Berbicara tentang agama, tidak lepas dari kitab pengusung agama tersebut. Hampir semua agama formal yang saya tau memiliki satu atau lebih kitab yang merupakan referensi bagi para penganutnya. Kitab2 ini bisa dikatakan blue print kehidupan bagi para penganut agama tersebut. Walaupun banyak yang tidak jelas kapan, oleh siapa dan dimana kitab2 tersebut ditulis.
Tidak saya pungkiri bahwa banyak pesan2 moral dan hidup yang baik dan positif dapat dijadikan pegangan hidup terkandung didalamnya. Namun, bagi saya kitab suci thus agama sama seperti nalar, bisa berguna dan bisa juga menyesatkan. Berguna karena spt saya sebutkan sebelumnya ia mengandung pesan2 moral positif yang bisa kita gunakan sebagai referensi dalam hidup. Menyesatkan jika kitab thus agama disakralkan sebagai satu2nya acuan hidup yang benar dan tidak bisa diutakatik.
Yah menyesatkan karena hidup yang sangat kompleks dan kontekstual, yang telah belangsung jutaan tahun dan entah kapan akan berakhir (waktu) dan secara bersamaan terjadi di semua belahan bumi (ruang) dimampatkan dalam suatu era (waktu) terbatas dan daerah (ruang) terbatas tempat kitab tsb pertama kali diucapkan/dituliskan oleh manusia2 tertentu dengan latar belakang budaya dan bahasa tertentu. Whaaaa life is not that short and small bung!!
Saya pribadi tidak rela hidup saya yang singkat ini di “paksa” mengacu pada sebuah kitab yang ditulis dimasa lalu dalam rentang waktu terbatas, oleh orang2 yang tidak pernah saya jumpai dan tidak saya kenali yang memiliki bahasa dengan latar belakang budaya yang tidak saya ketahui. Gambar berikut mengilustrasikan timeline dimana saya saat ini berada (t+21) dan saat dimana kitab tersebut ditulis dan direlease (t+7). Semua kebijaksanaan, kearifan, petuah, makna peristiwa, pesan2 moral sebelum t+7 dirangkum pada t+7, dan semua yang terjadi setelahnya hingga manusia binasa, bumi hancur, langit runtuh (bisa ya langit runtuh? hehehe) harus mengacu pada kitab yg ditulis pada t+7 tsb.
Bagi saya, kitab hidup saya adalah kesadaran saya, diluar itu saya adalah alam.






Juli 29, 2007 pada 2:07 am
nice artikel gil
Juli 29, 2007 pada 2:10 am
tak promosekke yoch mas joyo
Nggih matur nuwun mas
Juli 29, 2007 pada 4:32 am
Walah mantep nih mas joyo. *ini joyo yang sering memancing kerusuhan itu bukan ya?*
Kebetulan saya sudah membuat artikel juga mengenai apa sih kitab yang katanya suci itu, hanya menunggu saat yang tepat aja untuk release. Dan entah kenapa isinya mungkin agak searah dengan pemaparan di artikel ini. Intinya kitab hayalah sebuah kitab.
wah kok ya kayak provokator mancing kerusuhan hehe. Ok ditunggu tanggal mainnya
Juli 29, 2007 pada 7:27 am
hehehe, bakalan seru nih *gelar tikar makan camilan*
mau minum apa mas? aqua? ades? vit? ato mindy?
Juli 30, 2007 pada 1:29 am
Al-Qur’an udah memprediksi koq bahwa akan ada orang2 yang berusaha mengacuhkan, merendahkan, mengolok2, mencari2 kesalahan, pokoknya segala tindakan yang mengarah kepada pelecehan dan penistaan terhadap Al-Qur’an baik secara terang2an ataupun sembunyi2, misalnya berkedok diskusi, blog, dan artikel “ilmiah”. Akan tetapi, Yang Mahatahu telah mengabarkan bahwa segala usaha itu hanyalah berujung pada kesia2an belaka. Al-Qur’an memang diturunkan berabad2 yang lalu, tapi karena Al-Quran itu datang dari Yang Menciptakan Waktu, maka Al-Qur’an tidak bermasalah dengan zaman dan waktu. Bila ada yang mengatakan Al-Qur’an ketinggalan zaman, ingatlah siapa yang menciptakan zaman/waktu. Yang bermasalah bukan Al-Qur’annya, tapi yang keterbatasan orang itulah yang menjadi masalah. Udah terbatas, bukan menyadari keterbatasannya malah sombong dengan keterbatasannya itu merendahkan Yang Tidak Terbatas. Kalau yang dari Yang Mahatahu saja sudah dibilang kuno, ketinggalan zaman, ngga relevan, lalu apa lagi yang relevan? Mau mengandalkan logika dan filsafat yang nisbi dan penuh keterbatasan itu? Silakan kalau memang itu pilihan Anda. Sebagai sesama manusia, saya hanya berbagi pendapat dan nasihat.
