itulah guna hukum positif. Dasarnya apa? Ya selain logika, tentunya budaya dan agama, misalnya.
September 6, 2007 pada 3:43 pm
@oddworld
mungkin ajaran agamnya perlu dikonstruksi ulang,biar up to date
@suluh
saya juga
@Foolish Game
Menurut saya agama itu alatnya manusia untuk hidup, pertama dibuat untuk menjawab keterasingan atas kesadaran akan eksistensinya, kedua untuk ngatur hidup manusia dengan manusia lain dan ketiga untuk ngatur hidup manusia dengan sang pencipta (klo dalam term saya alam).
Kita sama sama gak punya bukti konkrit siapa yang lebih beradab, mereka yang beragama atau meraka yang tidak beragama. Saya sendiri sampai sekarang tidak begitu jelas paham batasan antara beragama dan tidak beragama. Definisi agama yang saya baca disini juga sangat luas. Apakah mereka yang tidak memiliki konsep ketuhanan seperti Budha bisa disebut nggak beragama?Klo ya, berarti meraka yang mengamalkan ajaran Budha merupakan contoh nyata bahwa tanpa agama manusia bisa beradab dan hidup teratur.
Menurut anda para pemimpin kita yang duduk di pemerintahan dan DPR sana beragama? Lalu kenapa…? Ah anda pasti tau arah pembicaraan saya klo sudah ngomong pemerintah dan DPR kan?. Lalu anda akan kembali berkata…”itu bukan salah agamanya tapi salah orangnya, salah manusianya dalam nginterpretasi dan ngimplementasi ajaran agama”. Lalu saya akan kembali berkata…”agama itu hanya alat sama seperti pencil, yang juga bisa digunakan untuk membunuh”. Bagi saya manusia adalah inti-nya.
Klo dibilang orang ngebunuh, ngerampok, mperkosa karena nggak takut salah, saya nggak setuju mas, walopun saya nggak tau juga motivasi mereka itu apa, tapi klo menurut saya alasannya bukan takut salah, tapi karena nggak bisa ngendalikan diri. Dan saya yakin banyak diantara mereka yang melakukan itu juga beragama. Lha wong menteri agama kita yang lalu juga kena kasus korupsi… ya to? Lagi2 salah orangnya? kalo menurut saya itu karena kontrol yang nggak kuat dari mereka yang berkuasa, dan ini bisa gak ada hubungannya dengan agama. Wah kok jadi panjang gini ya…
@danalingga
Iya dan patuh terhadap hukum bisa juga jalan tanpa agama, hukumnya juga bisa hukum sekuler karena pasti lebih netral (objektif) dalam mensikapi perbedaan agama atau keyakinan yang dipeluk penduduk di negara dimana hukum tsb dijalankan.
@kopral
Betul logika dan nurani adalah processornya
September 7, 2007 pada 6:37 pm
apa gunanya sih pencipta n ciptaan??? lalu apa tujuan kita hidup???
September 8, 2007 pada 2:24 am
@beragilah
Tujuan kita hidup? Roh kita inkarnasi kebumi utk mempelajari bbrp session kehidupan yg perlu kita pelajari utk penyempurnaan pembelajaran roh kita, sehingga level kesempurnaan roh kita bisa naik dari tingkat I sampai mendekati dan akhirnya menyatu dgn Sang Sumber setelah semua jebakan karma kita terlepas …, cth roh2 tingkat tinggi spt misalnya : Sidharta Gautama, Mother Theresa, Mahatma Gandhi, Yesus, Muhammad, dll. Mereka lebih memilih mempersembahkan hidup mereka utk memperbaiki umat manusia, sambil melepaskan belitan karmik dari diri mereka.