Beberapa agama mungkin mengalami masalah dalam konsepnya, tapi menyamaratakan masalah tersebut ke SEMUA agama tidaklah tepat dan tidak adil.
Hi Falery, dari tulisan sampeyan, saya simpulkan sebagai berikut: 1. Al-Qur’an datang dari Yang Mahatau/Yang Menciptakan Waktu/Zaman, 2. Al-Qur’an tidak terbatas (melampaui ruang dan waktu). Atau secara singkat Al-Qur’an tidak terbatas karena datang dari Yang Mahatau.
Menurut saya untuk bisa sampai ke sini diperlukan keyakinan, yah keyakinan bahwa Yang Mahatau menciptakan Al-Qur’an dimasa lalu. Karena saya lahir dan hidup beratus2 tahun setelah Al-Qur’an di’turunkan’ cara saya memeriksa kebenaran Al-Qur’an adalah dengan bertanya, apakah Al-Quran tidak terbatas dan melampaui ruang dan waktu?
jawabannya: tidak, spt saya tulis, live is not that short and small!! hidup yang sudah berlangsung jutaan tahun dan entah kapan berakhir dan terjadi diseluruh belahan bumi secara bersamaan tidak mungkin dapat dimampatkan dalam sebuah kitab (Al-Qur’an). Thus masih relevan kah saya menyimpulkan bahwa Al-Qur’an diciptkan oleh Yang Mahatau?? Ato Yang Mahatau memang sengaja berbuat demikian?? Thus pantaskah saya menyebutnya Yang Mahatau??. Dan jujur saja selama ini saya lebih sering merujuk Wikipedia sbg referensi, eh bahkan Al-Qur’an ada juga lho di Wikipedia
Juli 30, 2007 pada 1:51 am
melu nonton
*nunggu cemilan*
Juli 30, 2007 pada 3:00 am
Ndelok bae ndhisit ya…
monggo, silahkan…
Juli 30, 2007 pada 3:17 am
agama ngga mandeg … hanya para pengikutnya aja yg mandeg … hanya “ilmu” yg bisa menyelaraskan agama dan perubahan zaman, dengan keselarasan itu maka kemandegan pun bisa dihindari …
ehmmm…jadi nya siapa yang mandeg ya? kira2 agama bisa ‘jalan’ gak ya tanpa manusia?? ato sebaliknya, manusia yang gak bisa ‘jalan’ tanpa agama?? hayo jawab yang jujur
Juli 31, 2007 pada 6:01 am
Agama kaskus gimana?
Agustus 4, 2007 pada 3:00 am
Agama bukannya candu?
Agustus 18, 2007 pada 2:53 pm
@CanonSky
agama Kaskus ki opo? hehehe
@Neo
iya candu tu enak tapi ngerusak, betul?
Agustus 20, 2007 pada 7:13 pm
ah, nggak selalu merusak, kok. saya kecanduan bal-balan, lho. badan sehat, cewek2 juga mendekat
tergantung kita melihat definisi candu itu dari arah mana
Agustus 20, 2007 pada 7:21 pm
eh, nambah, mas.
agama itu biasanya identik dengan menuhankan sesuatu. bisa aja menuhankan allah, yahweh, yesus, trimurti, uang, diego maradona, akal, alam, ataupun kehidupan, bahkan diri sendiri
jadi kira2 nyambung ga kalo saya berkesimpulan bahwa mas joyo memeluk agama alam?
dan kalo saya menganggap tuhan saya itu mahabisa, termasuk bisa memampatkan cerita tentang dunia ini dari awal sampe akhir ke dalam satu kitab, boleh kan?
ehehehehe…
Agustus 23, 2007 pada 3:35 pm
umm….ini kali pertamanya berkunjung ke blog salah satu sobat jaman abu-abu dulu. judul ini langsung saya buka….
ternyata bener, temen yg satu ini masih aja …pemberontak
=)
Agustus 23, 2007 pada 4:20 pm
Apa yang Anda katakan dalam tulisan itu adalah keterpijakan dalam sejarah. Anda melakukan hidup saat inipun berpijak dari masa lalu. Anda bisa bicara seperti inipun karena sejarah mengatakan bahwa Anda belajar membaca dan menulis. Anda bisa berbaju pun terkena acuan sejarah. Anda bermoral seperti inipun karena sejarah.
Klo kita bicara mengenai Agama, kitab-kitabnya pun tidak dogmatis, banyak penafsiran. Jika Ilmu Anda kuat, silahkan untuk ditafsirkan. Itupun telah dituliskan dalam AlQur’an (Sejarah). Jika Anda tidak mengetahui sejarah tentang eksistensi dari kitab-kitab itu, maka belajarlah sejarah, belajarlah ilmu purbakala, atau berkunjung ke asal kitab itu ditulis. Saya kawatir, Anda menulis ini dalam ‘ruangan’ yang sempit.
Ciaooo, keep mekarye Bli ….
Agustus 23, 2007 pada 4:46 pm
Assalamualaikum wr, wb
Cerdas.
Seorang web developer harus belajar dari Anda untuk meningkatkan traffic website2 klien mereka.
http://brongkol.blogspot.com
http://sleepingpharaoh.blogspot.com
http://brongkol.googlepages.com
Agustus 24, 2007 pada 4:23 am
it juz the matter of choice.. rite???
kembali ke… FREE WILL!!!!
Agustus 24, 2007 pada 8:42 am
WOW….!!!
Sebuah pemaparan yang sangat luarbiasa……
Sebuah artikel yang layak menjadi sebuah bacaan ringan…..
Dan…
Sebuah pencarian yang masih belum menemukan jawaban…..
Agustus 24, 2007 pada 7:17 pm
@Shelling Ford
Betul. Ngomong2 definisi candu tu apa ya? Setau saya candu itu sesuatu yang dikonsumsi/digunakan secara berlebihan. Apapun itu klo berlebihan pasti negatif.
@Shelling Ford
Maksudnya apa ya agama Alam?. Setau saya alam itu milik siapapun, dan apa yang saya alami dengan alam dialami juga olah manusia lain, bahkan oleh makhluk hidup lain, misalnya mengambil oksigen untuk bernapas, hanya saja proses bernapas saya lebih saya maknai.
Tuhan mas Shelling maha bisa shg bisa memampatkan cerita tentang duni jadi satu kitab? Boleh mas itu keyakinan anda, monggo silahkan.
@viarms
, salam buat Rico.
Hehehe akibat bergaul sama mu waktu smu ni
@Hendra W Saputro
Lha saya itu membebaskan diri dari sekat2 sejarah je…
Btw sampeyan mo ngomong apa to? Saya gak ngerti.
Salam
@orezbus
Salam
@phoephoet
Rite
Eh tapi saya kurang sepaham dengan konsep Free Will,
Put kok fotomu kabur?
@Didi Purwadi
Kata orang2 terdahulu jawabanya Kosong mas. Tapi saya belum nemu juga
September 4, 2007 pada 6:44 pm
kulonuwun mas dab, salam tepung
setelah mencoba memahami, kepada para pembaca sekalian (yang mungkin kurang berempati), saya coba merangkum apa yang sebenarnya mau disampaikan mas dab joyo. PURE, dia tidak berniat menggugat keyakinan, tetapi justru sebaliknya; yaitu pencarian keyakinan yang kritis:
“YA, BAHWA KITA MEMILIKI KITAB YANG MAHA AWAL HINGGA AKHIR; NAMUN NYATANYA YANG KITA SEMUA LAKUKAN SAAT INI KENAPA MASIH BERKUNJUNG KE WIKIPEDIA SEBAGAI SUMBER YANG DIJUNJUNG TINGGI”.
jadi menurut mas dab joyo, hipotesis kita = 0 (hipokrit)
ibarat kita percaya kitab suci, namun sebenarnya kita menghianatinya.