Hal ini bisa menjelaskan kenapa ada fase kehidupan kita yg susah, menderita dan juga ada fase yg senang, semua skenario itu sudah diatur diatas di alam roh saat kita hendak reinkarnasi ke bumi, semua skenario itu harus kita jalani krn merupakan pilihan kita sendiri sblm turun dari dunia roh (sebagai salah satu metoda belajar bagi roh kita tentunya). Hal ini juga menjelaskan kenapa ada org yg bisa melihat ke masa depan, krn memang ada skenario yg sudah ditetapkan utk dialami dan dipelajari setiap roh melalui inkarnasi ke bumi.
Kesimpulan ini bukan hasil omong kosong atau imajinasi kurang kerjaan dari saya, tapi dari hasil Regresi Kehidupan Lalu oleh seorang Doktor pakar Hypnotherapist Michael Newton PhD thd 27 subjek/pasien yg datang kekliniknya.
*Dari semua paham(dalam pengertian saya tidak ada yg namanya agama), kelihatannya saya lebih cocok ke Buddhisme krn tidak mengajarkan melaknat ras lain (wong bunuh semut aja ada karmanya), tetapi mengajarkan penguasaan diri menuju kesempurnaan roh sambil melepaskan belitan karma.*
Salam kenal bung Joyo
sorry jadi curhat di sini
September 10, 2007 pada 2:06 pm
@beragilah
wah saya gak tau mas/mba, saya sendiri hidup sekedar menjalani (orang jawa bilang ‘urip kuwi mung ngelakoni’), yah sambil mencoba mengerti dan memahami mengapa dan untuk apa saya ada.
@CY
, silahkan klo mo curhat. eh iya sampai sakarang ajaran religius yang saya anggap paling rasional dan bisa dicapai kesempurnaannya oleh semua manusia ya cuma ajarannya Sidarta Gautama.
salam kenal juga
September 12, 2007 pada 2:59 am
Hohoho, entah kenapa kalau udah terjebak freethinking begini nyangkutnya ke Buddhisme, ya? Saya juga, tuh.
Soale Buddhisme lebih ke arah freethinking + agnostik + humanis…
September 12, 2007 pada 3:37 am
Buddhism bukan agnostic, agnostic mengandung arti “masih meragukan dogma-dogma yang ada.” Sedang buddhism mengkritik dan menjawab semua dogma di sekitarnya sekaligus membuahkan satu bentuk pemahaman baru akan tubuh dan alam.
Buddhism bukan “freethinking” melainkan “dharmic thinking”, yaitu pemikiran yang dibawa sesuai dharma. tapi buddhism open minded, murid boleh mendebat guru.
Saya sangat mengasihani biksu-biksu barat yang berkata bahwa buddha berkata, “saya pun boleh anda debat.” Saya menuntut adanya bukti tertulis dari sumber sah buddhism theravada, yaitu tripitaka. katakanlah bab kalamasutta, tolong tunjukkan point/ayatnya.
Seorang guru harus berkata, “saya pun boleh anda debat” tapi tak seorang buddha.
jika seorang ‘buddha’ berkata begitu, cuma menunjukkan dua hal:
1. dia belum buddha, alias dia tahu dia bisa saja salah, jadi buru-buru bilang begitu supaya dia tak malu belakangan.
2. dia belum tahu cara menyadarkan orang, padahal “kemampuan menyadarkan orang” adalah salah satu syarat yang harus ada pada orang Yang Tercerahkan.
Bagi kaum zen, seseorang seperti archimedes bisa disebut buddha karena tahu akan satu hal. Tapi pencerahan tak sebatas teriakan “ereuka” tapi pencerahan = pemahaman menyeluruh, alias Cosmic Consciousness.
Joyosan, theme dan layout situs ini cukup bagus. Tak terlalu norak.
September 12, 2007 pada 5:12 am
Hmmm….
buddhisme
Agnostik ?
Gak tahu deh
September 16, 2007 pada 3:51 pm
[...] Saya dan Tuhan 2 Sepertinya saya harus melanjutkan tulisan ini, yang masih menyisakan tiga pertanyaan yang belum saya [...]