(dari cara pandang saya) itulah pemahaman kita yang mau dikritisi oleh mas dab joyo.
semoga saya salah…
buat mas dab joyo:
[BG] victory and defeat; pleasure and pain; are all the same. ACT! but don’t reflect on the fruits of the act. forget desire, seek detachment. (play)
September 4, 2007 pada 7:02 pm
katakanlah, “sekiranya lautan dijadikan tinta untuk menuliskan firman-firman tuhanku, niscaya akan habis air laut itu sebelum firman-firman tuhan habis tertulis, dan demikian juga halnya jika kami datangkan tambahan sebanyak itu lagi.” (18:109; al baqarah).
September 7, 2007 pada 7:09 pm
@bo
terimakasih atas rangkuman dan sarannya
ayat yang anda kutip itu betul sekali.
September 25, 2007 pada 2:53 pm
Ragil…my broe…how you do in Broe ?
i knew your soul it was ‘ there’
lama yah kita ngga ketemu,tapi Alhamdulillah dunia maya masih mempertemukan kita dan inipun udah bikin aku seneng walo aku ga bisa ketemu lansung sama kamu GiL
BTW kapan maen ke Bali lagi nich ? ya…kita kumpul-kumpul lah…
comment dikit about your Blog : Look at da mirror of you,saw with your heart then bring it ‘ them’ back Broe
RagiL my Broe,someday you’ll know da truth ( maaf GiL,apa yg aku tulis krn hati ku yg sedih liat blog kamu ) u’re jenius Broe
Dps.260907-22:55 wib
Wassallam
RICO
ps: salam buat keluarga
September 25, 2007 pada 3:57 pm
Apa pun yg manusia inginkan maka lakukan, menurut saya hidup hanya sekali, do what u want. Saran saya : Pelajari fakta yg ada, lalu pilih jalan hidup… dan Mr. Joyo sudah memilih, saya pun sudah memilih tapi saya masih tetap mempelajari dan bertanya-tanya apa sih rahasia dibalik ini, mengapa kepercayaan orang berbeda-beda, tapi sampai saat ini (Insya Allah sampai saya mati) saya tetap percaya pada apa yg saya pilih untuk menuntun hidup saya, gimana kalo Mr. Joyo mempelajari Al-Qur’an juga, ya mungkin bisa menemukan fakta baru, yang mungkin bisa percaya atau semakin meninggalkan Nya (hanya saran).
Yang pasti kita sama-sama butuh oksigen, so KEEP FIGHT ILLEGAL LOGGING !!!
Peace Love Unity Respect.
Best Regads,
bebe@2007
Oktober 3, 2007 pada 6:47 am
Joyo, kalo anda memang orang yang open mind…silakan baca n pelajari kitab suci yang ada…semuanya…Al quran, injil dll…..mungkin bisa membantu anda menemukan jalan hidup yang sudah pasti lebih baik…..mudah mudahan anda bisa temukan kebenaran yang sejati….or kita tunggu saja waktu ntar kita meninggal…
Oktober 3, 2007 pada 2:52 pm
@Rico
Thanks Bro, salam buat Pak Sugandha, Mami, Viar and Hemas
@Barry
Yo Bro, Save our nature Save ourself.
Thanks for the advise
@Fight
Yup saya sedang dalam proses belajar. Dan hanya satu keberatan saya terhadap agama (terutama agama Abrahamic) which is ideologi kebenaran mutlaknya. Lain dari itu agama sangat berguna dan penting untuk ngatur etika, dan moral manusia at least men-standardkan perilaku…ya klo gak disalah gunakan sama penguasa untuk melanggengkan kekuasaan dan menina bobokan rakyat kebanyakan.
April 7, 2008 pada 2:48 pm
Al Qur’an iu bukan diciptakan oleh Manusia. Ia adalah kalamullah. Bukan suatu hasil “rangkuman pengetahuan”. It’s mor than that. Mungkin teman Anda mengatakan Anda jenius. Tapi saya lebih sepakat dengan kata2 teman Anda “maaf GiL,apa yg aku tulis krn hati ku yg sedih liat blog kamu”…
Tahukah Anda kalau sejarah itu berulang? Tahukah Anda bahwa Muhammad itu Ummy (Buta huruf)? Tahukah Anda bahwa pada setelah Abad 10 orang baru membuktikan kalau Bumi itu bulat dengan melayarinya? Dapatkah Anda membayangkan ada orang mampu menyusun kata2 seperti dalam Al Qur’an, saat itu?
Bro, buka mata hatimu. Rendahkanlah sayapmu. Janganlah menjadi seperti Iblis yang bersifat “Abaa was takbar”, Enggan dan Sombong. Jangan pula menjadi seperti yang dikatakan dalam Al Qur’an “man tawalla wa kafar” orang yang berpaling dan ingkar. Al Qur’an itu… Adz Dzikr, pengingat. Janganlah menjadi golongan yang pada hari akhir nanti berkata: Ya laitanii kuntu turooba, Andaikan saya hanyalah tanah (yang tidak dimintai pertanggungjawaban). (Pertanggungjawaban, bagian dari keadilan. Rite?)

Comback bro, when there is still a time. Pharaoh salah satu contoh “keterlambatan”.
April 7, 2008 pada 2:58 pm
@jems
thanks for the advice and concern, prove me that i’m wrong, at least on this post
Juli 15, 2008 pada 6:10 am
Sya sendiri, branggapan kitab suci (wahtyu) memiliki posisi sama tinggimya dengan akal.
kunjugi blogsaya, mungkin anda bisa memebri banyak masukan akan jalan pikiran saya… eljudge.co.cc
Juli 15, 2008 pada 11:31 am
Tidak saya pungkiri bahwa banyak pesan-pesan moral dan hidup yang baik dan positif dapat di jadikan pegangan hidup <<< iya, ini tergantung bagaimana nalar anda menilai untuk memilihnya menjadi pegangan hidup anda. Kalau itu baik di jadikan pegangan hidup, kenapa harus di tinggalkan? bukankah manusia akan lebih aman bila menjalankan sesuatu yang baik?
Menyesatkan jika kitab thus agama disangkralkan sebagai satu satunya acuan yang benar dan tidak bisa di otakatik<<<kalau bisa di otak atik, ini bukan menjadi suatu kebenaran lagi bung! bahkan akan berubah menjadi kesesatan. contoh :
1. Dalam ajaran ini mengatakan: mencuri itu haram (dilarang) karena merugikan orang lain. ini sudah ajaran yang benar yng tidak bisa terotak atik. Apakah menurut anda akan menyesatkan?
wah kalau manusia ini hanya menggunakan ilmu ilmu pengetahuan sebatas pada tempatnya dan bahasanya, pengetahuan computer ini tidak mendunia, paling hanya sebatas anda dan saya hehehe canda!
Agustus 3, 2008 pada 8:57 am
aq,,, dah pindah agama 3 kali,,,tapi ,,,,,
keyakinan stiap orang beda2 ,,, tapi lw q prinsipnya gak maksa orang or ngejelekin kyakinan orang,,, cos resiko juga ditanggung sendiri,,,
lw tw gak sih,,, indonesia gak maju2 coz yang dipikiran cuma sara trus,,,
ngomong2 orang yang kayak lo joyo makin banyak aj,,, y,,,
Agustus 3, 2008 pada 9:01 am
orang yuang
kritis, logis, sok idealis, tapi egois
Agustus 4, 2008 pada 10:51 pm
@mangjudge
saya berpendapat wahyu itu bagian dari olah pikir manusia jg
@regi
mancuri itu banyak motivasinya, klo mau ditelusuri lagi bsa puanjang..
@aq aj
terima kasih atas pujiannya
anda tidak tau kan motivasi saya nulis apa, anda juga ndak tau kan apa yg saya kerjakan sehari2, btw saya nulis di blog ini rata2 cuma 3 postingan per bulan, bulan ini bahkan tidak sama sekali, so…apa yg sudah anda lakukan untuk kemjuan diri anda, keluarga anda, dan negara bangsa anda?
jangan2 anda tidak berbuat apa2 juga, bisanya kasih penilaian orang lain begni orang lain begitu…