September 17, 2007 pada 4:33 pm
@kopral
setuju, ajaran Sidarta sangat rasional, realistis, dan manusiawi
@suluh
hehehe…akhirnya bingung lagi
Oktober 16, 2007 pada 6:38 am
Nih akhirnya ketemu .. salam ketemu Gil ..
Sy coba bantu kalo yang kesulitan cari Kalama Sutta, berikut sy cuplik dari http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=705
****************
“Karena itu, warga suku Kalama, itulah yang Kumaksud dengan mengatakan, ‘Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu; atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi; atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang dikatakan di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya merupakan hasil dari suatu penelitian; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang terlihat cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.’
Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan,’ maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut.”
9. “Kesimpulannya, warga suku Kalama, ‘Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu; atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi; atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang dikatakan di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya merupakan hasil dari suatu penelitian; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang terlihat cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.’ Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,’ maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.”
*********************
Sy adalah penganut Buddha, memang sering kita mendengar antar umat beragama saling mencela, agama kamu atheis, agamu ku bukan atheis …
Semua itu muncul karena keterbatasan cara berpikir kita, atau kita menilai pihak lain dengan cara berpikir kita… coba kita ke negeri Thailand, Myanmar, Vietnam, India, Tiongkok, akan banyak dijumpai cara pemikiran yang berbeda dengan Indonesia.
Jelas sekali dalam ajaran Buddha, juga telah disinggung tentang Ketuhanan (maaf bukan Tuhan), yang didalamnya dimuat penjelasan Buddha Gotama tentang bagaimana Ketuhanan itu sendiri, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, oleh karenanya bagi umat Buddha yang ingin betul2 ingin memahami Ketuhanan, jalan satu2nya adalah mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Sang Buddha itu sendiri, spy memiliki cara pemikiran spt beliau.
Jadi sedikit penjelasan dari saya, semoga menambah wacana bahwa ajaran Buddha Gotama (dulunya Pangeran Siddharta Gautama) memiliki sendiri definisi Ketuhanan.
Salam
Oktober 16, 2007 pada 1:07 pm
@swliang
salam juga mas…
terima kasih sudah mampir, terima kasih juga link da komennya. lagi2 saya cuma bisa bilang Buddha betul. “Periksa sendiri, rasakan sendiri, sejalan dengan itu hiduplah dengan baik dan benar, berperilaku, berkata, dan berpikir yang benar maka engkau akan menemukan Kebenaran”
Oktober 20, 2007 pada 5:51 pm
::joyo salam kenal, open space….he..he…, membenarkan budhisme, sdh melihat jalan toh…ok, membingungkan pembaca, tapi menarik sebagai kajian…, mohon izin membaca ayat kedua….
Oktober 21, 2007 pada 4:47 pm
@zal
salam kenal juga mas
Ada kebenaran dalam diri setiap manusia sadar, dan salah satu manusia itu adalah Buddha. Jalan itu selalu ada mas, juga bagi mereka yang sadar
Oktober 22, 2007 pada 1:51 am
Setuju dengan Joyosan.
Februari 7, 2008 pada 6:24 pm
Mas Joyo, tak baca komennya satu-satu menarik semua…hahaha. Ada yang lucu, ada yang curhat, seru. Apalagi membaca komen-komen yang ditulis mas Dana Lingga, saya tertawa terbahak-bahak. Ternyata om Dana ini suka ngomporin juga. Tapi ngomporin dengan positif.hehe
Saya hormat kepada mas Joyo karena dengan tulus membagikan pengalamannya melalui blog ini. Mengenai keyakinan bagi saya itu adalah hak setiap orang dan setiap orang harus menghormatinya.
Salam kenal mas Joyo
Februari 8, 2008 pada 4:05 pm
@dimas
) bahwa ini loh ada yg seperti ini (yg beda), dan kami ada bukan karena rekayasa/konspirasi politik, golongan atau agama tertentu, kami ada ya sekadar ada saja. Dan kami juga manusia saja
salam kenal juga mas, soal keyakinan saya sepakat, dan blog ini adalah media ( bagi saya dan mereka yg mau baca
salam